
Rimba masih meringguk beringsut di dalam keheningan malam. Lelaki tampan tersebut kembali meratap setelah tadi di jengguk oleh Nara.
"Nara, seandainya aku tidak menyia-nyiakanmu. Kita pasti sudah bersama sekarang. Maafkan aku, Nara. Maafkan aku."
Di dalam keheningan malam dia menangis terisak. Membiarkan rasa bersalah menyiksa dadanya. Padahal dia harusnya sadar bahwa yang pergi dan dia lepas takkan bisa kembali pulang ke dalam genggaman tangannya. Air mata leleh seakan menandakan bahwa dia benar-benar rapuh dan tak berdaya saat ini.
Terkadang penyesalan memang membuat orang menyadari semua kesalahan yang telah dia lakukan dan membuat dia tersesat akan keegoisannya sendiri.
Lama lelaki itu merenungi nasibnya. Lalu perlahan matanya terpejam dan terlelap dengan tangis. Begitulah kehidupan Rimba selama mendekam di jeruji besi. Tidak ada yang peduli, bahkan keluarga yang dia anggap sebagai tempat paling nyaman untuk dia pulang. Malah hilang dan pergi dan sama sekali tidak perhatian padanya.
Polisi yang bertugas berjaga di depan ruangan Rimba melihat kasihan pada pria tersebut. Tatkala dia seperti menjadi pendengar atas keluh kesah dan perasaan sakit dari lelaki yang sudah beberapa bulan berada di tempat ini. Sejak awal masuk, Rimba memang seperti depresi dan gila. Kadang tertawa, kadang menangis dan kadang berteriak. Mungkin sebentar lagi dia akan menjadi gila.
.
.
"Maafkan Mama, Sayang," ucap Putri melihat putri kecilnya yang terlelap di atas tempat tidur.
"Mama belum bisa menyediakan kebahagiaan yang baik buat kamu. Cepat sembuh, Nak. Semoga kamu nanti tidak seperti yang gagal dalam rumah tangga."
Putri mengusap kepala anaknya yang masih terlelap di atas ranjang rumah sakit. Anak kecil berusia 5 tahun itu masih mengindap penyakit yang sama saat seperti dia masih bayi. Hatinya terluka karena tidak ada lagi tempat untuknya bersandar. Sedangkan Rimba yang menjadi tempat satu-satunya untuk meminta tolong kini malah mendekam di penjara.
"Rimba, maafkan aku. Aku yang sudah membuat kamu begini. Harusnya aku tidak mengikat kamu dengan alasan putriku, sekarang kamu malah harus di penjara." Ada penyesalan dari ucapan putri.
Putri Wardani, wanita berusia 32 tahun. Seorang wanita karier yang bekerja di bagian pemerintahan. Dia menjalani hubungan selama beberapa tahun dengan Rimba ketika mereka sama-sama duduk di bangku kuliah. Namun, karena khilaf dia malah tersesat dan selingkuh dengan teman Rimba hingga meninggalkan benih di rahimnya. Hal tersebut membuat dia kehilangan arah hidup.
Dia dinikahi oleh lelaki tersebut. Namun, setelah anaknya lahir dia malah di tinggalkan begitu saja. Tujuan Putri datang ke Pontianak memang untuk bertemu dengan Rimba. Namun, dia terlambat karena ternyata Rimba sudah memiliki kekasih hati, yaitu Nara. Berbagai cara Putri lakukan agar Nara dan Rimba berpisah salah satunya adalah mengatakan hal-hal yang membuat Rimba percaya bahwa Nara akan meninggalkannya. Oleh sebab itulah kenapa Rimba begitu posesif pada Nara karena termakan omongan dan ucapan dari Putri.
Namun, berbagai cara dia lakukan untuk mendapatkan Rimba kembali. Tetap saja dia hati Rimba sudah terpaut pada Nara. Hingga akhirnya lelaki itu akan membusuk di penjara karena kasus kekerasan.
"Andai aku tidak kembali ke sini, Rimba dan Nara pasti tidak akan berpisah. Aku benar-benar merasa bersalah." Putri memejamkan matanya sambil memeluk putra kecilnya yang terlelap di atas brangkar.
__ADS_1
"Sudah lebih dari 3 tahun. Tapi aku tidak bisa melupakan rasa bersalahku pada Rimba dan Nara. Aku ingin bertemu Nara dan meminta maaf."
.
.
"Bee." Ikmal menatap wanita tersebut.
"Ada apa, Kakak memanggilku ke sini?" tanya Bee dengan wajah dingin dan datarnya.
Bee wanita yang pernah di perkosa oleh Ikmal, kini telah tumbuh menjadi wanita luar biasa. Dia menggandeng tangan putri kecilnya yang berusia 3 tahun.
"Bee, bolehkah aku memeluk putri kita?" pinta Ikmal dengan mata berkaca-kaca menatap gadis kecil yang di gandeng oleh wanita tersebut.
Gadis kecil berusia 3 tahun itu tampak bingung melihat lelaki yang berjongkok di depannya.
"Mama dia capa, Lala tiyak pelnah liyat?" tanyanya dengan suara yang belum lancar berbicara.
"Sayang." Bee berjongkok. "Dia Papa, Sayang," jelas Bee dengan mata berkaca-kaca.
"Papa?"
Air mata Ikmal luruh ketika gadis tersebut memanggilnya papa. Dia rengkuh tubuh gadis kecil tersebut agar masuk ke dalam pelukannya. Ikmal memeluk anaknya sambil menangis terisak. Hatinya begitu hangat bisa memeluk putrinya.
"Maafkan Papa, Sayang. Maafkan, Papa," ucapnya berulang kali.
Ada rasa penyesalan ketika dulu dia mengikuti saran Mona untuk memperkosa Bee hanya karena wanita itu balas dendam ketika tahu bahwa Bintang sudah menikah dengan Nara.
"Papa."
Gadis kecil itu membalas pelukan Ikmal dengan tangan yang mengusap punggung sang ayah. Selama ini dia memang selalu bertanya di mana ayah? Sekarang dia melihat lelaki tersebut.
__ADS_1
Bee menyeka air matanya dengan kasar. Bohong jika dia tidak merindukan sosok seorang suami untuk mengayomi kehidupannya. Namun, apa daya takdir malah membawanya sangat jauh dari kehidupan yang dia inginkan. Bee tidak berani membuka hati untuk pria lain karena dia takut tidak menemukan suami yang bisa menerima kondisi dirinya.
"Kamu sudah besar, Nak." Ikmal melepaskan pelukannya. Lalu dia tancapkan kecupan hangat dan singkat di kening gadis kecil itu.
"Papa, Lala lindu," ucapnya dengan suara imut dan menggemaskan.
"Papa juga rindu sama, Lala," balas Ikmal. "Sehat-sehat ya, Nak. Sama Mama. Jangan nakal," pesan Ikmal.
Ikmal di vonis 12 tahun penjara karena kasus pemerkosaan. Dia masih sangat lama berada di tempat ini. Entah kapan dia akan terbebas dari tempat ini?
"Papa tiyak puyang sama Lala?" tanyanya.
Lagi-lagi air mata Ikmal menetes. Bolehkah dia meminta waktu lebih lama bersama putri kecilnya.
"Tidak, Sayang. Nanti Papa akan pulang," kilah Ikmal.
Setelah cukup lama bertemu dengan Ikmal. Bee segera membawa anaknya pulang karena dia masih belum sembuh dari rasa trauma di masa lalu. Rasa sakit karena di perlakukan seperti binatang oleh pria yg menghamilinya masih membekas di dalam dadanya.
"Mama," panggil Lala.
"Iya, Sayang. Kenapa?"
Bee memeluk anaknya dengan erat. Gadis kecil ini adalah kekuatannya untuk bertahan menghadapi perjalanan hidupnya. Jika saja bukan Nara yang menyuruhnya menemui Ikmal, wanita itu tidak akan pernah mau bertemu dengan lelaki yang telah merusak masa depannya.
Selama bertahun-tahun setelah melahirkan, Bee harus mengemban tugas sebagai seorang ayah dan ibu untuk putri semata wayangnya.
"Lala ingin hidup sama Papa."
Deg
Bersambung.
__ADS_1