Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Berjuang bersama


__ADS_3

Divta melepaskan pelukannya lalu dia seka air mata gadis tersebut. Dia tidak suka melihat Mentari menangis.


"Kita akan hadapi ini bersama. Saya yakin Mama pasti akan merestui kita," ucap Divta mengusap pipi basah kekasih kecilnya itu.


Mentari menggeleng, "Pak, Ibu tidak akan merestui kita. Saya tidak mau mengambil Bapak dari sisi Ibu," ucap Mentari.


Divta mengusap lembut rambut panjang Mentari. Apapun akan dia lakukan agar gadis ini selalu berada di sampingnya meski mungkin harus melawan sang ibu. Untuk kali ini dan seterusnya Divta ingin bahagia.


"Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kamu cukup berada di samping saya. Biarkan saya yang berjuang dan mengurus semuanya," ucap Divta.


Lelaki itu mengusap bibir ranum milik Mentari. Bibir ini seolah menjadi candunya. Dia kecup bibir itu dengan lembut lalu menyesapnya dan mencari kenikmatan di dalam sana. Mentari yang awalnya sama sekali tak memiliki pengalaman masalah ciuman kini mulai terbiasa setelah beberapa kali Divta mengajari dirinya.


Divta menekan tengkuk Mentari agar memperdalam ciuman mereka. Suara saling cercap-cercapan terdengar menggema di dalam mobil. Keduanya larut dalam ciuman hangat.


Mentari seorang gadis kampung yang belum pernah pacaran dan di sentuh oleh laki-laki begitu terbuai dengan sentuhan Divta di tubuhnya. Gadis yang baru memasuki usia 18 tahun tersebut tentu belum pernah merasakan hal-hal estetik yang menjalar aneh di bagian bawahnya.


Divta melepaskan panggutan mereka setelah merasakan Mentari hampir kehabisan nafas. Dia menyatukan kening mereka berdua. Divta tak mau merusak Mentari, cukup mencium gadis itu saja. Walau sebagai pria normal dia sangat menginginkan lebih dari ini. Apalagi sudah lama hidup menduda dan tentunya butuh pemuas untuk memenuhi hasrat.


"Jangan pergi. Jangan tinggalkan saya. Mari kita berjuang bersama. Saya dan si kembar butuh di kehidupan kami. Jadilah tempat ternyaman untuk kami pulang," ucap Divta menatap bola mata Mentari yang begitu dekat dengannya.


Mentari mengangguk karena memang jujur saja jika perasaannya tidak bisa di bohongi dia sangat mencintai Divta. Mentari tahu jika apa yang dia rasakan adalah sesuatu yang salah tetapi dia tidak bisa membuang rasa ini jauh. Entah kapan tepatnya dia mulai jatuh cinta pada Divta. Bahkan dia sendiri tidak tahu seperti apa cinta sesungguhnya, tetapi satu yang terasa di dalam hatinya, dadanya selalu berdebar setiap kali berada didekat Divta.


"Terima kasih, Tari. Saya mencintai kamu." Divta menarik gadis itu kedalam pelukannya.


"Saya juga cinta sama Bapak."


Divta tersenyum saat Mentari mengatakan hal yang sama. Dia seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. Padahal Mentari bukan wanita pertama dalam hidupnya tetapi perasaannya pada wanita ini tak main-main. Walau usia terpaut cukup jauh tetapi rasa yang ada tak jua memudarkan rasa.


Mentari adalah sosok gadis yang sanggup memberikan kehangatan di hati Divta. Setelah sekian lama patah hati dan merasa dirinya mati rasa. Kini Divta menemukan belahan jiwa yang sanggup memporak-porandakan pertahanannya. Sikap polos dan lembut itu seolah meruntuhkan tembok pertahanannya serta perasaan mati itu kini tumbuh lagi.

__ADS_1


Divta melepaskan pelukannya. Dia kecup kening Mentari dengan sayang. Dia tidak peduli, jika seluruh dunia tak merestui selama semesta berpihak pada mereka. Dia yakin jika restu akan tersedia.


"Kamu lapar tidak?" Mentari mengangguk. "Ya sudah, kita makan dulu ya," ajak Divta.


"Iya Pak," sahut Mentari seraya mengusap pipi basahnya.


Divta merenggut kesal ketika wanita ini memanggilnya bapak.


"Sekarang saya sudah pacar kamu. Jangan panggil Bapak lagi," protes Divta.


Kening Mentari menggerut, "Lalu saya harus panggil apa?" tanya Mentari bingung.


"Terserah, asap jangan bapak," sahut Divta. Dia merasa seperti sangat tua ketika Mentari memanggilnya dengan nama panggilan tersebut. Padahal dia tidak terlalu tua hanya dewasa dan berusia saja.


"Bagaimana kalau saya panggil Mas saja?" saran Mentari.


"Nama panggilan yang bagus," sahut Divta.


Tangan Divta yang satu mengenggam tangan wanita tersebut sedangkan yang satunya dia gunakan untuk menyetir. Sesekali dia kecup tangan Mentari yang hangat dan begitu lembut. Sementara Mentari tersenyum saja seraya bersandar di lengan kekar Divta.


Cinta beda usia dan beda kasta. Keduanya berusaha untuk saling berjuang dan memperjuangkan. Walau setelah ini akan banyak tantangan yang mereka hadapi terutama tentang restu orang tua Divta. Akan sangat sulit bagi mereka menerima Mentari yang berasal dari kampung dan asal usulnya tidak jelas. Tetapi keduanya akan berjuang untuk cinta yang kini tengah menggebu di dalam dada.


.


.


"Oh ya Jeng, bagaimana kabar Tari?" tanya Dona.


Kening Melly menggerut ketika Dona menanyakan asisten rumah tangga yang bertugas sebagai pengasuh kedua cucunya itu.

__ADS_1


"Tari baik, Jeng," sahut Melly. "Jeng, kenal dekat dengan Tari?" tanya Melly penasaran.


Dona tersenyum simpul lalu mengangguk. Dia menyukai sifat Mentari yang polos dan lemah lembut tersebut dan berharap bahwa gadis itu akan menjadi calon menantunya.


"Dia teman sekampus Rein," jawab Dona.


Melly mengangguk walau ada rasa tidak suka saat mendengar bahwa gadis kampung tersebut begitu dekat dengan Mentari yang notabene gadis biasa saja.


"Oh ya Jeng, bagaimana masalah kelanjutan hubungan Audrey dan Divta?" tanya Melly mengalihkan pembicaraan. Dia seperti tak suka ketika Dona menanyakan Mentari.


"Kalau Audrey sepertinya menyukai Divta, Jeng. Tapi bagaimana dengan Divta?" tanya balik Dona.


Melly malah terdiam. Dia harus jawab apa? Karena putranya tersebut memang terlihat tidak menyukai Audrey dan tak tertarik sama sekali walau wanita itu sangat cantik dan berpendidikan.


"Tentu saja Divta tertarik Jeng, tidak mungkin dia menolak seorang Audrey," jawab Melly tersenyum simpul padahal realitanya tidak seperti yang dia katakan.


"Baguslah kalau begitu," sahut Dona. "Bulan depan kebetulan ulang tahun saya. Saya harap Jeng bisa datang bersama Divta ya," ucap Dona lagi.


"Saya pasti datang Jeng," sahut Melly dengan senyuman manisnya. Siapa yang tidak akan datang di acara mewah ulang tahun Dona yang selalu diperingati setiap tahun dan di adakan acara megah seperti artis-artis.


"Iya, Jeng. Terima kasih," ujar Dona.


Kedua wanita sosialita itu kembali berbincang-bincang. Kadang-kadang tentang arisan berlian atau membahas harga-harga promo di online olshop dan kadang membahas tas branded yang harganya puluhan juta. Namun, bagi keduanya harga tas semahal itu bukan sesuatu yang membuat kantong mereka kosong meski pensiunan tetapi mereka memiliki gaji dan belum lagi bisnis yang sekarang mulai berkembang cukup pesat.


"Oh ya, saya boleh titip baju untuk Tari." Dona memberikan paper bag pada Melly.


"Baju apa, Jeng?" tanya Melly penasaran. Sepertinya Dona ini sangat perhatian pada Mentari.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2