
POV Nara
Sebab jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata; terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan bibir ini pada tatap matanya, pada rentang lenganmu, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah berusaha patah mengutuk waktu menahanmu dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya kusimpulkan sebagai rindu.
"Kakak sudah berapa kali bilang sama kamu, jangan pernah dekati Bintang lagi. Walau alasan apapun," ucap Kak Rimba sedikit membentakku.
Aku menggeleng tak percaya melihat lelaki yang ada di depanku ini. Tatapan cinta yang dulu kulihat jelas di bola matanya kini berubah menjadi sesuatu yang semu.
"Kakak melarang aku dekat sama Mas Bintang, lalu apa kabar Kakak yang lebih mengutamakan Kak Putri di banding aku?" tanyaku dengan tatapan mata kecewa.
Terkadang tak jauh leset apa yang di katakan orang-orang. Laki-laki akan berjuang setengah mati sebelum mendapatkan wanita tersebut. Tetapi setelah sudah dapat, dia malah menganggap hal tersebut sepele.
"Ra, harusnya kamu paham. Anak Putri butuh aku di sampingnya. Putri tidak punya siapa-siapa. Aku tidak tega melihatnya."
Berawal dari rasa kasihan, akan tumbuh benih-benih cinta. Apalagi Kak Rimba dan Kak Putri mantan kekasih yang terpisah karena sebuah pengkhianatan.
"Kakak lebih peduli sama Kak Putri daripad aku. Apa Kakak melarang aku melakukan ini dan itu tetapi Kakak boleh jalan sama siapa saja tanpa memikirkan perasaan aku." Sambil kutunjuk bagian dadaku yang sakit dan perih.
Beberapa hal di dunia ini terkadang terlihat lucu dan terasa lucu. Bisa jadi hari ini seseorang jatuh cinta pada kekasihnya. Mulai merasakan nyaman dan membuat berbagai rencana. Semua berjalan dengan seharusnya. Bekerja lebih giat. Sebab kadang harus tahu ada tanggungjawab yang lebih berat. Namun, siapa menduga, hal yang dengan sungguh-sungguh di perjuangkan. Ternyata sama sekali tidak melakukan hal yang sama. Malah, dilepas, dikuras, dimanfaatkan begitu saja. Kemudian, seseorang yang di sebut cinta. Malah menunjukan sifat aslinya seakan meminta pergi perlahan. Begitulah sekarang yang aku rasakan, saat Kak Rimba mengatakan mencintaiku kupikir itu adalah sebuah ketulusan tetapi setelah waktu berjalan perlahan semua berubah.
"Ra, aku mohon jangan bahas ini. Aku minta kamu mengerti. Aku tidak ada maksud apa-apa selain rasa kasihan sama Putri karena dia tidak punya suami. Suaminya selingkuh dan pergi bersama wanita lain. Aku tidak tega melihat anaknya yang masih kecil dan harus menanggung sakit," jelas Kak Rimba berusaha memberi pengertian padaku.
Jika hanya sesekali mungkin aku bisa memahami. Tetapi jika setiap hari seperti ini. Bagaimana aku bisa paham? Bagaimana aku bisa mengerti? Setiap kali kami bersama, Putri selalu menelepon dan meminta Kak Rimba datang ke rumah sakit. Aku heran, dulu sebelum bertemu kembali dengan Kak Rimba siapa yang dia repotkan untuk membantu perawatan anaknya.
"Aku sayang sama kamu. Aku tidak mau kita bertengkar seperti ini. Aku mohon mengertilah." Kak Rimba menangkup kedua tangannya di dada.
__ADS_1
Bahkan Kak Rimba tidak lagi menyebut dirinya kakak. Biasanya semarah apapun dia saat kami bertengkar dia akan bersikap lembut.
"Putri butuh aku. Anaknya kekurangan banyak darah. Aku harus cari pendonor darah langka itu."
Entahlah, apakah cinta atau sekedar pelampiasan, apa aku memang salah karena terlalu cepat membuka diri pada laki-laki lain? Padahal aku sudah berjanji akan menutup seluruh hatiku jika ada orang baru yang berusaha mendekat.
"Maaf."
Kak Rimba menarik aku ke dalam pelukannya. Aku tak membalas apalagi menolak, kubiarkan saja lelaki ini memelukku. Entalah, jika dulu aku merasakan hangat dan nyaman ketika berada di dekatnya tetapi sekarang aku malah merasakan kehampaan dan kekosongan?
"Kakak cinta sama kamu, Ra. Kakak tidak mau kamu salah paham. Kakak tidak ada niat apa-apa sama Putri selain menolong," jelasnya sambil mengusap kepalaku yang bersandar di dadanya.
Kupejamkan mata sejenak meresapi segala rasa sakit yang menjalar masuk ke dalam sana. Setiap denyut nadiku seperti berhenti ketika mengingat semua hal yang sungguh menyakitkan dan tak bisa kuungkapkan lewat kata-kata. Jari-jari tanganku mengepal kuat. Aku pernah berpikir jika Kak Rimba adalah sosok yang akan menjadi tempat ternyaman untuk aku pulang tetapi nyatanya semua hanyalah khayalan sejenak.
Wanita mana yang tak sakit hati ketika melihat kekasihnya lebih peduli pada temannya daripada kekasih sendiri. Tak hanya itu perlakukan Kak Rimba pada Putri juga berbeda. Walau aku punya orang yang bisa membaca pikiran tetapi aku tahu bahwa mereka masih saling mencintai satu sama lain. Jika tidak, mana mungkin Kak Rimba akan peduli pada Putri padahal sudah di sakiti berulang kali.
Kak Rimba melepaskan pelukannya lalu mengusap pipiku yang basah karena air mata.
"Maaf sudah membuat kamu menangis. Kakak bersalah. Maaf, Nara," ucapnya terbata. Hanya kata maaf tanpa penyesalan apalagi memperbaiki semuanya, bukankah hal tersebut percuma.
Sejak memilihnya aku belajar untuk percaya. Meski banyak hal yang terkadang mencoba membuat ragu. Namun, aku paham aku sudah menempatkannya menjadi orang terpenting dalam hidupku. Seseorang yang sedang belajar kucintai. Seseorang yang kupaham tak sempurna, tetapi selalu berusaha memperbaiki diri. Aku percaya dalam hati terdalamnya belum sepenuhnya milikku. Sama seperti aku yang belum bisa sepenuhnya menaruh perasaan padanya secara utuh.
"Setelah semua masalah selesai, aku akan menikahimu dan kita akan hidup bahagia."
Entah kenapa aku tak merasakan kebahagiaan sedikitpun saat mendengar ucapannya tersebut. Semua terasa kosong, hampa dan tak ada rasa apa-apa.
__ADS_1
"Iya sudah, kamu mau makan apa. Atau kita ke caffe?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Ke cafe saja," jawabku.
Aku tak tahu bagaimana jalan hubungan kami nantinya. Dia selalu melarangku ini dan itu. Bahkan saat aku datang ke kantor polisi saat sidang pidana Dokter Ikmal kami sempat berdebat hebat dan kata-kata kasar Kak Rimba keluar. Namun, ketika dia lebih peduli pada Putri aku tidak di perbolehkan marah. Apa maunya?
Dia kembali menjalankan mobilnya dengan tangan kanan yang mengenggam tanganku. Sesekali dia kecup punggung tanganku.
"Bulan depan Papa sama Mama mau ketemu kamu. Kamu siap-siap ya. Mereka akan datang ke sini," ucapnya.
Aku membalas dengan anggukan. Mau siapapun yang datang aku bahkan sudah tak peduli. Bagiku semua hal adalah percuma. Untuk apa percaya pada kata-kata kosong yang sulit di percaya.
Tiba-tiba terhenti saat sebuah panggilan telepon masuk dan membuat ponselnya berdering.
"Tunggu sebentar. Kakak angkat telepon dulu."
Aku membalas dengan anggukan. Aku sedang tidak ingin berbicara pada siapapun.
Terdengar helaan nafas panjang saat dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Ada apa, Kak?"
"Ra, maaf ya. Sepertinya Kakak harus ke rumah sakit lagi. Kondisi anaknya Putri masih belum stabil dan tadi sempat kejang-kejang."
Bersambung....
__ADS_1