
"Mas, harus ya pegang-pegang begitu," protesku.
Sontak saja tangan Mas Gevan yang berada di atas perut Mbak Queen terlepas. Kedua orang itu tampak gugup. Aku bukannya sakit hati tetapi jengkel.
"Kamu itu kenapa sih, Ta? Kamu 'kan tahu kalau Mas ini dokter? Harusnya kamu paham dong," ujar Mas Gevan menatapku kesal. Kenapa dia yang kesal, harusnya aku yang marah?
"Ingat ya, Mas. Mas itu dokter spesialis bedah bukan dokter spesialis kandungan. Jadi, tidak usah pegang-pegang sembarangan," tekanku.
"Kamu menuduh Mbak hamil, Ta?" Mbak Queen menatapku sedih dan kecewa. Aku bahkan tidak mengatakan hal tersebut? Memang salah kalau aku bicara tentang dokter kandungan? Aneh!
"Memang Mbak dengar aku bicara begitu? Aku kan cuma bilang dokter bedah sama dokter kandungan. Lalu kenapa Mbak tersinggung? Apa Mbak benar-benar hamil?"
Wajah Mbak Queen langsung pucat fasih. Huh, dia pikir aku mudah di bully. Tidak akan semudah itu, kalau dia berani menikam aku dengan pisau. Akan kubelah tubuhnya dengan pedang. Biar seimbang.
"Tata, kamu itu kalau bicara di saring sedikit. Pikirkan perasaan Queen," sarkas Mas Gevan.
Aku tersenyum kecut. Kenapa malah berdebat seperti ini? Padahal tadi niat aku memanggil Mas Gevan di sini agar memeriksa kondisi Mbak Queen.
"Kok dari tadi Mas terus bela Mbak Queen ya? Ada apa di antara kalian?" Aku tersenyum mengejek menatap kedua orang tersebut.
Aku memang takut kehilangan Mas Gevan tetapi jika dia berani menginjak harga diriku. Maka aku tidak akan tinggal diam. Kalau memang dia mau lepas, oh silakan. Aku tidak akan rugi kehilanga laki-laki yang tidak bisa sama sekali menghargai aku.
"Dari tadi kamu terus pojokin Queen. Mas tidak suka kamu seperti itu sama yang lebih tua," sergah Mas Gevan.
Dia tidak melanjutkan memeriksa Mbak Queen dan malah keluar dari kamar dengan wajah merah padam. Ada apa dengan suamiku?
__ADS_1
"Mbak minta maaf ya, Ta. Gara-gara Mbak kalian jadi bertengkar," ucap Mbak Queen seperti merasa bersalah karena sikap Mas Gevan.
"Tidak apa-apa, Mbak. Aku juga minta maaf kalau menyinggung perasaan Mbak," ujarku.
Sebenarnya aku ingin bertanya apakah Mbak Queen benar-benar hamil? Kenapa dia sangat sensitif ketika aku membahas masalah dokter kandungan? Apa yang salah?
"Iya sudah, Mbak istirahat saja. Kalau ada apa-apa, panggil saja Bik Arum," ucapku.
Aku keluar dari kamar Mbak Queen dan tak lupa menutup pintu. Kulihat suamiku duduk di sofa ruang tamu sambil memangku laptop di pahanya. Kaca mata tebal bertengger di hidung mancungnya. Matanya memang sudah minus tetapi dia jarang menggunakan kacamata, paling hanya ketika dia melihat laptop saja. Kata Mas Gevan dia tidak mau ketergantungan pada kacamata.
"Mas," panggilku.
"Ada apa?" ketusnya.
"Mas kenapa sih sensitif banget saat aku bicara sama Mbak Queen?"
"Harusnya kamu sadar, Ta. Kalau omongan kamu itu bisa menyinggung perasaan orang lain dan Mas tidak suka." Dia menutup laptop di pangkuannya.
"Bukan itu, Mas. Masalahnya kok Mas kayak bela Mbak Queen ya? Padahal dulu Mas tidak peduli pada siapapun kecuali aku dan Lala," ungkapkan. Aku menatap suamiku penuh selidik. Sebenarnya ini perlu aku cari tahu, kenapa sifatnya sangat mencurigakan dan membuat aku bisa menangkap sesuatu yang aneh dari raut wajahnya.
"Sudahlah, Mas mau tidur."
Dia melenggang masuk ke dalam kamar kami. Kuhela napas sepanjang mungkin dan menatap punggungnya.
"Jangan memancing api di rumah tangga kita, Mas. Kamu bisa saja mencari wanita yang lebih dari aku. Tetapi kamu tidak akan menemukan wanita seperti aku. Aku tidak mau menaruh curiga tanpa bukti. Tapi kalau sikap kamu seperti ini, siapapun akan curiga."
__ADS_1
Aku mengambil keras dan pulpen. Lalu menggambar desain baju pengantin yang dipesan oleh pria tadi. Tunggu, kenapa aku jadi teringat ada lelaki siang tadi? Aku penasaran, kenapa calon istrinya bisa masuk rumah sakit? Kalau memang calon istrinya sakit, harusnya pernikahan mereka di tunda.
Setelah menyeleweng gambar desainku. Aku masuk ke kamar Lala. Ah malam ini tidur dengan Lala saja. Aku sedang tak ingin berbicara dengan Mas Gevan, rasanya emosiku masih membuncah ketika dia membentakku tadi.
Kutatap wajah Lala yang terlelap nyaman. Betapa cantiknya putri kecilku ini. Wajahnya halus, lembut dan manis.
"Nak, apapun yang terjadi. Kamu harus tetap dengan Mama. Bantu Mama melewati ini."
Di balik sisi kerasku. Sebenarnya aku adalah wanita rapuh yang butuh sekali pelukan. Beberapa bulan terakhir sejak Mbak Queen tinggal bersama kami. Sifat suamiku berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu, dia hangat dan selalu memelukku di dalam keheningan malam. Tetapi sekarang, dia malah membentakku di depan banyak orang.
"Kalaupun kita kehilangan Papa. Mama akan jadi orang tua terbaik untuk kamu, Nak. Mama sayang sama kamu," ucapku memeluk tubuh kecil putriku.
Aku lahir tanpa seorang ibu. Mommy meninggal ketika melahirkanku. Aku tidak pernah melihat wajahnya lewat mimpi hanya bisa mengenal dengan menatap figura pernikahan mereka. Aku kehilangan sosok ibu di masa kecil. Tetapi ketika bertemu dengan Mama Ara, aku seperti menemukan jalan kehidupanku. Walau aku tak lahir dari rahimnya. Tetapi dia mampu memperlakukan aku dengan baik dan menyayangiku seperti Kak Nara, Kak Naro dan Shaka.
Sekarang, aku tidak mau Lala kehilangan sosokku. Aku akan memeluk anakku di setiap detik dan setiap waktu. Aku akan pastikan bahwa hidupnya baik-baik saja. Lala harus bahagia walau mungkin ibunya nanti tidak akan bahagia dengan kehidupan rumah tangganya.
"Selamat tidur putri kecil Mama. I love you."
Kukecup kening putriku dengan sayang dan penuh kelembutan. Tanpa sadar air mataku menetes dan jatuh di kening Lala. Melihat sikap Mas Gevan yang berubah membuat aku sedikit cemas bahwa kami akan berakhir dan memilih jalan hidup sendiri.
Sebelum dia memberikan dirinya tergoda. Atau sebelum aku menurunkan kadar percaya. Ingatlah lagi. Kami datang dari dua orang yang berbeda. Punya masa lalu yang berbeda pula. Pekerjaan dan pendidikan juga tidak sama. Tentu karakter kami sangat berbeda pula. Kalau tidak cinta, apalagi yang bisa menyatukan kami? Itulah mengapa harus saling menjaga kepercayaan sebelum apa yang di percayakan berubah menjadi kekecewaan.
"Aku masih berpikir positif bahwa kamu dan Mbak Queen tidak ada hubungan apa-apa, Mas."
Bersambung...
__ADS_1