
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Diandra POV
Aku bangun pagi sekali, seperti biasa aku akan menyiapkan sarapan dan keperluan anak-anak ku ke sekolah.
"Pagi Mama," sapa Nara dengan tangannya yang mendorong roda kursi nya.
"Pagi sayang Mama," balas ku.
Aku pikir setelah berpisah dari Mas Galvin, aku takkan bahagia. Tetapi lihatlah sekarang, aku baik-baik saja dan kami bertiga selalu ceria setiap hari. Walau aku tahu di hati Nara dan Naro menyimpan kerinduan pada papa-nya.
"Oh ya Sayang, besok kita pulang kampung ya. Kita ketemu Kakek dan Nenek," ajakku.
"Iya Ma," sahut kedua anakku serentak.
Ya besok aku memutuskan pulang kampung untuk menjengguk ayah dan ibu. Benar kata Kak Dea, ayah sebenarnya sangat menyayangi ku. Hanya saja rasa kecewa dan marah di hatinya membuatnya seperti tak menganggap aku anaknya. Aku sekarang mengerti, kenapa ayah kecewa atas pilihanku? Ayah tahu bahwa lelaki yang menikah ku itu adalah lelaki yang salah.
Naro juga ikut duduk dikursi meja makan dan siap sarapan bersama aku dan Nara. Aku tersenyum melihat kedua anakku yang terlihat baik-baik saja, walau aku tahu jauh didalam lubuk hati mereka, ada luka yang sesungguhnya tertanam dengan sempurna.
"Sebelum makan jangan lupa berdoa terus," ucapku.
"Berdoa mulai!"
Aku mengajarkan doa pada anak-anak ku karena aku tahu kekuatan doa begitu luar biasa. Apalagi dalam keadaan seperti ini, aku butuh bimbingan Tuhan untuk menopang kehidupan ku dan anak-anak. Aku tak hidup sendiri diantara gelap nya dunia ini.
"Ma, Naro disuruh Bu Dessy ikut olimpiade matematika. Tapi Naro minta izin Mama dulu," ucap Naro dengan mulut yang sambil mengunyah makanan. Kedua anakku sangat suka nasi goreng seafood buatanku, apalagi di campur dengan potongan sosis dan sedikit daging ayam cincang.
"Nara juga disuruh ikut lomba puisi, Ma," sambung Nara
__ADS_1
"Apakah boleh, Ma?" tanya Naro meminta pendapat ku.
Aku tersenyum bangga, "Boleh banget Sayang. Mama bangga sama kalian berdua," ucapku tersenyum.
"Terima kasih Ma," sahut Nara dan Naro bersaman.
Ditengah keterpurukan ku menjadi seorang ibu, Tuhan mengirimkan dua malaikat yang seolah menjadi penyelamat hidupku. Kedua anakku adalah malaikat dari Tuhan. Kehadiran mereka seolah memberikan aku semangat untuk tetap melanjutkan pahitnya kehidupan yang sesungguhnya tak pernah ku inginkan ini.
"Kalian belajar yang benar ya, Nak," ucap ku lembut.
"Iya Ma," sahut Nara dan Naro bersamaan.
Aku bersyukur memiliki anak-anak yang cerdas dan tak pernah menuntut ku dalam banyak hal. Mereka tak meminta ini dan itu.
Setelah sarapan aku memesan taksi online yang akan mengantar kami ketempat aktifitas masing-masing.
"Nara. Naro. Belajar ya benar, Sayang. Mama kerja dulu. Jangan nakal, kalau ada apa-apa, bilang sama Bu Dessy," pesanku sambil mengecup kening Nara dan Naro secara bergantian.
"Naro jaga Kakak ya, Son," pesan ku seraya memperbaiki dasi kedua anakku.
"Da-da Mama," ucap Nara melambaikan tangan nya.
Naro mendorong kursi roda kakak nya memasuki gerbang sekolah. Aku menatap punggung kedua anak ku dari jauh. Didalam hati aku tak henti-henti nya mengucap syukur karena memiliki anak-anak yang sudah dewasa sebelum waktu nya. Tak hanya dewasa tetapi Nara dan Naro juga memiliki prestasi.
"Ohh kamu yang bernama Ara," ucap seseorang di belakang ku.
Aku terkejut dan menoleh. Keningku berkerut melihat wanita tersebut.
"Chelsea?" gumam ku.
"Iya, kamu masih ingat sama aku?" Chelsea memincingkan matanya menatapku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Ada apa?" tanyaku heran. Aku tak begitu dekat dengan Chelsea.
__ADS_1
"Pasti gara-gara kamu, Divta tidak mau kembali sama aku," tuding Chelsea.
Aku menghela nafas panjang. Pagi ini mood ku membaik, tetapi kenapa langsung rusak hanya karena kedatangan mantan istri Divta ini.
"Aku tidak mengerti maksudmu," ucap ku. Ya benar aku tidak mengerti, apa maksud nya mengatakan jika gara-gara aku, Divta tidak mau kembali padanya.
"Tidak mengerti atau memang pura-pura tidak mengerti?" Chelsea menunjuk wajah ku. "Aku tahu kamu suka sama Divta sejak kita SMA, jadi sekarang kamu sengaja mendekati nya supaya bisa merebut hatinya. Apalagi sekarang sudah janda," tuduh Chelsea.
Aku menatap Chelsea tajam. Tidak masalah aku dipanggil dengan gelar janda tersebut, hanya saja kenapa aku dituduh mendekati Divta?
"Bukan nya Divta mantan kamu. Terus untuk apa kamu kembali lagi sama dia? Bukannya kamu yang mengkhianati Divta? Menyesal ya, Mbak," ledek ku sambil melipat kedua tangan ku didada.
Plak
Aku terkejut ketika satu tamparan mendarat dipipiku. Pipiku sangat pedas.
"Kamu jaga omongan kamu. Kamu tidak tahu apa yang terjadi dan sekali lagi kamu dekat-dekat Divta, aku akan memberi perhitungan sama kamu," ancam Chelsea lalu masuk kedalam mobilnya.
Mataku mulai panas, pasti sebentar lagi aku akan menangis. Tetapi tidak, aku tidak boleh menangis. Ku usap pipiku yang terasa panas dengan pelan.
Aku menghela nafas panjang. Pagi-pagi sudah ada saja yang membuat ku emosi. Padahal aku dan Divta tidak memiliki hubungan apapun. Ku akui sebagai wanita normal, aku menyukai Divta. Tetapi tidak ada niat untuk ingin memiliki hati lelaki itu karena aku sudah sadar diri, bahwa aku dan Divta bagai langit dan bumi yang takkan mungkin bersama.
Sudah kuduga akan banyak yang beranggapan lain dengan kedekatan aku dan Divta. Walau status kami sama-sama tak memiliki pasangan, tetapi tetap saja di mata orang-orang kami tidak sepadan.
Aku masuk kedalam mobil taksi. Aku tak punya waktu untuk memikirkan masalah ini. Kenapa masalah dalam hidupku tak pernah usai, selesai yang satu datang yang baru.
Drt drt drt drt
Ku ambil benda pipih itu kedalam tas munggilku. Nama Divta tertera disana. Pasti Divta sudah sampai rumah dan ingin menjemput aku dan anak-anak. Tetapi aku menolak karena tidak mau merepotkan orang seperti nya.
Aku tak menjawab panggilan tersebut, aku hanya mengirim pesan dan mengatakan bahwa aku dan anak-anak sudah berangkat.
"Maafkan aku, Ta. Aku tidak aku kesalahpahaman ini membuat Chelsea terus mendatangi ku. Mulai sekarang aku akan jaga jarak sama kamu. Kita memang tidak seharusnya dekat, lebih dari seorang teman," gumam ku.
__ADS_1
Divta adalah sahabat setiaku. Dia sudah banyak sekali menolong dan membantu ku dalam segala hal. Bahkan hutang-hutang ku saja belum dibayar lunas pada Divta. Tetapi walau senyaman aku dalam hubungan pertemanan jika tidak ada status yang jelas tetap saja berakhir menyakitkan.
Bersambung....