
Aku tahu bahagia adalah pilihan, meski sebenarnya tak ada yang benar-benar bisa dipilih oleh manusia. Tak ada satu pun yang mampu menjadi sebuah kepastian. Hidup sesungguhnya adalah kumpulan cemas, kumpulan ketakutan yang di samarkan. Kegamangan yang dikuat-kuatkan.
Dan akhirnya aku memilih menyerah memperjuangkan cinta yang selama ini ingin kudapatkan. Tak ada niat untuk pergi karena cinta tetapi beginilah caraku menghapus semua kenangan yang menyergap dada.
"Nara, kita benar-benar terpisah. Entah kenapa aku selalu berharap bahwa kamu akan kembali sama aku. Walau aku tahu, itu semua ketidakmungkinan. Nara, tolong beritahu aku bagaimana caranya untuk melupakan kamu. Kenapa rasanya sakit? Kenapa aku merasa kamu tidak bahagia sama Rimba walau kamu mengakui telah bahagia saat ini."
Entah kenapa aku bisa menangkap kebohongan di mata Nara saat dia mengatakan baik-baik saja dalam hubungannya bersama Rimba.
Aku duduk di bibir ranjang sambil memeluk figura di tanganku. Foto pernikahan kami yang sempat terabadikan satu tahun yang lalu. Singkat tetapi penuh makna.
"Ra, jika aku tak bahagia. Kamu harus bahagia. Kamu harus bahagia, Nara. Meski tanpa aku. Aku akan baik-baik saja di sana. Semoga kita bisa bertemu walau pada akhirnya menjadi orang asing."
Kumasukkan barang-barangku ke dalam koper. Hari ini aku akan pindah ke Singkawang bersama keluarga besar. Jika boleh jujur, aku belum siap meninggalkan kota ini. Aku belum siap pergi dari sini. Tetapi apalagi yang perlu aku tunggu, bukankah semua sudah terlambat? Semua kenangan yang tersisa takkan mungkin bisa bermakna lagi.
"Son," panggil Bunda.
Segera aku menyeka air mataku karena tak mau ketahuan bahwa aku sedang menangis.
"Iya, Bunda?" Aku menyambut wanita itu dengan senyuman.
"Apa sudah siap?" tanya Bunda.
"Sudah, Bunda," jawabku.
Seandainya masih ada rasa cinta di hati Nara untukku mungkin aku akan memperjuangkan cinta kami. Tetapi sepertinya hati Nara memang sudah tak bisa lagi kumiliki walau aku melakukan banyak cara.
"Iya sudah, ayo," ajak Bunda.
Aku akan mencoba melupakan Nara. Meski setiap kali kalimat itu kukatakan ada bahagia yang hilang dari dadaku. Dia benar-benar bisa membuat semua yang awalnya baik-baik saja remuk tak terkira. Dia berhasil membuat aku masuk ke dalam bagian hidupnya. Lalu aku merasa penting di sana. Tiba-tiba dia memilih menyingkirkan aku dengan teramat tega. Dia bermain terlalu manis. Aku tak pernah menduga bahwa segala hal yang disebut cinta. Tak lebih hanya bahan bakar untuk memanaskan kenangan berkala. Maaf, aku terkesan menyalahkan Nara padahal dia tak salah. Memang aku yang salah sejak awal. Tetapi hatiku ini selalu saja merasa tak puas dengan segala rasa sakit yang menyeruak masuk.
__ADS_1
Aku dan Bunda keluar dari kamar sambil menyeret koperku. Di sana anggota keluarga sudah menunggu, ada sahabatku Betrand juga.
"Semoga bahagia, Bro." Betrand menyalami aku dan kami saling berpelukan satu sama lain.
"Terima kasih," jawabku.
"Sudah siap semuanya?"
Kami semua mengangguk. Aku berjalan menuju mobil. Entah kenapa aku berharap Nara datang dan mencegah aku pergi seperti di film-film layar lebar atau FTV. Namun, nyatanya itu tak berlaku untuk diriku. Mana mungkin Nara datang? Dia sudah bahagia bersama Rimba.
"Son, kenapa? Ayo masuk," ajak Ayah.
Aku mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju Singkawang cukup memakan waktu lama.
"Kamu baik-baik saja, Son? Apa bisa menyetir?" tanya Ayah yang terlihat mengkhawatirkan aku.
"Bintang tidak apa-apa, Yah," kilahku menjalankan mesin mobil.
"Bunda, kalau nanti Bee sudah lahiran. Jangan lupa ajak Kak Nara," ucap Bee yang berhasil membuat kami bertiga bungkam terutama aku.
Bunda membalas dengan anggukan. Walau aku tahu jauh di dalam lubuk hatinya merasakan hampa.
"Oh ya, Son. Siapa gadis bernama Ve?" tanya Ayah yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
Aku mendelik kearah Ayah ketika menyebut nama gadis yang begitu aku kenal. Beberapa hari ini aku dan Ve memang jarang bertemu lantaran aku yang sibuk dengan kasus Bee.
"Kenapa, Yah?" tanyaku.
"Tadi, Ayah dengar kalau dia terlibat dalam kasus portitusi," jelas Ayah.
__ADS_1
Aku terkejut dan melihat kearah tak percaya. Aku memang tak mengenal sifat Ve tetapi sepertinya dia anak yang baik apalagi di usia belia seperti itu.
"Kok bisa?"
"Ini lagi viral. Katanya di jebak sama temannya," jelas Ayah.
Aku terdiam sejenak. Ve adalah adik tiri Nara dan sampai sekarang Nara tidak tahu di mana adiknya tersebut karena Ve seperti sengaja menjaga jarak dengan Nara.
"Ayah pernah lihat kamu sama dia waktu di restaurant," sambung Ayah. Pantas saja Ayah bertanya apa aku mengenal gadis itu.
"Iya, Yah. Bintang kenal sama dia karena tidak sengaja menabraknya beberapa hari yang lalu," jelasku. "Dia saudara tiri Nara," tuturku lagi.
Bukan hanya Ayah yang terkejut tetapi juga Bunda dan Bee yang duduk di bangku belakang.
"Saudara tiri Nara?" ulang mereka bertiga secara bersamaan.
"Iya. Anak dari istri kedua Ayah Nara. Ibu Ve sekarang masih di penjara karena kasus kecelakaan Nara dan Naro waktu kecil. Sedangkan Papa Nara meninggal karena mendonorkan jantungnya untuk Nara." Aku sebenarnya tidak tahu seperti apa masa lalu Nara. Aku juga baru tahu jika dia pernah transplantasi jantung beberapa belas tahun yang lalu setelah aku menyelidiki semuanya.
"Nara pernah operasi jantung, Mas?" tanya Bee di bangku belakang.
"Iya," jawabku.
Kami semua langsung terdiam. Kukira hanya aku yang tidak tahu masa lalu Nara ternyata kedua orang tua ku juga. Mungkin mereka memang dekat dengan Daddy Dante dan Mama Ara tetapi mungkin saja kedua orang tua Nara tidak pernah membahas masa lalu yang di alami oleh Nara.
"Ternyata masa lalu Kak Nara sungguh rumit ya, Bund. Kasihan sekali Kak Nara," ucap Bee bersandar pada Bunda. "Andai saja dia masih jadi kakak ipar Bee. Pasti Bee bahagia sekali," sahut Nara dengan wajah sendunya.
Hal tersebut berhasil membuat aku terdiam. Setelah mencoba lepas dari patah dan rapuhnya hati. Aku mencoba berdiri. Bagaimanapun, aku harus tetap berjalan. Aku harus tetap bertahan hingga waktu yang tidak ditentukan. Sebab aku percaya. Suatu hari nanti dia akan kembali bercerita mengapa dia memilih pergi. Entahlah, apa aku terlalu percaya diri yang berharap jika Nara akan kembali.
"Walau Kak Nara sudah bukan kakak ipar Bee. Tetapi Kak Nara masih sayang sama Bee. Jadi jangan bersedih ya, Sayang," bujuk Bunda mengusap perut buncit Bee dengan sayang.
__ADS_1
Bersambung...