
"Jadi selama ini Kakak hamil anaknya Mas Angga? Kenapa Kakak tidak pernah ceritanya?" cecar Anggi dengan tatapan wajah kecewanya.
Aku sudah pasrah jika kali ini Anggi juga ikut membenci aku. Bukankah aku memang wanita yang murahan dan seorang pelacur? Jadi aku memang pantas menerima caci maki dan hinaan dari orang-orang dan keluargaku.
Mungkin penyakit yang saat ini aku derita, akan membawa aku pada tidur panjang yang entah kapan bangun? Aku lelah, aku ingin menyerah. Tetapi bagaimana bayiku, dia akan terluka jika ibunya sendiri tidak berusaha memperjuangkan hidup.
Aku menunduk dengan linangan air mata yang menetes di pipiku. Aku tidak pernah menyesal ketika hamil di luar nikah walau semua orang menatap aku rendahan. Kehadiran janin dalam kandunganku adalah bukti bahwa aku manusia berdosa. Tetapi aku tidak menyesali hadirnya, aku ingin dia hidup baik-baik saja.
"Maaf, Nggi." Aku menunduk malu.
Biarlah bagaimana tanggapan Anggi terhadap bayi dalam kandunganku. Tak apa orang mencaci maki serta mengatakan hal-hal yang kotor tentangku, aku memang pantas. Selagi anakku sehat aku siap menderita.
"Apa Mas Angga tahu tentang kehamilan, Kakak?" Anggi menatapku Serius.
Aku mengangguk, "Itulah sebabnya kami menikah. Tetapi Mas Angga justru pergi." Air mata yang berlinang menandakan luka di hatiku terkoyak dengan lebar.
Terdengar helaan napas dari mulut Anggi ketika mendengar pengakuanku.
"Kamu pasti menganggap Kakak murahan 'kan, Nggi?" Aku menatap bola mata Anggi. Aku tahu dia kecewa dan marah karena menyembunyikan fakta tersebut.
Anggi mengenggam tanganku. Dia tersenyum lebar dengan tangan yang berada di wajahku.
"Kak, Anggi tidak membenci Kakak. Bahkan Anggi senang karena Kakak mengandung anak Mas Angga. Jadi, Kakak tidak perlu sedih," ucap Anggi.
Air mata haruku luruh begitu saja. Saat semua orang mengintrogasi dan membenciku, tetapi Anggi menerima aku apa adanya.
"Anggi, Kakak minta maaf."
Anggi merengkuh tubuh lemasku dengan lembut. Dia usap punggungku dengan lembut serta menyalurkan kekuatan padaku.
__ADS_1
"Anggi sayang sama Kakak. Jangan bilang begitu, Kak. Semua orang pernah bersalah dan semua orang selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Maafkan Anggi ya, Kak. Kalau selama ini Anggi sudah mengabaikan Kakak," ucap Anggi tulus.
Aku membalas pelukan Anggi dengan erat lalu menangis sepuasnya dan meluapkan semua rasa sakit yang menyeruak masuk ke dalam dadaku. Sakit, hancur dan berantakan. Tetapi aku bersyukur masih ada orang peduli padaku.
"Anggi akan menjaga Kakak," ucap Anggi lagi.
"Terima kasih, Nggi."
Menangis memang tidak menyelesaikan masalah tetapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada.
"Kak." Anggi melepaskan pelukannya.
"Iya, Nggi." Kuseka air mataku dengan kasar. Pipi basah menandakan bahwa luka yang ada di hatiku basah karena air mata tersebut.
"Apa Kakak bahagia bersama Kak Naro? Apa Kak Naro menerima bayi dalam kandungan Kakak?" cecar Anggi.
"Anggi."
"Kakak bahagia, Nggi. Kamu tidak perlu khawatir," sangkalku. Ini adalah jalan terbaik dengan mengatakan bahwa aku baik-baik saja dengan pernikahan kami.
"Kakak yakin?" Anggi menatapku penuh selidik.
Ingin sekali kukatakan bahwa aku tak bahagia dengan pernikahanku. Tetapi apa daya jika aku tak memiliki banyak keuatak untuk mengatakan apa yang ada di dipikiranku.
"Iya sudah. Jangan sedih lagi," ucap Anggi menenangkan.
"Iya, Nggi."
"Kakak ikut Anggi ya. Ada yang ingin Anggi tunjukan pada Kakak." Anggi memeluk lenganku dengan manja.
__ADS_1
"Apa, Nggi?" Keningku mengerut heran.
"Nanti juga Kakak tahu."
Kami berdua turun dari mobil. Aku menatap bangunan mewah di tanganku. Sudah lama sekali aku tidak datang ke rumah mewah ini. Rumah yang sempat menjadi salah satu saksi perjalanan cintaku dan Mas Angga. Bahkan rumah ini memang di beli khusus sebagai hadiah pernikahan kami. Namun, siapa sangka malah takdir mempermainkan kami masing-masing.
"Anggi." Mataku berkaca-kaca.
"Kakak masih ingat rumah ini?"
Bagaimana aku tak ingat, rumah ini telah menyimpan banyak kenangan yang takkan bisa aku lupakan dalam ruang dan waktu?
"Tentu saja."
"Ayo masuk, Kak." Anggi menggandeng tanganku agar masuk.
Kami berdua masuk ke dalam sana. Netra mataku menangkap fatamorgana keindahan rumah mewah tersebut. Dulu, aku sudah merancang mimpi tentang angan-angan bersama Mas Angga.
Kami masuk ke dalam sebuah kamar mewah.
"Nggi, kenapa kita masuk di sini?" tanyaku heran.
"Kakak akan tahu nanti nya," sahut Anggi.
Kami terus berjalan masuk. Hingga tatapanku terhenti ada seseorang yang terbaring di atas ranjang dengan alat-alat medis yang menempel di bagian tubuhnya.
Seluruh tubuhku seketika membeku. Aliran darah seolah berhenti mengalir. Waktu terhenti sejenak. Apa aku tidak salah lihat apa sebenarnya yang telah terjadi?
"Mas Angga."
__ADS_1
Bersambung...