Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Membuka hati


__ADS_3

Partikel-partikel menyakitkan dari jatuh cinta adalah ketika di paksa untuk melepaskan seseorang yang begitu di cintai. Padahal sudah di sakiti berulang kali tetapi masih saja mencintai orang yang salah. Terkadang benar kata orang-orang, kalau mau kurus cintailah orang yang salah, maka tubuhmu akan mengalami kemerosotan. Entah itu karena nafsu makan berkurang atau penyakit yang menumpuk di tubuh.


Untuk menghilangkan segala perasaan sakit dan hancur itu, aku memilih liburan. Barangkali keindahan pantai Singkawang bisa sedikit mengalahkan pikiran burukku.


"Jangan melamun, nanti kemasukan." Kak Rimba menyenggol tanganku.


Aku membalas dengan senyuman dan anggukan kaku. Bagaimana tak melamun jika saat ini keadaan rumah tanggaku tak baik-baik saja?


"Kak, apakah keputusan aku untuk berpisah dengan Mas Bintang sudah tepat?" tanyaku meminta pendapat.


Aku memutuskan untuk berpisah dengan Mas Bintang. Nanti akan ku bicarakan baik-baik dengan Daddy dan Mama serta Ayah Langit dan Bunda Senja. Aku yakin jika mereka akan memahami kondisiku saat ini. Apalagi Mama dan Bunda Senja pernah berada di posisiku dan bahkan mengalami paling menyakitkan.


Kadang aku berpikir bahwa keadaan yang aku alami saat ini seperti sudah tertakdir. Mulai dari Bunda Senja yang di khianati oleh mantan suaminya. Sampai Mama yang kala itu menerima kenyataan ketika Papa menikah dengan Tante Lusia. Sekarang, malah aku yang mengalami hal yang sama. Suamiku memang tidak menikah lagi tetapi dia berpoligami di dalam pernikahan kami dengan membawa wanita lain.


"Tidak sama sekali. Itu adalah keputusan yang tepat. Walau berat tetapi perlahan kamu akan terbiasa."


Aku mengangguk setuju. Seperti kata Kak Rimba perlahan aku akan terbiasa. Semua hanya masalah waktu yang proses.


Tak terasa mobil yang membawa kamu sudah memasuki area pantai. Saking asyiknya berbincang-bincang dengan Kak Rimba, aku bahkan sampai lupa ini pantai apa?


"Ayo."


Kami berdua turun. Suasana pantai sangat ramai, apalagi hari libur di mana banyak keluarga yang menghabiskan waktu bersama setelah aktifitas bekerja selama enam hari.


Bayanganku kembali pada 15 tahun yang lalu. Di mana kami sering menghabiskan waktu bersama Papa dan Mama. Waktu itu kami sangat bahagia dan masih utuh. Papa seseorang yang menyanyangi Mama dan memanjakan aku dan Naro. Tetapi siapa sangka justru dialah yang menciptakan luka di hati kami semua.


"Mau air kelapa?"


"Terima kasih, Kak." Aku menyambut sebuah kelapa muda yang sengaja di lubangi bagian atasnya agar dapat menyesap air di dalamnya.


Kami duduk berdua di kursi tempat orang berjualan. Ramai sekali, bahkan riuh-riuh suara manusia saling bersahutan. Tetapi kenapa aku merasakan kesepian? Apakah ini yang namanya kesepian di tengah keramaian?


"Kak," panggilku.

__ADS_1


"Iya, Ra? Kenapa?" tanya Kak Rimba meletakan air kelapa di atas meja.


"Kenapa Kakak tidak mau menikah?" tanyaku. Usia Kak Rimba 3 tahun lebih tua dariku. "Apa Kakak masih memikirkan Kak Zenia?" tanyaku.


Dia menghela nafas panjang, lalu di hembuskan perlahan. Seraya tersenyum menatap kearahku.


"Tidak! Setelah dia berkhianat semua perasaan yang ada di hati Kakak hilang entah kemana," jawabnya. "Ternyata rasa cinta itu lebih berat dari benci. Sejak pengkhianatannya, Kakak seperti mati rasa dan tidak percaya lagi dengan kata cinta."


Kata orang-orang laki-laki yang pernah patah hati karena orang yang dia cintai, akan sulit untuk jatuh cinta lagi. Bahkan ada yang memilih hidup sendiri tanpa mau terlibat dengan hubungan percintaan. Hingga tak heran jika ada yang tak mau menikah walau usia sudah memasuki dewasa.


"Apa Kakak tidak pernah jatuh cinta setelah putus dari Kak Zenia?"


Aku sengaja bertanya hal ini karena aku takut setelah perpisahan dengan Mas Bintang, aku tidak akan bisa jatuh cinta lagi dalam artian aku mati rasa seperti Kak Rimba. Tidak ada yang buruk jika memang harus menjalani kehidupan ini tanpa pasangan hanya saja sebagai wanita normal, aku tentu menginginkan kehidupan bahagia serupa wanita lainnya.


"Awalnya iya, bahkan butuh waktu bertahun-tahun sekedar untuk bisa membuka hati. Hingga akhirnya Kakak bertemu seorang perempuan yang mampu menggetarkan rasa di dalam dada. Sejak bertemu dengan perempuan itu semua perlahan berubah, Kakak yang dulu tak percaya pada kata cinta. Kini mulai bisa merasakan rasa aneh setiap kali melihat dia," jelas Kak Rimba melihatku.


Aku tersenyum mengangguk. Hebat sekali perempuan itu yang bisa membuka hati seorang Kak Rimba.


"Sangat," sahut Kak Rimba sambil terkekeh dengan tangan yang terulur mengusap kepalaku.


"Minggu depan aku akan ke kantor pengadilan, Kak. Mengurus surat cerai kami," jelasku. Aku sudah memikirkan semuanya dengan matang dan akhirnya aku menyerah setelah merasa yang aku perjuangkan adalah kesia-siaan.


"Kamu pasti bisa." Kak Rimba mengusap bahuku.


Aku membalas dengan senyuman hangat.


"Main air yuk," ajaknya.


Di bawah senja sore ini aku dan Kak Rimba menelusuri panas. Hari sudah sore sehingga sinar matahari tidak menyengat kulit. Sesekali aku menyemburkan air kearahnya lalu menghindar saat dia membalas.


Setelah dari pantai, kami lanjut ke kebun binatang. Dulu waktu kecil aku sering ke sini, sambil naik gajah lalu mengambil foto setelahnya.


"Senang?"

__ADS_1


"Senang banget, Kak. Aku puas sekali hari ini!" seruku.


"Setelah ini kita pulang ya, sudah mau malam. Udara di sini tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Kak Rimba lembut.


"Iya, Kak."


Jalan-jalan hari ini cukup membuatku puas. Termenung seraya menikmati senja di Pantai adalah sesuatu yang menyenangkan dan dapat mengusir pikiran yang berkelanana di dalam kepala.


"Besok Kakak ada meeting keluar kota dan mungkin beberapa hari. Kamu jaga diri baik-baik ya," pesan Kak Rimba.


"Lho, kemana, Kak?" Kenapa rasanya aku tak mau jauh dari Kak Rimba? Apa karena aku sudah merasa nyaman dengannya.


"Ke Bengkayang, Kakak ada beberapa proyek di sana sambil meninjau pembangunan hotel dan supermarket," jelas Kak Rimba.


"Kok lama, Kak?" protesku.


"Kenapa? Kangen?" godanya seraya terkekeh pelan.


Aku menggeleng dengan wajah polosnya. Aku tidak apakah merindukan Kak Rimba jika dia jauh. Jujur saja aku merasa sudah sangat nyaman berada di dekatnya. Jika dia lama keluar kota bukankah itu menyebalkan?


"Namanya juga menangani proyek, jelas tidak akan selesai satu hari." Kak Rimba menarik hidungku dengan gemas.


"Kakak, sakit tahu," ringgisku sembari memukul lengan Kak Rimba pelan. Dia suka sekali mencubit pipi, hidung dan mengacak rambut.


"Maaf. Maaf, sakit ya." Dia mengusap hidungku.


"Tahu ah, aku ngambek. Kakak sudah sekali menarik hidungku," ketusku melipat kedua tangan di dada karena kesal.


Kak Rimba hanya tersenyum, lalu dia menarik kepalaku agar bersandar di bahunya. Awalnya aku menolak tetapi dia malah menahan kepalaku.


"Aku mencintaimu, Nara."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2