Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Patah hati


__ADS_3

Sudah kuperjuangkan Mona. Namun, hanya deidh yang dia tinggalkan padaku. Kupikir kami memang saling mempertahankan satu sama lain, sebelum akhirnya ternyata semua ini hanya aku yang ingin. Kemudian dia katakan tetap kuat tanpa dirinya. Tetaplah menjadi orang yang teguh pada impian. Lalu, apa artinya kebersamaan ini? Jika saja akhirnya hanya aku yang merasa memiliki. Apa dia bahagia dengan cara tak membuatku bahagia? Apa dia tahu bagaimana cara yang baik untuk melupakannya? Bagian-bagian dari perjalanan dia dan aku, adalah kepingan-kepingan yang merasuki pilu.


"Setelah ini aku akan kembali ke Jakarta," ucapnya memecahkan keheningan di antara kami setelah hanya tangisnya yang terdengar memenuhi ruangan kamar Mona.


"Bintang, sekali lagi aku minta maaf. Aku tahu sekarang kau benar-benar kecewa padaku. Tetapi inilah jalan takdir yang harus aku pilih." Dia mengusap bahuku setelah menurihkan luka yang dalam seakan ingin mengobati luka yang telah mengeluarkan darah tersebut.


Aku berdecih, apakah selingkuh dan mendua adalah jalan takdir? Apakah itu nasib? Tidak, itu adalah pilihan untuk menyakiti aku yang begitu mencintai Mona lebih dari apapun.


"Mona."


Kami berdua menoleh kearah pintu keluar, tampak Ikmal sudah berdiri di sana sambil berjalan masuk.


"Bintang," sapa Ikmal juga padaku.


Tanganku seketika mengepal dengan rahang yang mengeras. Ku tatap Ikmal dengan kebencian. Dia adalah sahabat baikku sejak duduk di bangku kuliah. Kami sama-sama dokter dan dia bekerja di rumah sakitku bersama Mona. Bayangkan, bagaimana mereka tega menurihkan duri tajam di hatiku hingga meninggalkan kecewa dan kebencian.


"Maafkan aku, Bintang." Ikmal menunduk.


Kenapa sekarang dia malu setelah membuat aku merasakan pilu? Apa Ikmal tahu betapa hancur aku saat ini ketika mendengar wanita yang ku cintai sepenuh hati menggandung anak dari lelaki yang ada di depanku ini.


"Aku sudah lama menyukai, Mona. Sejak kita duduk di bangku kuliah," jelasnya.


Kami bertiga memang bersahabat tetapi Mona adik tingkat kami. Kadang aku dan Ikmal sering datang ke kelas Mona hanya untuk menjengguk atau sekedar aku membawakan sarapan pagi untuknya. Kesibukan Mona dalam mengerjakan tugas kuliah apalagi kalau sudah koas, dia sampai melupakan kesehatannya. Aku tak mau dia sakit. Namun, siapa sangka justru dialah yang menjadi duri dalam daging.


"Aku izin membawa Mona pergi, Tang," ucapnya mengenggam tangan Mona di depanku.


Darahku langsung mendesis hebat. Seketika aku teringat pada Nara, perempuan yang berstatus istriku. Mungkin beginikah perasaan Nara saat melihat aku dan Mona?


"Ini surat resign kami. Terima kasih sudah mengizinkan kami bekerja di rumah sakitmu." Ikmal menyerahkan dua amplop putih padaku.

__ADS_1


Apa sebelumnya ini semua sudah mereka rencanakan? Menyakitiku sesuka hati tanpa memikirkan perasaan.


Mereka berdua menghilang di balik pintu, meninggalkan aku dalam kesunyian. Rumah ini memang milikku, beberapa waktu lalu aku membawa Mona pindah ke sini karena takut jika Nara mengadukan pada Ayah dan Bunda jika perempuan itu tinggal bersama kami.


Mataku berkaca-kaca, semburat rasa sakit dan hancur tercetak jelas dari tubuhku yang seketika melemah secara bersamaan. Titik-titik buliran bening bergulir dari kerling mata indahku.


Kucengkram dengan kuat kedua amplop di tanganku. Rasa sakit yang menjalar di dalam hati telah berubah jadi kebencian yang mendalam. Tak pernah aku bayangkan rasanya sesakit ini. Ku kumpulkan sejuta kekuatan untuk berdiri lalu kukoyak benda yang ada di tanganku. Siapapun mereka aku takkan memberikan maaf dan ampun lagi.


Aku berjalan keluar dari kamar dengan langkah gontai. Kakiku serasa berat untuk di injakkan. Ku pikir patah hati itu akan meninggalkan banyak luka yang mengembang di dalam dada tetapi kenapa baru beberapa saat saja aku sudah merasakan rindu Mona.


Langkah kakiku terhenti ketika sampai di ruang tamu. Banyak kenangan yang tertinggal di sini. Rumah ini memang sengaja aku beli untuk masa depanku dan Mona. Setelah berpisah dari Nara aku bermaksud mempersunting Mona menjadi istriku karena hanya dia wanita yang ingin aku nikah dan tentunya setelah mendapat restu dari Ayah dan Bunda.


Aku masuk ke dalam mobil. Tubuhku masih terasa lemah, untuk berjalan saja aku harus menguatkan diri agar tidak jatuh. Aku tak mengerti mengapa sebagian orang menyebutnya hanya sebagai patah hati karena ketika aku bangun, kudapati tubuhku rusak terpatah-patah.


.


.


"Nara," gumamku.


Ini pertama kalinya aku menyebut nama istriku. Ada rasa yang berbeda saat nama itu terlontar di bibirku. Perasaan yang dulu aku abaikan. Kenapa rasanya membuat jantungku berdebar?


Aku melangkah masuk ke dalam. Kulihat Nara sudah duduk dengan nyaman di depan televisi sambil menikmati cemilan di dalam toples. Selama ini aku tak pernah benar-benar menghargai dirinya. Bagiku dia adalah bayang-bayang yang hilang di tiup oleh angin malam.


"Kamu tdiak apa-apa?" tanyaku.


Dia menoleh kearahku dengan mulut yang penuh dengan snack. Dia menyambar jus di atas meja lalu menunggak isinya hingga habis.


"Hah?" Dia tampak terkejut ketika mendengar pertanyaanku.

__ADS_1


Aku duduk di dekatnya. Entah kenapa saat ini aku seperti membutuhkan Nara untukku bersandar?


"Aku mau bersandar boleh?"


"Hah?"


Tanpa menunggu persetujuannya aku bersandar di bahu rapuh istriku. Kenapa rasanya nyaman sekali? Ku pejamkan mata sejenak berusaha menetralisir emosi yang terasa menyeruak di dalam dadaku.


"Kamu pulang sama siapa?" tanyaku dengan mata yang masih terpejam tanpa melihat kearahnya.


"Kak Rimba yang mengantar, Mas."


Rimba, kenapa nama itu seperti tak asing? Kenapa nama itu seperti pernah aku dengar sebelumnya?


"Rimba teman SMA-ku?" tebakku.


"Iya, Mas," sahut Nara.


Suara lembut Nara masuk ke dalam indra pendengaranku. Suara halus dan lembut itu seolah mampu menenangkan jiwa yang terasa remuk redam.


"Mas, baik-baik saja?"


Pertanyaan itu membuat pipiku seketika panas. Kugigit bibir bawahku untuk menahan buliran-buliran tanpa warna yang ingin lolos di ujung pelupuk mataku. Nara bertanya apakah aku baik-baik saja? Jelas saat ini aku tak baik-baik saja, tetapi aku terlalu malu mengakui kejadian sebenarnya ada Nara. Bagaimana kalau dia mentertawakan aku karena merasakan perasaan yang sama sepertinya?


"Mas, apa kamu baik-baik?" tanyanya sekali lagi.


Aku bangkit dari bahunya lalu ku tatap wajahnya. Kenapa aku baru menyadari jika Nara begitu cantik dengan senyuman lebar yang membuat hatiku seketika menghangat?


"Bolehkah aku peluk kamu sebentar, Ra?" pintaku penuh harap. Entah kenapa aku ingin memeluknya?

__ADS_1


Dia tampak diam dan juga bingung. Beberapa kali dia menelan salivanya susah payah.


Bersambung...


__ADS_2