Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 21.


__ADS_3

Aku turun dari mobil saat sampai di rumah Kak Nara, barangkali dia tahu di mana keberadaan Arin. Sebab dia dekat dengan istriku tersebut.


"Kak," panggilku.


Kening Kak Nara tampak mengerut heran. Dia sedang menyiapkan susu untuk Angkasa.


"Lho, Naro ada apa kamu ke sini?" tanyanya heran. "Wajah kamu kenapa? Kamu menangis?" cecarnya. Kakakku ini memang paling peka jika terjadi sesuatu padamu. Perasaannya sensitif dan ikatan batin yang kuat di antara kami, mengikat kami berdua sangat kuat.


"Apa Kakak melihat Arin?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Kak Nara.


"Arin?" ulangnya tampak heran mendengar pertanyaanku.


"Iya, Kak. Apa Kakak lihat Arin?" tanyaku sekali lagi dan tak sabar mendengar jawaban Kak Nara. Semoga dia tahu di mana keberadaan istriku. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padanya.


"Memangnya Arin kenapa?" tanya Kak Nara.


Aku langsung terduduk lemas di atas sofa. Mendengar pertanyaan Kak Nara, jelas dia tidak tahu di mana keberadaan istriku. Lalu ke mana Ariana pergi?


"Naro, katakan sama Kakak! Kenapa sama Arin? Memangnya dia ke mana?" cecar Kak Nara ikut duduk dan meletakkan botol dot Angkasa di atas meja.


"Arin, Kak," sahutku lirih sembari mengusar rambutku kasar.


"Arin kenapa, Naro? Jangan buat Kakak panik."


Aku tak mampu menjawab pertanyaan Kak Nara. Kuberikan amplop di tanganku pada Kak Nara.


"Apa ini?" tanya Kak Nara mengambil amplop tersebut.


Aku tak menjawab dan merebahkan tubuhku di atas sofa. Rasanya seluruh tenagaku habis terguras. Pengkhianatan Sherly dan fakta tentang Ariana. Dua masalah tersebut berhasil membuatku seperti lelaki patah hati.


"Apa?!" pekik Kak Nara terkejut. "Arin menderita kanker rahim?" tanya Kak Nara menatapku.


Aku membalas dengan anggukan. Sama halnya dengan aku yang juga terkejut ketika mengetahui hal tersebut.


"Ya Tuhan." Kak Nara menutup mulutnya tak percaya. "Lalu sekarang di mana Arin?" sambung Kak Nara lagi.


Aku menggeleng tidak tahu, jika aku mengetahui keberadaan istriku. Tidak mungkin aku datang ke sini hanya untuk sekedar bertanya?


"Ada apa, Sayang?"


Mas Bintang baru datang dari rumah sakit tampak dengan jas putih dan tas yang dia bawa.


"Mas." Kak Nara menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Mas Bintang panik dan langsung meletakkan tasnya.

__ADS_1


"Mas."


Kak Nara memeluk suaminya dengan menangis terisak. Dia pasti terluka ketika tahu kebenaran ini. Apalagi Kak Nara dan istriku memang dekat layaknya saudara.


"Sayang, ayo bilang sama aku. Kamu kenapa?" cecar Mas Bintang melepaskan pelukan istrinya.


"Arin, Mas."


"Iya, Arin kenapa?" Mas Bintang mengusap pipi basah Kak Nara. Bisa kulihat betapa dia mencintai kakakku. Setelah dulu mematahkan hati Kak Nara. Apa aku juga akan seperti itu nantinya? Tetapi apakah masih ada kesempatan untukku.


"Arin menderita kanker rahim, Mas."


*


*


Sampai di rumah mewah kedua mertuaku, aku segera turun dari mobil. Kata Auny sebelumnya Ariana dan Anggi datang ke sini bertemu mertuaku.


Aku melangkah masuk ke dalam dengan langkah lebar.


"Eh, Mas Naro," sapa Bik Suri, salah satu asisten rumah tangga di sini.


"Bik, apa ada Arin di sini?" tanyaku pada wanita paruh baya ini.


"Non Arin?" ulang Bik Suri tampak bingung dengan pertanyaanku. "Non Arin tidak ada di sini, Mas," jawab Bik Suri. "Bukannya Nona Arin tinggal sama Mas Naro? Kok tidak tahu di mana istrinya?"


"Naro."


"Om." Aku berjalan kearah mertuaku tersebut.


"Lho, tumben kamu ke sini? Ayo masuk!" ajak Om Divta.


Masih seperti dulu, kami memang dekat layaknya ayah dan anak. Apalagi aku sangat berjasa pada Om Divta yang dulu sering membantu aku dan Mama saat Kak Nara sakit.


"Ayo duduk," ucap Om Divta.


"Naro."


"Tante Tari." Aku menyalami ibu mertuaku.


"Apa kabar kamu?" tanya Tante Tari dengan senyuman hangat dan manisnya.


"Naro baik, Tante," jawabku.


"Jangan panggil Tante. Panggil Mama, kamu sering menantu Mama," pinta Tante Tari.

__ADS_1


Mataku kembali berkaca-kaca ketika mengingat hal tersebut. Aku sampai lupa tujuanku datang ke sini. Tetapi apa mereka tahu di mana keberadaan anaknya? Apa mereka tahu bahwa Ariana sekarang sedang menderita sakit?


"Bagaimana pekerjaan kamu, Son?" tanya Om Divta mengalihkan pembicaraan. Dia seperti tak mau membahas tentang Ariana.


"Baik, Om," jawabku. Aku menghela napas panjang. "Maksud kedatangan Naro ke sini ingin mencari Arin," ucapku menyambung. Tidak bisa di tunda lagi, aku benar-benar ingin bertemu istriku. Aku ingin minta maaf.


"Lho, bukannya kamu suaminya? Kenapa mencari Arin di sini?" tanya Mama Tari tampak heran dengan pertanyaanku.


"Ma, Nar_"


"Jangan bahas dia lagi. Om tidak mau mendengar apapun tentang dia," ucap Om Divta yang tampak begitu membenci Ariana. Andai dia tahu bahwa anaknya sekarang sedang tak baik-baik saja.


"Mas, jangan begitu," tegur Mama Tari sambil menggeleng.


"Apa yang salah, Sayang? Anak itu memang membuat keluarga kita malu karena perbuatannya."


Hatiku mencelos sakit mendengar ucapan papa mertua. Sekarang, aku paham bagaimana penderitaan Ariana. Dia di benci oleh keluarganya. Lalu, aku sebagai suami bukannya menjadi sayap pelindung tetapi malah membuat dia semakin menderita. Terlihat sekali bahwa Om Divta sangat membenci anaknya. Padahal Ariana juga korban, dia tidak sepenuhnya salah.


"Walau bagaimanapun dia putri kita, Mas. Tidak seharusnya Mas mengatakan hal itu tentang Arin," tukas Mama Tari tampak kecewa dengan penuturan suaminya.


"Sayang, Mas tidak mau punya anak seperti Arin. Dia sudah mencoreng nama baik Mas. Mas ini seorang abdi negara tetapi memiliki anak yang hamil di luar nikah. Kamu tahu bagaimana tanggapan orang-orang di luar sana tentang Mas?"


Kemarahan terlihat jelas di bola mata Om Divta. Dia begitu malu saat mengetahui Ariana hamil di luar nikah. Apalagi yang harus bertanggungjawab adalah aku orang yang tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut.


"Mas hanya memikirkan nama baik. Tapi apa Mas pernah memikirkan perasaan Arin?" tanya Mama Tari sambil menggelengkan kepalanya. Selama aku mengenal ibu mertuaku, baru kali ini dia tampak marah ketika mendengar ucapan Om Divta.


"Ada apa ini?"


Tampak Al dan El baru datang juga. Keduanya sama-sama bekerja sebagai abdi negara.


"Kak Naro," sapa Al duduk di sampingku.


"Al," balasku.


El ikut duduk. Keningnya tampak mengerut ketika melihat wajah ayah dan ibunya yang tampak kusut.


"Papa sama Mama kenapa?" tanya El.


"Ini masalah Arin," jawab Om Divta.


Al dan El langsung terdiam dan saling melihat satu sama lain. Padahal mereka berdua dulunya sangat menyayangi Ariana. Dan memperlakukan istriku itu dengan baik.


"Nak, apa maksud kedatangan kamu di sini?" tanya Mama Tari mengalihkan pembahasan dengan senyuman lembutnya. Walau sudah termakan usia tetapi aura kecantikan di wajahnya tak mengurangi sama sekali.


"Naro kira Arin ada di sini, Ma," jawabku dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2