Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Menolak


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku duduk sambil mengaduk-aduk kopi dalam gelas ku. Entah apa maksud Mas Galvin mengajakku bertemu malam ini di sebuah cafe langganan kami.


"Ra, Mas mohon maafkan, Mas. Jangan bawa kasus ini ke pengadilan. Mas siap membiayai pengobatan Ara sampai sembuh," mohon Mas Galvin.


Ada Lusia dan ibu mertua juga disana. Wajah mereka tampak ketakutan. Siapa yang tak takut jika di ancam penjara seumur hidup karena kasus pembunuhan berencana. Untung saja tidak hukuman mati. Padahal belum juga sidang, mereka sudah ketakutan. Di mana wajah mantan ibu mertua yang dulu begitu menantang aku.


Ada Gilsha juga, adiknya Mas Galvin. Sejak dulu Gilsa juga tak menyukai ku. Alasannya, setelah menikah dengan ku Mas Galvin lebih sayang padaku dan anak-anak dari pada dia yang notabene seorang adik. Aku tak habis pikir apa yang ada dipikiran gadis seperti Gilsha, padahal dia sudah duduk dibangku kuliah dan sebentar lagi akan selesai. Harusnya dia tahu, bahwa prioritas pria menikah dengan pria single berbeda.


Jika Mas Galvin mengutamakan Gilsha daripada aku dan anak-anak bukankah hal tersebut adalah sebuah kesalahan. Tidak salah seorang kakak menyanyangi adiknya, tetapi tidak akan bisa seperti ketika dia single. Ada istri dan anak yang harus dia utamakan.


"Iya Ra, maafkan Ibu," sambung mantan ibu mertua.


"Maafkan aku juga, Mbak Ara," ucap Lusia ikut menimpali.


Aku tersenyum mengejek. Wajah sombong yang duduk menatapku sinis, kini seperti anak harimau yang takut di terkam oleh induk nya.


Ada mantan ayah mertua juga. Mantan ayah mertua ku tak banyak bicara. Seperti nya dia menyadari kesalahan istri dan anak nya.


"Apa dengan aku memaafkan kalian, Nara akan kembali berjalan?" tanya ku menatap satu persatu mereka bertiga.


Sementara Gilsha tampak menatapku tak suka. Tetapi aku tidak peduli karena aku tak memiliki urusan dengannya.

__ADS_1


"Mas Galvin akan membiayai pengobatan Nara, Mbak," jawab Gilsha mewakili.


"Berapa gaji Mas Galvin satu bulan? Apakah sampai seratus juta? sedangkan untuk melakukan terapi tidak bisa di Pontianak, harus ke Kucing dirumah sakit yang memiliki fasilitas cukup mahal," jelasku.


Nara harus melakukan beberapa terapi dan hanya bisa di rumah Timberlake, Kucing Malaysia. Biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Itulah alasan nya aku bekerja keras agar Nara bisa menjalani pengobatan disana.


"Mas sanggup membayar biaya rumah sakit Nara," jawab Mas Galvin.


"Satu miliar," ucapku cepat. Biaya yang dibutuhkan sekitar satu miliar, jika mereka sanggup mungkin aku bisa mempertimbangkan. Namun, bukan berarti mereka lolos dari hukum pidana.


Mereka semua tampak terkejut, termasuk mantan ayah mertua yang sedari tadi diam saja.


Aku tahu berapa gaji Mas Galvin sebulan. Belum lagi membayar biaya hidup dan kredit mobilnya. Tentu untuk mencari uang satu miliar itu sangat sulit.


"Ara, kamu mau memeras Galvin?" ucap mantan ibu mertua menatapku sinis, dia menaikkan satu oktaf suaranya.


"Iya Mbak, satu miliar itu bukan uang yang sedikit." Lusia ikut protes.


"Mbak sengaja 'kan mau memeras Mas Galvin," ucap Gilsha juga menatapku sinis.


Anak ini sudah tahu jika nasib ibu dan kakak nya ada ditangan ku, tetapi masih saja bertingkah seolah dia berada di pihak yang benar.


"Bagaimana Mas?" tanyaku pada Mas Galvin yang tampak syok dengan nilai uang yang kusebutkan tadi.


Jika Mas Galvin tahu bahwa gaji ku lebih besar dari gajinya, mungkin dia akan syok mendengar nilai uang yang kuterima setiap bulan. Uang itu akan aku gunakan untuk biaya berobat Nara ke luar negeri nanti.


"Ra, uang senilai itu terlalu banyak. Kamu tahu sendiri bahwa gaji Mas sangat minim belum lagi biaya hidup," keluh Mas Galvin.

__ADS_1


"Ya sudah sampai bertemu di pengadilan nanti," ucap ku dengan senyuman mengejek.


Sekalipun mereka membusuk di penjara atau bahkan menerima hukuman mati tidak akan membuat Nara kembali berjalan seperti biasa. Nara akan tetap menjadi putri kecil ku yang cacat, meski dokter mengatakan bahwa kemungkinan sembuh itu masih ada. Tetapi Nara pernah mengatakan jika kaki nya tidak merasakan apa-apa.


"Ra, tolong berikan Mas kesempatan," mohon Mas Galvin mengenggam tangan ku.


Secepat nya aku menepis tangan Mas Galvin. Aku tidak suka disentuh oleh pria yang bukan suamiku lagi.


"Jangan pegang-pegang Mas, hargai perasaan istri kamu," hardik ku.


"Kamu kasar banget sih, Ra," protes mantan ibu mertua.


"Bu, saya mau tanya sama Ibu. Dendam apa yang ibu sama saya sehingga tega menyakiti Nara dan Naro? Apa salah mereka Bu? Mereka anak-anak yang bahkan belum tahu rasa sakit," cecar ku. "Dan kamu Lusia, harusnya aku yang marah sama kamu karena kamu merebut Mas Galvin dari aku. Tetapi kenapa kamu malah menyakiti anak-anak ku. Apa kamu takut aku mengambil Mas Galvin dari kamu? Aku sama sekali tidak tertarik lagi dengan suami kamu ini," ucap ku menatap Lusia tajam.


"Ra, maafkan Ibu," ucap mantan ibu mertua.


Sementara Lusia menunduk malu. Aku benci semua orang yang ada didepan ku ini, termasuk ayah mertua yang dulunya baik. Ayah mertua juga sama seperti Mas Galvin, dia tahu perbuatan istri dan menantunya, tetapi malah diam saja seperti tak tahu apa-apa.


"Saya tidak butuh maaf, Bu. Saya hanya butuh Ibu jelaskan. Kenapa Ibu tega mencelakai cucu Ibu sendiri? Padahal Nara dan Naro adalah darah daging Mas Galvin yang artinya darah daging Ibu juga," ucap ku


Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka berlima. Dalam hidupku benar-benar menyesal pernah menikah dengan Mas Galvin, seandainya dari awal aku sudah tahu bahwa mereka adalah orang jahat, mungkin aku takkan pernah menikah dengan Mas Galvin.


Ternyata benar kata pepatah hal-hal yang dimulai dengan cara yang salah maka akan berakhir dengan cara menyakitkan. Aku dan Mas Galvin menikah karena aku hamil diluar nikah. Saking aku mencintai Mas Galvin aku rela menyerahkan keperawananku, berharap lelaki ini kelak akan menjadi suami serta ayah dari anak-anak ku. Namun ternyata hal itu hanya sebatas mimpi, meski Mas Galvin menjadi suamiku, tetapi ternyata dia telah menurihkan luka paling dalam di hatiku.


"Kalau begitu cukup sampai disini pertemuan kita. Mas Galvin persiapkan diri untuk bertemu dipengadilan," ucapku melenggang pergi.


Aku menghela nafas panjang sambil berjalan menjauh dari meja mereka. Semoga setelah ini hidupku tenang dan bisa fokus bekerja untuk mencari biaya pengobatan Nara.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2