
Tata POV.
Aku terduduk di bangku tunggu rumah sakit saat mendengar penjelasan dokter bersama Mas Gevan.
"Lalau harus menjalani kemoterapi tetapi ini tidak menjamin kesembuhan," jelas Dokter Hans.
Tubuhku langsung luruh. Benar dugaanku bahwa hal ini akan tiba, apa yang harus aku lakukan?
"Apa ada cara lain untuk menyembuhkan penyakit Lala, Dok?" tanya Mas Gevan ikut menimpali.
"Pencangkokan tulang sumsum belakang. Tetapi kondisi Lala sedang tidak stabil saya takut jika daya tahan tubuhnya tidak tahan dan hal itu berbahaya untuk keselamatan Lala, Dok," sahut Dokter Hans menjelaskan
Aku semakin melemah, ya Tuhan kenapa semua ini terjadi? Bagaimana kalau ternyata semua yang ku takutkan akhirnya terjadi? Sesuatu yang ku jaga dengan susah payah malah terlepas dari genggaman tangan ku.
Kepedihan telah membawa jari-jari ku mengepal dinding mengenggam tangan Mas Gevan. Aku tak peduli walau rasa itu sudah tak ada lagi. Ku gantungkan semua rasa perih itu pada kursi yang ku duduki. Semua rasa takut kini menghantam bagian dadaku. Ketakutan yang selalu ku hindari kini benar-benar akan terjadi.
"Apa setelah kondisi Lala membaik dia bisa melakukan pencangkokan tulang sumsum belakang, Dok?" tanya Mas Gevan lagi.
"Bisa, Dok. Untuk menjadi pendonor harus ayah kandung dari pasien," jelas Dokter Hans.
"Saya siap mencangkokkan tulang sumsum saya untuk Lala, Dok," jawab Mas Gevan tegas. Aku menatap mantan suamiku itu, apa dia yakin?
"Baik, Dok. Kita berdoa saja semoga kondisi Lala segera membaik. Setelah kemoterapi, dia akan melakukan pencangkokan tulang sumsum."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk putri kami, Dok! Saya akan bayar berapa pun asal Lala bisa sembuh," mohon Mas Gevan.
Air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya luruh dan menetes dengan deras. Aku bahkan tak peduli jika aku menangis di depan mantan suamiku itu. Beberapa orang mengatakan jika menangis adalah tanda hati seseorang lemah. Tetapi bagiku menangis adalah caraku mengekspresikan diri terhadap rasa sakit.
"Saya akan lakukan semampu saya, Dok. Sisanya Tuhan yang menentukan," sahut Dokter Hans.
"Ta," panggil Mas Gevan.
Aku tak menjawab panggilan mantan suamiku itu dan melepaskan genggaman tanganku. Sudah berapa kali aku mengatakan, agar dia pergi dari kehidupan kami. Aku tak mau menambah masalah. Hidupku sudah susah dengan pergumulan yang datangnya silih berganti. Apalagi Mbak Queen terus meneror. Tetapi bagaimana bisa aku memisahkan Lala dengan ayah kandungnya?
"Kamu tenang ya, semua akan baik-baik saja. Mas akan donorkan tulang sumsum Mas untuk Lala."
"Kemungkinannya sangat kecil, Mas. Setelah kemo kondisi Lala belum tentu stabil," sarkasku.
__ADS_1
Dia langsung terdiam. Bukankah kemoterapi hanya memanjangkan usia sesat. Anakku masih kecil, dia harus menderita penyakit mematikan ini. Apa salah dan dosaku sehingga harus menanggung semua ini? Tak apa aku menderita dan tak bahagia asal Lala baik-baik saja. Apa Tuhan ingin mempertahankan aku hidup, namun dengan cara yang sebenarnya tak ku inginkan sama sekali?
Mas Gevan mengusap bahuku, seolah mentransfer kekuatan lewat bahu ku. Ribuan kali aku mengusirnya pergi dan menjauh tetapi tetap saja takdir membawa kami bertemu.
*
*
Aku berjalan menelusuri malam mencari makanan di warung yang masih buka malam-malam begini. Sembari menikmati segala keresahan yang sekarang menghantam bagian dadaku.
Dinginnya angin malam membuat bulu kuduk ku berdiri, apalagi seperti menerpa bagian kulit ku yang lain.
"Mang, nasi gorengnya satu makan di sini," pintaku duduk dikursi plastik tempat penjual nasi goreng.
"Oh iya, Neng. Tunggu sebentar," ucap sang Mamang penjual nasi goreng.
"Iya, Mang," sahutku memaksa kan senyum.
Kuusap kedua lengan ku yang terasa dingin. Untung malam ini tidak turun hujan, tetapi angin nya cukup mampu membuat badan terasa meriang.
"Terima kasih, Mang," sahutku.
Kutatap nasi goreng yang masih mengeluarkan asap mengempul tersebut. Lagi-lagi air mataku menetes. Setiap kali melihat nasi goreng, aku selalu ingat kegiatan pagi hari. Mas Gevan dan Lala sangat menyukai jenis makanan yang satu ini.
"Ta."
Aku menoleh ketika ada yang memanggil namaku.
"Mas Rey."
Apa yang di lakukan manusia yang satu ini? Kenapa malam-malam dia ada disini? Bukankah seharusnya dia sudah pulang dari tadi siang?
Dia duduk di kursi plastik yang terletak disamping ku. Senyumnya mengembang tanpa beban.
"Malam ini Mas akan temani kamu menjaga Lala. Tadi Mas sudah izin sama dokter, kata nya boleh," ucap nya.
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri," tolak ku.
__ADS_1
"Kamu butuh teman, Ta," sergahnya.
Aku tak butuh teman yang ku butuhkan adalah Lala cepat sembuh. Bagiku saat ini yang paling penting adalah putri kecilku tak peduli seberapa sakit luka yang terasa mencekat dada.
"Maaf merepotkan, Mas," ucapku tak enak hati.
"Sama sekali tidak. Kalau kamu butuh bantuan, Mas selalu siap," ucap Mas Rey mengusap kepalaku.
*
*
"Ta," panggil Mas Gevan berjalan ke arah ku dengan sedikit berlari.
Aku mengela napas panjang, "Ada apa, Mas?" tanyaku sedikit dingin.
"Mas bawakan sarapan untuk kamu. Kamu pasti belum sarapan!" Dia memamerkan kantong plastik yang dia bawa tadi. Bubur ayam dengan telur rebus adalah makanan kesukaan aku dan Lala.
"Terima kasih, Mas." Aku mengambil kantong dari tangannya. Sebenarnya ingin menolak tetapi hatiku merasa tak nyaman.
"Mas dinas pagi?"
"Iya, Ta," jawabnya.
"Mas, maaf bukan aku melarangmu. Mbak Queen terus meneror aku dan Lala agar menjauhi kamu. Demi keamanan kami apa Mas bisa jaga jarak?"
"Tapi—"
Dia langsung terdiam dan menatapku dengan sendu. Ada kekecewaan yang terlihat jelas dari bola matanya.
Mantan suamiku, Mas Gevan, separuh jiwaku masihlah mengendap di sisa pekukku. Di sisa kecupan lembut yang pelan-pelan menghabisiku. Dia tetaplah menjadi seseorang yang kukenal dengan kuat. Jangan menyerah menghadapi hidup. Kini kubiarkan dia berjalan menjauh. Namun, aku tak pernah benar-benar melepaskan jiwanya yang mengikat jiwaku. Dia tak pernah benar-benar bisa kuhapuskan dari ingatanku. Hanya saja, aku paham, aku memang hayis belajar bahagia lagi. Aku harus mampu menenangkan kecemasan. Aku harus mampu belajar bahwa kenyataan kini sedang memporak-porandakan pertahanan yang kubangun untuk mencintaiku.
Sesak menyerang bagian dadaku, menghimpit di antara rongga hingga menciptakan sesak yang menelusup masuk ke dalam sana. Kupukul dadaku berulang kali ketika pasokan udara dalam paru-paru serasa menipis.
"Kamu boleh ketemu Lala kapan saja. Tapi perhatikanmu, Mas. Aku dan Lala prioritas kamu lagi. Kamu harus bisa menempatkan diri sebagai seorang suami. Apalagi, Mbak Queen sedang hamil anak kamu. Dia butuh kamu."
Bersambung..
__ADS_1