
Rein dan Gevan di panggil ke ruangan dekan. Wajah kedua lelaki itu lebam dan luka-luka.
"Apa masalah kalian berdua sehingga baku hantam begini? Apa kalian mau jadi jagoan?" tatap sang dekan menggeleng saja. Padahal kedua mahasiswa di depannya ini adalah pria-pria yang memiliki prestasi dan di perhitungkan keberadaannya disini.
Tak ada yang menjawab. Keduanya diam dan kompak menampilkan wajah dinginnya.
"Jawab Bapak, Gevan, Rein!" ujar sang dekan lagi.
"Tanya saja dia, Pak. Dia yang lebih dulu memukul saya," jawab Gevan. Dia merasa dirinya tak bersalah. Siapa yang akan diam saja jika wajahnya di pukup oleh orang lain.
"Rein," panggil Surya, dekan di kampus keduanya mengemban ilmu.
"Karena dia salah, Pak," jawab Rein.
Surya menghela nafas panjang. Ini pertama kalinya terjadi keributan di kampus tempat dia mengajar, apalagi kedua pria di depannya ini adalah mahasiswa anak kedokteran yang memiliki prestasi dan membanggakan kampus.
"Jadi tidak ada yang mau jawab apa masalahnya?" Surya memincingkan matanya. "Baiklah, Bapak akan panggil orang tua kalian," ancamnya.
"Jangan, Pak," sarkas Rein dan Gevan.
Sementara Mentari duduk di tengah-tengah kedua pria itu. Dia juga ikut di panggil setelah Rein dan Gevan membuat keributan di kampus.
"Tari, mungkin kamu tahu apa masalahnya?" tanya Surya pada gadis tersebut. Mentari salah satu mahasiswa yang memiliki prestasi di kampus ini, sangat di sayangkan jika dia membuat masalah.
"Saya tidak tahu, Pak. Apa masalah mereka? Saya juga mendapat laporan dari teman-teman kalau mereka berkelahi. Saat saya tiba di tempat kejadian mereka memang sudah saling memukul," jelas Mentari jujur.
Surya mengangguk. Lalu kembali menatap Rein dan Gevan secara bergantian.
"Ayo, jawab pertanyaan Bapak!" suruh Surya pada keduanya.
Rein menarik nafasnya dalam lalu melirik Gevan dengan sinis.
"Dia mendekati gadis yang saya sukai, Pak," jawab Rein.
"Gadis yang kamu sukai?" ulang Surya dan Rein mengangguk serta mengiyakan pertanyaan Surya.
"Siapa?" Surya menatap selidik ketiga mahasiswa-nya tersebut.
"Mentari, Pak," jawab Rein jujur.
Mentari menghela nafas panjang, lagi-lagi dirinya bermasalah padahal dia tidak tahu apa-apa. Sedangkan Gevan diam dengan tenang sambil memasukan kedua tangannya di saku celana.
Berbeda dengan Surya yang tampak terkejut, lalu dia menatap Mentari dan Rein secara bergantian. Dia tak menyangka jika hal sepele seperti ini hanya karena seorang gadis lalu keduanya baku hantam satu sama lain.
__ADS_1
"Gevan kamu juga suka sama Mentari?" tanya Surya melihat Gevan.
"Pak, di_"
"Iya, Pak," jawab Gevan.
Mentari melirik keponakan dan terkejut ketika mendengar pengakuan Gevan. Tetapi dia tahu bahwa keponakannya ini sedang berbohong dan mengelabui dekan mereka. Mungkin saja Gevan malu mengakui dirinya sebagai tante.
Tangan Rein kembali mengepal dan melihat Gevan dengan marah. Dia tidak akan biarkan orang lain memiliki Mentari, gadis itu hanya miliknya dan semua itu takkan berubah. Dia tidak akan lepaskan gadis yang dia kejar setengah mati tersebut.
"Kenapa hanya masalah wanita kalian sampai baku hantam begini?" tanya Surya geleng-geleng kepala.
"Karena tidak ada yang remeh jika berbicara tentang perasaan, Pak," jawab Gevan cepat tetapi wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun.
Surya mendelik kearah anak didiknya itu. Anak muda memang selalu saja menemukan kata-kata puitis seperti itu.
"Selesaikan masalah kalian bertiga dengan baik. Bapak tidak mau ada keributan lagi di kampus," ucap Surya yang pusing meladeni anak-anak yang mau menginjak usia dewasa tersebut.
.
.
"Aw." Gevan merintih saat Mentari mengobati luka di wajahnya.
"Aku tidak salah, dia yang memukulku dulu," sahut Gevan membela diri.
Mentari menghela nafas panjang dan masih mengobati luka di wajah keponakannya itu sebelum pulang ke rumah.
"Katanya mau melindungi, Tante. Tapi malah berantem seperti ini," sindir Mentari geleng-geleng kepala.
Gevan menatap wajah tante-nya yang begitu dekat. Aroma parfum yang keluar dari tangan Mentari menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Selama ini mereka memang tak dekat karena Gevan yang dingin dan sulit di dekati.
"Kenapa melihat Tante seperti itu?" tanya Mentari melihat keponakannya aneh.
"Aku tidak mau Tante dekat dengan Rein," ucap Gevan.
"Tante tidak pernah dekat dengan dia," sahut Mentari.
"Tapi dia suka sama Tante," sahut Gevan cepat.
"Tapi Tante tidak suka dia," jawab Mentari yang masih membersihkan luka di wajah keponakannya itu.
"Lalu Tante suka sama siapa?" tanya Gevan menatap wajah Mentari serta menunggu jawaban dari tante-nya tersebut.
__ADS_1
Mentari terdiam. Jika di tanya, dia suka pada siapa? Jelas jawabannya Divta karena hanya lelaki itu yang dia suka dan dia cintai.
"Kenapa diam?" tanya Gevan.
"Kamu masih kecil belum pantas tahu masalah orang dewasa," ujar Mentari terkekeh.
"Kita seusia dan hanya beda beberapa bulan saja," sanggah Gevan lagi.
"Tetap Tante yang paling tua," jawab Mentari.
Saat ini keduanya sedang berada di Cafe Aming sambil menikmati kopi di sana. Sebab Gevan tidak mau di bawa ke klinik atau ke puskesmas apalagi rumah sakit dan mau nya disini.
"Lain kali jangan berkelahi. Tidak salahnya kita mengalah," ucap Mentari menyimpan obat-obatan yang dia beli di apotik tadi.
"Aku tidak mungkin diam saja jika ada yang memukulku," sahut Gevan.
"Kecuali di serang duluan," ralat Mentari. Keponakannya memang pintar, maklum anak kedokteran. "Masih sakit?" Mentari menyentuh luka keponakannya. Hal tersebut sukses membuat Gevan terpesona akan kecantikan gadis yang berstatus sebagai tante-nya tersebut.
"Nanti suruh Mama yang obati," sambung Mentari menjauhkan tangannya dari wajah Gevan. Dia tidak tahu jika tingkahnya tersebut membuat keponakannya itu salah tingkah.
"Kita langsung pulang soalnya Mas Mat dan Mas Marcel mau datang," ucap Mentari.
"Iya," jawab Gevan berdiri.
"Mampu berjalan atau perlu di bantu?" tawar Mentari.
Gevan mengangguk sepertinya memang perlu dibantu karena bagian kakinya terasa sakit akibat terjangan Rein di bagian kakinya.
"Sini, Tante bantu."
Mentari melingkarkan lengan Gevan di lehernya. Walau seusia tetapi tubuh Gevan lebih tinggi dan besar darinya.
"Ck, kenapa kamu tingui banget?" protes Mentari sambil membantu keponakannya itu berjalan.
"Tante saja yang pendek," sahut Gevan terkekeh seraya berjalan pelan. Sebenarnya dia memang perlu di rawat karena beberapa bagian tubuhnya terasa remuk redam.
"Dih, bukan pendek tapi kurang tinggi," celetuk Mentari membela diri.
"Tari."
Langkah keduanya terhenti ketika mendengar nama Mentari di panggil.
"Mas Divta."
__ADS_1
Bersambung.....