Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Ending


__ADS_3

Mentari mengeliat dibalik selimut tebalnya. Dia merasakan ada benda berat yang menimpa bagian perut. Wanita itu membuka matanya, betapa dia terkejut ketika melihat wajah Divta tepat berada di depan matanya. Hampir saja wanita itu berteriak, tetapi bayangan panas mereka semalam langsung terekam jelas di kepalanya.


"Astaga, jadi semalam aku dan Mas Divta?" Mentari menutup mulutnya tak percaya.


Lalu dia menatap wajah sang suami yang masih terlelap sambil tersenyum, wajah Mentari merah merona ketika mengingat adegan panas mereka semalam. Suaminya walau masih sudah tua tetapi sangat tua. Bayangkan usia mereka terpaut 12 tahun.


"Semoga aku tidak salah pilih. Aku ingin Mas menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Semoga saja setelah ini kebahagiaan menyelimuti rumah tangga kita, Suami tuaku," ucap Mentari terkekeh mengusap wajah Divta.


Mentari bergidik ngeri ketika melihat bekas tanda kepemilikan di leher suaminya, dia tak menyangka jika dirinya pun seliar itu. Apalagi godaan Divta membuat dia seolah lupa dunia dan akhirat.


"Pagi, Sayang," sapa Divta dengan mata yang masih saja terpejam.


Mentari mendelik dan sontak menjauhkan tangannya dari sang suami. Tetapi lambat karena Divta sudah lebih dulu menangkap tangan wanita itu lalu mengecup punggung tangannya dengan sayang.


"Mas."


"Balas ucapan selamat pagi untuk Mas, Sayang," ucap Divta terkekeh.


Mentari tersenyum, "Iya selamat pagi juga Suami Tua ku," balas Mentari memutar bola matanya malas.


Divta terkekeh dengan gemes lelaki dewasa itu menghujani wajah istrinya dengan banyak ciuman. Pengalaman pertama bagi Divta bercinta dengan wanita perawan. Seorang wanita yang dia cintai, takkan Divta lupakan sampai kapan pun. Ini adalah kenikmatan yang tak bisa dia jelaskan lewat kata-kata.


"Mas, geli..." Mentari berusaha menghindari bibir Divta


"Terima kasih, Sayang," ucap Divta tulus seraya mengecup kening wanita tersebut.


Kening Mentari mengerut, "Terima kasih untuk apa, Mas?" tanyanya heran. Divta memang kadang suka aneh dan sulit ditebak.


"Terima kasih karena sudah menjaganya untukku. Cie yang sudah tidak perawan," ledek Divta tertawa lebar. Pokoknya Divta sangat bahagia. Tak sia-sia mengejar dan menunggu Mentari dengan waktu yang cukup lama. Dia mendapat hadiah yang tak ternilai.


"Semoga dia segera hadir disini, Sayang. Agar menjadi teman Al dan El," sambung Divta mengusap perut rata istrinya.


Mentari terdiam. Apakah tidak terlalu muda baginya melahirkan seorang anak? Apalagi dia masih kuliah dan belum lulus.


"Kenapa, Sayang?" Divta langsung menindih tubuh istrinya. Dia belum puas dengan permainan mereka semalam. Kalau sudah melihat bibir merah merona mirip Mentari, lelaki itu selalu tak mampu menahan diri.


"Mas..." Mentari menahan dada lelaki itu agar tak menempel padanya. Apalagi dia tak memakai apapun.


"Hem, Mas tahu kamu masih meragukan Mas," ucap Divta mengelus wajah Mentari.


Mentari menatap wajah sang suami. Dia tidak meragukan Divta tetapi dia belum yakin saja jika mereka sudah siap memiliki anak. Apalagi berbicara tentang anak masih banyak yang perlu dipersiapkan. Dia harus mengurus Al dan El serta urusan kuliahnya.


"Jangan khawatir, Sayang. Mas sudah siapkan masa depan kita. Masalah anak Mas sudah siap," jelas Divta.


Mentari terdiam, dia menghela nafas panjang. Apakah dia siap melahirkan anak? Apakah dia sanggup mengurus anaknya nanti? Dia takut gagal.


"Ahh sudah lah, jangan di bahas dulu. Doakan saja semoga kecebong Mas segera membuahi," celetuk Divta turun dari atas ranjang lalu menyimak selimut Mentari.


"Mas.."


Divta menggendong tubuh Mentari menuju kamar mandi. Keduanya tak memakai apapun. Wajah wanita itu sudah merah merona, sementara Divta tersenyum menggoda. Lelaki ini selalu suka melihat wajah merah sang istri.


"Awww," jerit Mentari saat Divta meletakkan tubuhnya.


"Sayang, kenapa?" tanya Divta panik.

__ADS_1


"Sttt, sakit Mas." Menyari mendesis kesakitan. Bagian bawahnya terasa perih.


"Sayang, maafkan Mas ya, pertama-tama memang sakit kok. Tapi nanti tidak lagi," ucap Divta merasa bersalah.


Mentari tak menanggapi ucapan suaminya. Wanita itu masih meringgis kesakitan. Seperti nya memang sobek akibat kebuasan Divta diatas ranjang.


"Sayang, tunggu disini Mas siapkan air hangat dulu," ucap Divta.


Mentari mengangguk, dia tak malu lagi walau tak memakai pakaian. Mentari tersenyum melihat suaminya yang tampak sibuk menyiapkan air panas untuk dia mandi. Mentari berharap ini adalah awal yang baik untuk dia dan Divta.


"Ayo, Sayang."


Divta mengangkat tubuh istrinya dan memasukkan nya ke dalam buth up.


"Masih sakit, Sayang?" Divta merasa bersalah. Dia tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh Mentari.


"Sedikit," jawab Mentari.


"Biar Mas yang mandikan. Sayang diam saja," ucap Divta


Divta menggosok punggung Mentari dan membersihkan tubuh wanita tersebut. Tanda kemarahan tercetak jelas di bagian dada Mentari. Suaminya benar-benar mengigit nya tanpa ampun. Bahkan lehernya sudah seperti lukisan saja.


"Mas," panggil Mentari.


"Iya Sayang, kenapa?" tanya Divta tersenyum hangat dengan tangan yang terus menggosok bagian belakang istrinya.


"Terima kasih ya, sudah sabar menunggu aku," ucap Mentari menatap suaminya serius.


"Harusnya Mas yang berterima kasih Sayang, karena Ayang sudah mau menerima duda tampan ini menjadi suamimu," celetuk Divta


"Hem, tapi kamu mencintai duda ini 'kan?!" goda Divta mengedipkan matanya jahil.


"Dih, percaya diri. Siapa juga yang mencintai Mas?" kilah Mentari memalingkan wajahnya yang sudah merah merona.


"Sayang," renggek Divta.


"Gosok gigi, Sayang.


Mentari menurut dan mengambil sikat gigi yang sudah diberikan pasta oleh Divta


Divta sama sekali tidak jijik mengurus wanita tersebut. Baginya Mentari tak hanya istri tetapi juga seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya.


Mereka mandi berdua, sesekali Divta yang jahil mencuri ciuman di bibir istri kecilnya dengan gemes. Membuat wanita itu salah tingkah karena perlakuan suaminya.


"Tunggu sebentar, Sayang."


Divta mengambil handuk lalu membungkus tubuh istrinya.


"Setiap hari kita harus mandi bersama!" seru Divta dengan senyum mengembang.


"Jangan ngadi-ngadi, Mas. Mandi yang seharusnya hanya sepuluh menit bisa setengah jam kalau sama Mas," cetus Mentari.


Bagaimana tidak, ada-ada saja kelakuan Divta supaya lama di kamar mandi.


Divta tertawa menggelora sambil mengangkat tubuh wanita itu dan keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Pagi pertama yang indah bagi pasangan penggantin tersebut. Pagi yang mereka lewati dengan penuh perasaan dan sukacita serta cinta.


Diakhir cerita banyak hal yang sebenarnya tak cukup hanya di ungkapkan lewat kata-kata. Divta dan Mentari bukan pasangan sempurna tetapi berusaha untuk saling melengkapi satu sama lain.


"Mas, apa tidak terbalik, harusnya 'kan Tari yang melayani Mas kenapa malah Mas yang melayani Tari?" tanya wanita tersebut yang memperhatikan sang suami memilih pakaian untuknya.


"Tidak ada hukumnya begitu, Sayang. Mas juga boleh melayani istri Mas sendiri.


Saat bersama Chelsea, Divta tak pernah merasakan kebahagiaan. Dia justru merasa hampa apalagi Chelsea yang tak pernah mengurusnya seperti yang Mentari lakukan padanya.


"Sini pakai dulu, Sayang."


"Mas, Tari bisa sendiri. Lagian Tari bukan anak kecil lagi," protes wanita itu mengerucutkan bibirnya.


"Kamu tetap istri kecil, Mas." Divta mencuri ciuman di bibir istrinya hingga membuat wanita yang sudah tak perawan itu kesal bukan main.


"Mas," renggek Mentari kesal.


Divta tak peduli dia memasang baju istrinya. Dia ingin menjadikan Mentari ratu dalam hidupnya. Untuk kali ini Divta tak ingin gagal lagi dalam hubungan rumah tangganya.


Setelah berpakaian rapi dan hari ini Divta masih libur karena mengambil cuti beberapa Minggu. Maklum penggantin baru inginnya selalu menempel padahal nanti juga bosan sendiri.


"Ayo, Sayang."


Keduanya keluar dari kamar dan menuju meja makan. Divta membawa Mentari tinggal bersamanya walau sebenarnya dia ingin membeli rumah baru sebagai hadiah pernikahan. Tetapi karena dirinya anak tunggal dan tidak ada yang merawat kedua orang tua nya.


"Papa. Mama."


Al dan El sudah menunggu di meja makan seperti biasa. Penggantin baru itu hari ini kesiangan akibat ulah Divta yang jahil dan meminta Mentari mengulangi permainan panas mereka di dalam kamar mandi.


"Pagi juga anak Mama," balas Mentari tersenyum hangat pada kedua anak sambungnya.


"Sayang Mama dulu dong."


Cup cup cup cup cup


Al dan El menghujani wajah Mentari dengan ciuman bertubi-tubi sehingga membuat wanita itu terkekeh geli. Divta merenggut kesal ketika melihat istri kecil nya di cium oleh kedua putranya.


"Ck, jangan cium-cium istri, Papa," sarkas Divta.


Ferdy dan Melly geleng-geleng kepala saja melihat Divta yang cemburu pada anaknya sendiri. Maklum saja karena Divta sudah lama kehilangan sosok wanita yang dia cintai dan sekali dia menemukannya dia sungguh-sungguh tak mau kehilangan cinta yang dia perjuangkan dengan susah payah tersebut.


Keluarga bahagia itu bercanda tawa dan saling berbicara di sarapan pagi yang kali ini berbeda dengan status Divta dan Mentari yang sudah menjadi sepasang suami istri. Setelah melewati perjalanan panjang yang lebih dengan air mata kini keduanya menikmati buah dari kesabaran tersebut.


T-A-M-A-T....


Hai guys makasih yang udah ikutin...


Kita move ke kisahnya Rick dan Mira yang sengaja author skip karena menyelesaikan kisahnya Divta dan Mentari...


Maksih buat kalian yang udah ikutin kisah mereka.. kalau ada sarapan dan masukkan kalian boleh coret-coret di bawah yaaa....


Sekali lagi terima kasih....


Love u banyak-banyak...

__ADS_1


__ADS_2