
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku bangun sangat pagi. Menjadikan orang tua tunggal dan menjalani dua peran sekaligus bukanlah hal yang mudah. Terlebih ada banyak yang hal yang mulai berubah. Aku harus terbiasa tanpa suami.
"Pagi Mama," sapa Naro yanga sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Pagi Sayang," balasku sambil mengaduk nasi goreng didalam wajan.
"Perlu Naro bantu, Ma?" tawar Naro.
"Tidak perlu, Sayang. ini sudah mau selesai," sahutku
Aku meletakkan nasi goreng diatas meja makan dan tak lupa membungkuskan bekala untuk kedua anakku.
"Nara, ayo sarapan, Nak," ajakku mendorong kursi roda Nara
Hari ini Nara dan Naro kembali masuk sekolah. Aku bersyukur Nara bukan tipe anak yang minder. Saat tahu dia tak bisa berjalan seperti biasa. Nara sama sekali tidak keberatan, dia justru menerima kondisinya. Dia tidak pernah mengeluh meski aku tahu dia tak sekuat itu.
"Nak, nanti kalian tunggu dirumah Dessy ya. Mama hari mau cari kerja. Nanti Mama jemput disana," ucapku memperbaiki dasi Nara.
"Iya Ma," sahut mereka berdua serentak.
Bu Dessy, adalah wali kelas Nara. Kebetulan dia tinggal di mess yang tidak jauh dari sekolah. Dia masih single dan belum memiliki tanggungan. Keluarga besar nya menatap di Sanggau. Jadi aku bisa menitipkan anak-anak pada Bu Dessy, selama aku bekerja.
"Ayo," ajakku
Aku mendorong kursi roda Nara. Taksi yang kupezan sudah kupesan sudah menunggu didepan rumah.
Aku masih memiliki sedikit tabungan untuk bertahan hidup sampai aku mendapatkan pekerjaan kembali. Hari ini aku harus mendapatkan pekerjaan.
Sampai disekolah Nara dan Naro, aku turun duluan dari mobil menurunkan Nara.
"Sayang, kalian sekolah yang benar yaa," pesanku.
Sejujurnya aku sedikit trauma atas kecelakaan kedua anakku kemarin. Tapi aku percaya mereka baik-baik saja. Tuhan akan menjaga mereka berdua selama aku tak ada disamping mereka.
__ADS_1
"Iya Ma," sahut Nara dan Naro bersamaan.
"Naro, jaga Kakak yaaa. Mama titip Kakak sama Naro," ucapku sambil mengecup kening anakku dengan sayang.
"Iya Mama," sahut Naro membalas ciuman dipipiku.
Aku mengantar kedua anakku sampai gerbang, kali ini aku tak mau lenggah lagi. Aku harus pastikan bahwa mereka berdua baik-baik saja. Rasa takut dan trauma itu masih saja menghantui pikiran ku.
Setelah memastikan Nara dan Naro masuk kedalam area sekolah. Aku kembali ke dalam mobil taksi. Hari ini aku akan membawa surat lamaran ke perusahaan yang Mas Bayu rekomendasikan. Aku sudah lulus administrasi, data yang ini akan digunakan untuk validasi ulang.
Aku pikir takkan bisa hidup tanpa Mas Galvin. Pasti akan sulit melangkah tanpa mantan suami ku itu. Namun, aku malah baik-baik saja. Selama ada Nara dan Naro, duniaku akan baik-baik saja.
Benar kata Divta, aku hanya terbiasa dengan Mas Galvin bukan tak bisa hidup tanpanya. Aku percaya jika sudah terbiasa, maka takkan berat lagi.
Aku menatap gedung pencakar langit didepanku. Aku menghela nafas panjang. Ini adalah kantor tempat Mas Galvin bekerja, namun aku tak ada pilihan lain. Aku harus melawan semu perasaan yang tak nyaman.
"Ra," langkah kaki ku terhenti saat ada yang memanggil namaku.
Aku menoleh kearah sumber suara. Kulihat Mas Galvin berjalan dengan jas rapi seperti biasa. Mantan suami ku ini memang lelaki yang mencintai kebersihan.
"Ada apa, Mas?" tanyaku mengerutkan keningku.
Tak ada lagi getaran dalam dada seperti dulu. Apakah semudah itu perasaan cinta terhadap Mas Galvin menghilang? Aku memang memiliki jiwa pendendam. Sekali saja di sakiti, aku takkan memberikan maaf. Perasaan ku akan hilang terhadap orang itu.
Mas Galvin memang tak berubah sama sekali. Aku tahu dia masih mencintai ku. Hanya saja dia tak bisa membedakan antara cinta dan nafsu.
"Aku melamar disini," jawabku tanpa melihat Mas Galvin.
Tidak ada yang tahu bahwa aku adalah mantan istri Mas Galvin kecuali Pak Deddy dan Lusia. Itupun karena mereka sering datang kerumah membahas pekerjaan dengan Mas Galvin.
Terlihat Mas Galvin menghela nafas panjang. Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki ini. Tapi apapun yang dia pikirkan bukan urusanku lagi.
"Mas, aku duluan," pamit ku sambil membungkuk hormat.
Aku berjalan masuk. Kantor ini sangat besar, bahkan ini perusahaan sawit terbesar di Kalimantan. Dalam hati aku merapalkan doa semoga aku diterima bekerja disini. Sebab ada dua nyawa yang harus ku beri makan. Meski hanya lulusan sekolah menengah atas aku memiliki keahlian di bidang akuntansi.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang resepsionis padaku.
"Pagi Mbak. Saya Diandra Gautama, yang kemarin di panggil untuk validasi data," jelas ku.
__ADS_1
"Ibu Diandra ya," ucap wanita itu. "Tunggu sebentar yaa, Bu," sambung nya.
Aku membalas dengan senyuman dan anggukan. Sejujurnya aku sedikit gugup. Apalagi sebelum nya aku tak pernah bekerja. Pengalaman ku tidak ada selain ibu rumah tangga.
"Bu, silahkan masuk keruangan HRD ya, Bu. Dilantai 4," jelas sang resepsionis.
"Terima kasih, Mbak," sahutku.
Aku masuk kedalam lift sambil menghela nafas panjang.
"Semoga diterima," gumamku sambil menangkup kedua tangan didada.
Aku butuh pekerjaan, aku butuh pemasukan. Anak-anak ku harus memiliki masa depan yang cerah meski tanpa seorang ayah.
"Astaga, maaf Pak." Aku berjingkrak kaget ketika melihat seorang lelaki berdiri disamping ku sambil menatap kedepan.
Lelaki itu tak menjawab dia hanya merepson dengan anggukan. Lalu kembali menatap kosong kearah depan.
Aku setengah bergeser dan menjauh. Sial, kenapa lift ini lama sekali sampai nya? Sambil menunggu lift terbuka, aku kembali melamun, memikirkan nasibku yang begitu malang. Menikah karena cinta malah berpisah karena orang ketiga. Rasanya ingin tertawa, tapi apa tidak berdosa mentertawakan kebodohan sendiri.
Drt drt drt drt drt
Segera aku meronggoh ponsel ku. Siapa yang menelpon pagi-pagi seperti ini?
Aku tersenyum saat melihat nama siapa yang tertera dilayar ponsel ku. Ya dia Divta, setiap hari Divta akan menelpon untuk menanyakan kabarku dan anak-anak.
"Hallo Ta," sapaku.
"Kamu sudah di kantor?" tanya Divta diseberang sana.
"Iya, Ta. Ini aku lagi menuju ruang HRD," jawabku.
"Ya sudah, jangan lupa makan siang ya. Aku masih lama dinas nya. Mungkin minggu depan baru pulang," jelas Divta. Padahal aku tidak bertanya.
"Iya Ta. Kamu juga ya, jaga diri baik-baik," balas ku.
"Pasti," sahut Divta, terdengar kekehan nya di seberang sana.
Setelah berbincang dengan Divta, aku mematikan sambungan. Beberapa hari yang lalu Divta ada perjalanan dinas diluar kota selama seminggu. Jadi dia tidak bisa menjengguk aku dan anak-anak.
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Aku keluar dari lift meninggalkan pria tadi. Dia tidak keluar, mungkin ruangannya berada dilantai atas. Jika kulihat, dia bukan orang sembarangan.
Bersambung....