Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Gadis aneh


__ADS_3

Setelah hujan usai, daun-daun akan kembali mencoba bangkit dari terpaan badai dan hempasan air. Dan matahari tidak lelah kembali menyinari. Dalam hidup ini selalu ada penguat.


Pada saatnya, kedepan selalu digantikan dengan kesiapan. Tidak ada yang membuat hati ini merasa tenang dan nyaman selalu akan ada kekhawatiran ketika menghadapi hal-hal yang telah terjadi di luar dugaan. Entah sampai kapan semua perasaan ini akan kembali membaik seperti semula. Melepaskan Nara seperti membiarkan jiwaku di bawa pergi dan meninggalkan raga.


"Tidak usah melamun, Om. Nanti kemasukan lho. Pasti lagi mikirin istrinya 'kan?"


Aku mendelik. Bagaimana bisa gadis ini menebak dengan tepat bahwa aku memang sedang memikirkan mantan istriku itu?


"Lagi berantem ya, Om? Berantem itu biasa. Jangankan yang menikah yang pacaran saja masih suka berantem padahal belum sah," jelas gadis di sampingku.


"Ehem." Aku membalas dengan deheman.


Seketika gadis yang berisik di sampingku ini terdiam. Dia juga tampak melamun sembari mengusap lengannya yang memang sedikit memar dan luka karena ku tabrak tadi.


"Kenapa diam?" tanyaku.


"Lagi mikirin mesin cuci, Om," jawabnya.


Aku mendelik mendengar ucapan gadis tersebut. Memikirkan mesin cuci-nya kenapa sampai melamun seperti itu?


"Kenapa di pikirin?" tanyaku tak habis pikir.


"Mesin cuci-nya rusak," jawab gadis itu.


Mobil yang ku kendarai memasuki lobby rumah sakit. Aku segera turun duluan membuka pintu untuk gadis itu. Bagaimanapun ini adalah bentuk tanggungjawabku karena tidak sengaja menabraknya tadi.


"Bisa jalan sendiri?"


"Bisalah, Om pikir Ve gadis lemah?" Dia memincingkan matanya kearahku.


Aku bahkan tidak memikirkan hal tersebut tetapi gadis ini main tebak-tebak saja.


Dia berjalan pelan dan tertatih seraya memegang lututnya yang sakit. Aku berjalan cepat menghampiri gadis itu lalu mengangkat tubuhnya seperti tadi.


"Om."


"Diam!" Aku menatap gadis ini tajam. Sebab waktuku habis mengurus dirinya.


Sontak saja gadis itu terdiam dengan seribu bahasa. Aku membawanya masuk ke ruangan UGD. Semua mata menatap aku aneh, pasti ada yang berpikir lain tentangku. Baru saja bercerai dengan istrinya tetapi sudah menggandeng gadis muda, aku yakin pemikiran mereka seperti itu.

__ADS_1


"Sus, tolong obati dia!" perintahku sambil meletakan gadis itu dengan pelan di atas brangkar.


"Baik, Dok," jawab Stella, perawat yang bertugas di ruang UGD.


"Biar saya obati ya, Mbak," ucap Stella lembut.


"Ck, mbak, mbak. Kakak pikir aku setua itu harus di panggil mbak. Panggil saja Ve, Kak," protesnya.


Aku menyembunyikan senyumku sambil menggelengkan kepala. Gadis ini memang terlihat masih muda bahkan lebih muda dari Bee. Usianya belasan tahun karena dia masih memakai seragam SMA.


"Baiklah, Ve," ucap Stella mengalah.


Aku diam saja sambil menunggu Stella membersihkan luka gadis yang belum ku tanya siapa namanya itu. Menurutku dia sedikit aneh dan berisik tetapi bagaimanapun dia terluka karena aku dan aku harus bertanggungjawab karena sudah menyebabkan luka di bagian kaki dan tangannya.


"Aw, Kak. Pelan-pelan, sakit tahu," protesnya.


"Iya, Ve. Maaf," sahut Stella.


Aku geleng-geleng kepala. Harusnya Ve hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja mengobati luka gadis itu. Tetapi karena dirinya yang kebanyakan protes sehingga memakan waktu lama.


Setelah lama berdrama membersihkan luka gadis tersebut, aku menghela nafas panjang karena akhirnya selesai.


"Dia tidak akan infeksi 'kan, Kak?"


"Tidak, Ve. Ini hanya tergores saja," ucap Stella tersenyum hangat.


"Iya sudah, Sus. Terima kasih," sahutku.


"Sudah bisa jalan sendiri?" Aku menatap gadis itu.


"Bisa, Om," jawabnya hendak turun dari ranjang.


"Setelah ini kamu mau ke sekolah?" tebakku.


"Tadinya sih iya. Tapi sepertinya Ve sudah tidak mood mau belajar," jawabnya ketus.


Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Kuhela nafas sepanjang mungkin lalu ku hembuskan perlahan.


"Biar saya antar pulang," tawarku.

__ADS_1


"Tidak perlu. Ve bisa pulang sendiri," tolaknya ketus.


"Bagaimana kalau kamu istirahat dulu di ruangan saya. Nanti jam makan siang biar saya antar kamu ke rumah. Anggap saja ini sebagai pertanggungjawaban saya karena sudah membuat kamu terluka?" saranku.


"Dih, ruangan apa? Memangnya Om punya ruangan di rumah sakit ini?" tanyanya memincingkan matanya curiga kearahku. Dia belum tahu jika aku seorang dokter.


"Iya saya punya ruangan di sini," jawabku.


Dia tampak berpikir sejenak. Sebenarnya aku tak ingin menghabiskan waktu dengan gadis yang tidak aku kenal. Tetapi sebagai pria bertanggungjawab yang tidak mau menjilat ludahku sendiri, aku memutuskan membawanya menunggu di ruanganku.


"Baiklah," jawabnya mengalah.


"Iya sudah, ayo."


Aku memapahnya masuk ke dalam ruangan ku. Pekerjaanku menumpuk dan sangat banyak. Sejak mengurus siang perceraianku dengan Nara banyak yang terbelangkalai.


"Kamu duduk dan istirahat di sini." Aku membantunya duduk di sofa.


"Om, dokter?" tebaknya. "Dokter Bintang Langit Angkasa?" sambungnya melihat papan nama yang terletak di atas meja. "Direktur rumah sakit Husada Hospital?" tuturnya lagi.


Aku membalas dengan anggukan lalu berjalan kearah meja kerjaku.


"Kalau kamu butuh apa-apa ngomong saja," ucapku.


"Tidak butuh apa-apa, Om. Ve diam saja," sahutnya celingak-celinguk seperti orang bodoh.


Aku melanjutkan pekerjaanku. Mencoba menyibukkan diri dengan tumpukan berkas di atas meja. Kupikir mudah tetapi nyatanya tidak, bayangan Nara masih terngiang. Entah sampai kapan perasaan ini akan hilang? Perasaan bersalah yang kian membuatku tak berdaya. Walau aku tahu Nara sudah memaafkan aku, tetapi tetap saja aku merasa ada sesuatu yang benar-benar janggal di dalam hati ini.


Satu-satunya cara untuk membuat hati terasa tenang karena cinta yang tidak bisa dipegang adalah dengan menepi. Menjauh. Menjaga jarak. Halanhajg selama ini tidak mungkin bisa di lakukan. Aku tidak pernah benar-benar bisa merasa untuk pergi, kini harus perlahan berjalan menjauh serta nsbajah jarak dengan Nara. Mencintai Nara adalah anugerah terbesar walau itu hanya akan menjadi kenang nantinya.


Namun, Tuhan selalu menang memberi apa yang disanggupi oleh hamba-Nya. Sudah sekian lama aku memendam semua perasaan sakit ini dan aku sanggup. Jika kini aku lelah, barangkali itu juga cara Tuhan memberi waktu untuk berhenti atau menikmati jeda. Sesungguhnya aku tidak punya pilihan. Berhenti ati berjeda. Aku tak bisa benar-benar berhenti memikirkan Nara tetapi aku bisa jeda sejenak dan beristirahat untuk mengumpulkan energi yang terserap karena semua kejadian yang menimpa hidupku.


"Om, jangan melamun!" panggilan gadis itu membuyarkan lamunanku yang sedari tadi membicarakan tentang Nara.


"Dih, kamu kenapa duduk di sini?" protesku.


"Ve lapar, Om. Tadi pagi tidak sarapan soalnya belum beli beras," ucapnya.


Aku menatap gadis aneh ini tak percaya. Apa katanya tadi belum sarapan karena tidak sarapan karena belum beli beras?

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2