Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 12.


__ADS_3

Mas Gevan ingin melakukan apa saja, aku bahkan tidak peduli lagi. Rasa sudah yang dulu bertahan berbulan-bulan itu ternyata perlahan pergi. Kini, semua terasa hambar, kabarnya bukan lagi yang membuat dadaku berdebar. Selamat berbahagia untuknya di sana, semoga segala yang dia terima bukan kejahatan yang sama. Aku hanya ingin menjalani hari-hari baru. Hal-hal yang tertunda karena patah hatiku yang pilu. Aku mulai menyadari satu hal perihal jatuh dan menjaga hati. Dia ada di bagian bisa membuatku jatuh hati, tetapi lemah urusan menjaga hati. Perasaannya dia biarkan dibeli rayuan, dia lepaskan pada hal-hal yang dihitung angan.


Dia dan hal-hal yang pernah kami lalui adalah alasan bagiku untuk menatap di dunia ini. Meski beberapa rencana seakan terancam sebagai kenangan belaka. Namun, hatiku tak pernah bisa kupungkiri. Aku tak pernah benar-benar beranjak dari segala sesuatu perihal dia. Segala yang pernah dengan sungguh kuimpikan. Sesuatu yang sampai saat ini masih kupertahankan. Masih ku perjuangkan.


Bagaimana mungkin aku bisa pergi, jika dia masih menjadi seseorang yang tinggal di hati. Orang yang dengan segala kecemasan kubiarkan menetap di sana. Harapan pun masih sama. Bisa menatap matanya berlama-lama. Bisa menjaga hatinya sepenuh jiwa. Dan tak ingin kemana-mana saat dia telah berkelana. Aku akan menemaninya bahkan dalam keadaaan terburuk yang dia punya. Namun, sayang semua angan itu telah hilang bersama dengan semua pengkhianatannya.


"Sayang."


Aku duduk di bibir ranjang Lala. Gadis kecil ku itu sedang belajar serius bersama Bik Arum yang sering menemani dia belajar jika aku tidak sempat atau ada urusan dengan butik. Tetapi sesibuk apapun aku. Aku selalu membagi waktu dengan anakku.


"Iya, Ma?"


Senyuman gadis mungil ini lah yang membuat aku bertahan hingga kini. Tatapan mata teduh dan sendunya seakan menjadi candu yang membuatku tak bisa berpaling.


Aku meminta Bik Arum keluar agar memberi aku dan Lala waktu dan ruang untuk berbicara.


"Boleh Mama bicara sama Lala sebentar?" pintaku.


"Boleh, Ma." Dia menutup buku pelajarannya.


Aku melipat kedua kakiku dan saling berhadapan dengan putru kecilku ini. Terselip rasa bersalah ketika melihat wajah polosnya. Aku ingin meminta maaf karena belum bisa memberinya bahagia seperti anak-anak pada umumnya. Dia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tua nya akan terpisah di saat dia masih belia.


Namun, walau kelak aku tak memiliki suami. Aku akan pastikan masa depan anakku aman dan terjamin. Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya agar hidup Lala bahagia kelak. Aku juga harus tegas tentang masalah pasangan hidupnya nanti. Aku tak mau dia gagal seperti aku. Sebab, di sakiti oleh orang yang di cintai tak hanya meninggalkan luka tetapi juga kebencian.


"Mama mau bicara apa?" tanya Lala tak sabar sembari menatap wajahku.


Andai saja dia tahu apa yang akan aku katakan. Mungkin dia memilih tidak mendengarkan sama sekali. Namun, bagaimanapun hari perpisahan itu akan tetap tiba. Anak perempuanku ini memang harus tahu.


"Lala sayang sama Papa?" tanyaku.


"Iya, Ma. Lala sayang banget sama Papa!" seru Lala yang terlihat bahagia.


Tuhan apakah aku rela menghancurkan kebahagiaan putriku dengan kenyataan yang akan aku katakan padanya. Tetapi bagaimana lagi Lala memang lambat laun akan tahu kenyataan ini.

__ADS_1


"Tapi, Nak. Mulai sekarang kita harus terbiasa tanpa Papa ya. Soalnya Papa tidak selalu bisa bersama dengan kita," ucapku mengusap kepala Lala.


"Lho, memangnya Papa mau ke mana, Ma?"


*


*


"Ada apa, Pak?" tanyaku pada Pak Rey.


"Calon istri saya ingin bertemu dengan Ibu," ucap pak Rey dengan senyuman kecut dan sendunya. Bertemu denganku? Apa yang ingin Kak Sherly lakukan.


"Saya mohon, Bu," pinta Pak Rey.


Aku mengangguk. Tidak mungkin aku menolak apalagi Kak Sherly pernah menjadi orang paling dekat denganku kala itu.


"Ayo, Pak."


"Kakak."


Aku berhambur ke arah ranjang Kak Sherly. Wajahnya kurus dan tinggal tulang. Penyakit ini benar-benar menggerogoti tubuhnya.


"Ta." Kak Sherly memaksakan senyum


"Ada apa Kakak panggil Tata ke sini?" tanyaku lembut. Dunia ini begitu sempit, aku bahkan tidak tahu jika calon istri Pak Rey adalah Kak Sherly.


"Ta, rasanya Kakak sudah tidak mampu bertahan."


"Kak, jangan bicara begitu. Kakak harus semangat untuk sembuh. Sebentar lagi Kakak menikah sama Pak Rey," ucapku mengenggam tangan kurusnya yang terasa dingin.


Bayangkan tubuh sebagus dan selangsing itu kini tinggal kulit dan tulang. Bahkan kondisi Kak Sherly sangat mengenaskan.


Dia menggeleng, "Kakak lelah, Ta." Dia meringis kesakitan.

__ADS_1


Air mataku lolos. Jujur saja aku kasihan melihat kondisi tubuh Kak Sherly sekarang. Tak bisa kubayangkan bagaimana sakitnya jarum-jarum suntik yang menusuk bagian tubuhnya yang lain.


"Kakak boleh meminta sesuatu sama kamu?" ujarnya.


"Kakak ingin meminta apa?" tanyaku.


Dia mengambil tanganku lalu mengambil tangan Pak Rey dan menyatukan tangan kami berdua.


"Menikahlah dengan Rey," pinta Kak Sherly.


Aku dan Pak Rey terkejut dan sontak saling melihat satu sama lain. Bagaimana bisa aku menikah dengan lelaki lain sementara aku wanita bersuami walau sebentar lagi aku akan bercerai dari Mas Gevan.


"Tapi, Kak_"


"Kakak mohon, Ta. Kabulkan permintaan Kakak sekali ini saja. Kakak ingin ada yang menjaga Rey saat Kakak sudah tidak ada nanti," mohon Kak Sherly lagi dengan suara yang parau dan serak.


Aku memang kasihan pada Kak Sherly tetapi untuk menikah dengan Pak Rey. Rasanya itu hal yang tidak bisa aku kabulkan. Apalagi sekarang, aku belum bercerai secara sah dari suamiku.


Aku dan Pak Rey keluar dari ruangan rawat inap Kak Sherly. Kami duduk di kursi tunggu dan saling diam satu sama lain. Bagaimana bisa dan tidak akan mungkin bisa menikahi pria lain, apalagi aku sama sekali memiliki rasa apapun pada Pak Rey.


"Apa yang harus kita lakukan, Pak? Saya tidak mungkin menikah dengan Bapak karena saya sudah punya suami?" tanyaku dalam kebingungan.


Pak Rey juga tampak frustasi. Dia mengusap wajahnya kasar.


"Saya sudah mencari perempuan lain tetapi Sherly tetep keukeh meminta saya menikahi kamu sebelum dia pergi. Katanya dia ingin menebus semua kesalahannya pada Naro," jelas Pak Rey.


"Tapi Kak Sherly itu salahnya sama Kak Naro, Pak. Bukan sama saya. Saya sama sekali tidak tahu menahu masalah hubungan mereka," jawabku.


Kami berdua tidak hanya bingung tetapi juga tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kami dua orang yang baru saling kenal satu sama lain.


"Tata!"


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2