
Acara di mulai tampak beberapa tamu yang di undang oleh Dona berdatangan memenuhi rumah mewah tersebut.
Audrey memeluk lengan Divta dengan posesif apalagi ketika dirinya di puji cantik dan sangat cocok dengan lelaki itu, semakin membuatnya menjadi. Dokter cantik dengan tubuh seksi tersebut merasa bahwa dirinya pantas bersanding dengan pria sempurna seperti Divta.
"Wah, kapan acara pertunangan Divta dan Audrey?" tanya yang lain.
"Doakan saja segera, Jeng," sahut Melly tersenyum sumringah.
Sementara Divta sama sekali tak menanggapi, andai saja tidak banyak orang di sini sudah pasti dia akan menyingkirkan tubuh Audrey. Jujur saja dirinya merasa risih dan tak nyaman, apalagi banyak orang yang melihat mereka. Dan tatapan Divta tertuju pada Mentari yang menunduk saja dengan tangan Rein yang melingkar di pinggangnya.
"Mereka benar-benar cocok." Komentar yang lain.
Dona dan Melly tersenyum ketika mendengar pujian dari para teman-teman dan sahabat mereka. Tentu sebagai orang tua, keduanya ingin anak mereka segera melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebihs serius.
"Doakan saja yang terbaik, Tante," jawab Audrey tersenyum kesem-kesem, seperti anak perawan yang mau malam pertama.
"Amin, pasti Tante doakan Audrey," sahut yang lainnya.
"Ini baru pasangan yang cocok, TNI AL dengan seorang dokter," sambung Melly melirik kearah Mentari dengan senyuman sinis dan mengejek.
"Benar, Jeng. Benar-benar sangat cocok dan saya suka sekali melihat mereka berdua. Semoga jodoh ya," sahut Bu Lasmi, salah satu relawan kedokteran yang sudah pensiun di usia senjanya.
Mentari meremes ujung gaun yang dia pakai. Keringat dingin mengucur di dahi gadis tersebut. Sekuat hati dia menahan segala sesak yang serasa menyeruak dan menyelip masuk ke dalam dadanya. Sadar diri, mereka cinta beda kasta. Ingin sekali Mentari berteriak, apakah gadis miskin tidak cocok dengan pria kaya.
Divta melepaskan tangan Audrey dengan paksa dari lengannya. Mulai tak tahan dengan wanita yang agresif itu.
"Lepaskan!" sentak Divta.
"Divta," tegur Melly. Semua orang melihat kearah Divta yang tampak marah.
__ADS_1
"Awww," rintih Audrey seolah tersakiti oleh Divta.
"Kamu apa-apaan sih Divta?!" hardik Melly mengusap tangan Audrey.
"Tari, ayo pulang." Lelaki itu menarik tangan Mentari.
"Maaf, kenapa Anda ingin mengajak Mentari pulang?" Rein menahan tangan kiri Mentari. Sedangkan tangan kanan gadis itu di cengkram oleh Divta.
"Ini bukan urusan kamu," sahut Divta menatap Rein dingin.
"Tentu urusan saya karena saya yang membawa Mentari kesini."
Para tamu yang lain berbisik-bisik ketika Divta dan Rein memperebutkan Mentari. Sedangkan yang di perebutkan jadi bingung harus memilih siapa? Apalagi kedua lelaki itu terus menarik tangannya.
"Lepaskan!" hardik Divta menepis tangan Mentari. "Jangan pernah ganggu dia lagi, karena dia adalah kekasih saya."
Deg
Keduanya tak terlihat sebagai sepasang kekasih, tetapi malah seperti ayah dan anak.
"Masuk!"
Mentari masuk smabil menangis, gadis itu duduk di dalam mobil dan memalingkan wajahnya ke sembarangan arah. Bagaimanapun dia manusia biasa yang memiliki perasaan. Saat Melly mengatakan hal seperti itu tadi, dia semakin merasa tidak pantas berdiri di samping Divta.
Dirinya hanya gadis kampung dan mahasiswi semester 3. Sedangkan Divta seorang abdi negara yang bahkan sudah mendapatkan jabatan kapten. Tentu saja pertentangan konflik dan pendapat antara orang tua Divta dan Mentari terlihat jelas.
"Maaf." Divta melirik gadis itu. "Jangan di masukkin dalam hati kata-kata Mama." Dia mengenggam tangan gadis itu.
"Apa yang Ibu bilang benar, Mas," sahut Mentari melihat lelaki tersebut dengan simbahan air mata. "Kita beda kasta, Mas. Aku dan Mas bukan orang yang pantas bersanding bersama," jelas Mentari. Sial, air matanya tak berhenti menetes.
__ADS_1
Ini pertama kali dalam hidupnya merasakan jatuh cinta tetapi satu kenyataan pahit malah menyadarkan dia bahkan perasaannya saat ini memang membuatnya seperti wanita tak berdaya.
"Tari, jangan bicara seperti itu. Siapapun kamu Mas tidak peduli. Mas cinta sama kamu. Mas ingin kita berjuang bersama," ucap Divta penuh harap. Tangan yang satu dia gunakan untuk menyetir.
"Mas." Mentari mengenggam tangan Divta dan menyatukan tangan mereka berdua.
"Kenapa, Sayang?" tanya Divta lembut. Lelaki itu menepikan mobilnya dan ingin fokus berbicara dengan Mentari.
"Apa sebaiknya kita berpisah saja?"
Deg
Tatapan Divta lekat menatap wajah Mentari. Ini bukan pertama kalinya gadis ini meminta berpisah dengannya, apa Mentari sungguh tak mau berjuang bersama.
"Kau tidak mencintai, Mas?" Divta menatap bola mata Mentari yang selalu mampu meneduhkan hatinya.
"Aku sangat mencintaimu, Mas. Tapi aku sadar bahwa kita tidak mungkin bersama. Aku tidak mau gara-gara aku Mas bertengkar sama Ibu. Aku tidak mau gara-gara aku hubungan Mas dan Ibu jadi renggang," ungkap Mentari. Jika boleh jujur cintanya pada Divta sangat besar. Jangankan berpisah dengan lelaki ini, tak melihat Divta sehari saja pikirannya sudah kacau balau. Entah apa yang membuatnya tak bisa lepas dari pesona dan sosok seorang Divta yang begitu memikat hati serta perasaan yang menggebu-gebu di dalam dada.
"Jika begitu, jangan menyerah, Sayang. Ayo kita berjuang bersama. Jangan katakan pisah lagi, Mas tidak sanggup kehilangan kamu. Kita berdua bisa melewati ini. Mas yakin restu akan turun kita sabar menunggu satu sama lain. Mas akan perjuangankan kamu." Divta meletakkan tangannya di pipi Mentari sambil mengusap wajah lembut gadis ini.
"Mas." Mentari mengenggam tangan Divta yang ada di wajahnya. "Tapi aku tidak mau hubungan Mas sama orang tua Mas jadi renggang karena aku," sahut Mentari.
"Mas bisa hadapi itu, Sayang. Jangan takut. Selama kamu berada di samping, Mas. Semua akan baik-baik saja. Mas bisa lewati apapun."
Mentari terdiam dan melihat kesungguhan di wajah Divta. Apakah dia harus menyerah lalu pergi? Atau berjuang bersama Divta hingga di restui? Walau kemungkinan untuk di restui itu sangat kecil karena terlihat jika Melly tak menyukai dirinya.
"Mas ingin hidup bersama kamu selamanya. Mas ingin menikahi kamu dan kita bahagia bersama Al dan El," sambung Divta lagi yang masih mengusap wajah Mentari.
Bersambung....
__ADS_1