Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 35.


__ADS_3

Demi Tuhan, sungguh berat aku lalui. Tanpa kamu bersama denganmu. Sungguh sulit ku menolak untuk tak mengingat lagi, semua kenangan yang kita lalui. Bersama.


Dan aku di sini patah hati tak bisa terima. Kepergianmu dan semua kenyataan ini. Aku tak bisa hidup begini terus, kan ku jalani hidup tanpa kamu.


Perpisahan abadi adalah kematian, tak peduli seberapa hebat jabatan yang kau duduki, seberapa banyak uang yang kau miliki dan takkan ada satu orang pun yang bisa menghindari nya.


####


Dengan percayaku paling dalam. Aku telah memilihnya dan ingin jatuh cinta kepadanya setiap waktu yang kupunya. Ingin menjadikannya seseorang yang menyatu denganku dakams segala doa dan rencana-rencana. Aku ingin menjadikannya teman paling bahagia. Kekasih hidup yang berteguh pada setia. Kami adalah janji-janji yang akan selalu kami tepati. Namun, takdir tega dan kejam dia mendatangkan seseorang untuk melunturkan kisah cinta yang kami bangun dengan susah payah.


"Mas Gevan."


Pria ini pernah menyakiti dan meninggalkan aku dengan Lala. Namun, dia pergi dan hilang dari tatapan mataku, tak bisa ku pungkiri bahwa rasa sakit kian menjelma menjadi puing-puing kehancuran.


"Mas bangun, bangun, Mas."


Perpisahan abadi adalah kematian. Tak peduli sehebat apa jabatan yang kau punya, sebanyak apa uang yang ada. Tak ada satu manusia pun yang bisa menghindari kematian. Tak peduli seberapa keras kau menolaknya, ia akan tetap menghampiri orang yang kau sayangi. Mengambil nya dengan paksa, mengikis nya begitu saja. Tak peduli seberapa hebat kau terluka, seberapa lama kau menangis, jika Tuhan sudah mengambil hakNya apapun yang kau lakukan dan katakan semua akan sia-sia.


Kau tahu bagaimana yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan adalah berpisah karena kematian. Ada partikel-partikel kepatahatian yang tak bisa dijelaskan lewat kata ungkapan atau tulisan. Hal tersebut bisa meremukkan seluruh jiwa dan raga.


Ku tatap tubuh kaku yang sudah di pakaikan jas dan dasi tersebut. Wajah pucat tanpa darah. Dia seperti tidur dan tanpa merasakan sakit.


"Mas." Kuusap wajah pucat Mas Gevan. "Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Aku hanya kecewa tetapi aku tak pernah benar-benar membenci."


"Galvin," teriak Mama Meysa.


Jika semua orang menangis histeris saat kepergian Mas Gevan, aku justru terdiam seperti patung hidup. Bukan aku tak histeris tetapi sudah lelah menangis. Jiwaku dihantam hebat oleh kenyataan yang menjadikan semuanya terasa hampa.

__ADS_1


Apa ada yang tahu betapa aku hancur saat ini? Duniaku gelap tak menemukan sedikit pun terang.


"Kamu yang kuat demi Lala." Aku bersandar di bahu Mas Rey. Kupejamkan mataku sejenak berusaha mengenyahkan semua perasaan sakit yang terasa mencekik leher.


Kenapa takdir begitu tega menghancurkan hidupku? Tidak kah dia kasihan melihat aku yang rapuh dan tak berdaya seperti yang ini? Aku manusia biasa, aku tidak sekuat apa yang terlihat. Kadang aku memiliki titik di mana ingin menyerah dan pergi meninggalkan dunia yang fana ini.


Walau perasaan ku terhadap Mas Galvin sudah tidak ada lagi, tetapi rasa kehilangan ini membuatku hancur.


Aku yang tadi nya diam sontak saja tersungkur di tanah. Aku tak mampu menahan kokohnya tubuh yang selama ini aku pertahankan.


"Tata."


Mas Rey segera membantuku berdiri. Aku seperti wanita yang tak bisa berjalan sendiri dan masih butuh bimbingan seseorang untuk membantuku berjalan. Kenapa rasanya tenagaku terkuras habis?


"Mas berjanji akan selalu ada untuk kamu." Mas Rey menarikku masuk ke dalam pelukan hangatnya. Segala sesuatu yang kuanggap hal baik kini perlahan membuat aku jatuh ke dalam kehancuran.


Aku memejamkan mataku sejenak. Meresapi rasa sakit yang mengendap masuk kedalam sana.


"Aku tidak tahu bagaimana reaksi Lala setelah Papanya pergi, Mas."


Masih terbayang di dalam benakku di saat pertemuan terakhir kami. Mas Gevan datang membawa kantong kresek dan boneka panda kesukaan Lala. Aku tidak tahu jika itu akan menjadi terakhir kalinya aku melihat wajah mantan suamiku.


"Mas." Mas Rey memelukku kian erat.


Suasana pemakaman semakin ramai. Bersamaan dengan peti Mas Gevan yang di masukkan ke dalam tanah, begitu juga tangisku pecah. Tak kusangka cintaku berakhir untuk selamanya. Beginikah rasanya kehilangan? Beginikah rasanya mengikhlaskan kepergian seseorang yang pernah ada di dalam hidup. Sekarang, aku paham perasaan Kak Naro saat kehilangan Ariana kala itu.


"Mas Gevan!" teriakku.

__ADS_1


'Selamat jalan cinta, selamat berpisah untuk selamanya. Terima kasih untuk sebelas tahun yang boleh kita lewati bersama. Aku tak pernah menyangka jika cinta kita berakhir seperti ini. Terima kasih untuk pengorbanan mu untuk anak kita, Lala. Aku berjanji akan menjadi ayah dan ibu untuk mereka berdua. Maaf untuk banyak hal. Maaf karena segala hal. Aku pernah begitu membenci mu, tetapi sekarang aku sadar bahwa ketulusan mu telah membuat hatiku kembali luluh. Semoga bertemu di kehidupan kedua nanti. Jika diberikan satu kesempatan aku ingin menjadi istrimu lagi, Mas."


.


.


Ku tatap Lala yang masih terpejam. Andai Lala terbangun dan tahu bahwa Papa yang begitu dia cintai telah pergi meninggalkan bumi. Tak bisa ku bayangkan bagaimana reaksi nya. Aku tahu betapa putri kecil ku ini mencintai Papa-nya. Tetapi apa boleh buat jika takdir saja tak mengizinkan hidup bersama lebih lama.


"Lala maafkan Mama, Sayang. Kamu harus kehilangan kebahagiaan di masa kecil. Cepat sembuh, Nak."


Kukecup kening Lala dengan sayang. Aku sangat menyayangi anakku lebih dari apapun, tetapi aku tak bisa menyediakan kebahagiaan yang mereka inginkan.


Jujur perasaan bersalah kini menyeruak masuk ke dalam dadaku.


Kugenggam tangan Lala seraya membenamkan wajahku di sana. Aku, aku gagal menjadi seorang ibu dan istri.


"Hiks hiks hiks hiks."


Seandainya aku bisa dilahirkan kembali, aku tak ingin ada di sini. Aku tak ingin berada di posisi sulit ini. Aku ingin hidup bahagia seperti wanita lainnya.


"Papa akan abadi dihati kamu selamanya, Nak. Tumbuhlah menjadi wanita yang kuat. Mama yakin kamu bisa melewati ini semua."


Dikeheningan malam, aku menangis dalam sujud ku. Raung dan erangan ketidakberdayaan seolah menjadi saksi betapa aku hancur saat ini. Adakah cahaya terang yang bisa membawa aku pergi menjauh dari hidup yang sama sekali tak kuinginkan ini? Jika bisa, aku ingin pergi saja agar semua rasa sakit ini hilang bersama waktu.


"Mas Gevan, apa yang harus aku katakan pada Lala? Dia pasti akan mencari kamu, Mas. Kenapa kamu tega meninggalkan kami berdua. Walau aku tidak membutuhkanmu tapi Lala masih sangat menyayangi dan mencintai kamu, Mas. Aku tidak kuat, aku tidak mampu."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2