
"Siapa dia, Divta?!" hardik Chelsea menatap Mentari dengan benci.
"Maaf Nona, saya hanya pengasuh Tuan Muda," jawab Mentari sambil menunduk dengan keringat dingin yang mengucur di bagian dahinya.
"Oh jadi seleramu sudah turun, Div?" ledek Chelsea.
Divta diam saja seraya menggandeng tangan mentari. Dia bisa rasakan bahwa gadis ini sedang ketakutan.
"Dengan siapapun aku berhubungan itu bukan urusanmu," sahut Divta dingin dan sama sekali tidak takut dengan wajah marah Chelsea.
"Jelas urusanku, aku masih istrimu," ucap Chelsea dengan percaya dirinya.
"Itu dulu, bukan sekarang!" sergah Divta dengan senyuman meledek.
Chelsea mengeram kesal dengan wajah merahnya.
"Dengarkan aku Divta. Aku tak akan membiarkan siapapun memilikimu termasuk gadis kampung ini!" ucap Chelsea.
Setelah berkata dan membuat ulah wanita itu melenggang pergi. Mereka menjadi pusat perhatian karena masih di acara pesta. Untung saja Divta orang yang di hormati oleh orang-orang yang ada disana sehingga dirinya tidak di hakimi.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada Mentari yang menunduk.
Mentari setengah mati menahan malunya. Tangan kirinya meremas ujung gaun yang dia kenakan. Dia memang miskin tetapi juga memiliki perasaan.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa, Pak," sahut Mentari tersenyum tipis.
"Ya sudah ayo kita pulang," ajal Divta. Mentari menjawab dengan anggukan.
Keduanya keluar dari hotel. Mentari tak mengeluarkan sepatah kata pun, ucapan Chelsea tadi masih terus terngiang di kepalanya. Apa dia seburuk dan semiskin itu sehingga dirinya pantas di hina?
"Jangan pikirkan kata-kata Chelsea," ucap Divta melirik Mentari. "Saya sudah tak punya hubungan apa-apa sama dia. Dia hanya mantan istri saya," jelas Divta lagi yang takut jika Mentari salah paham.
"Iya Pak," jawab gadis itu kembali membuang pandanganya kearah samping.
Mentari hanya polos biasa yang hidupnya standar kehidupannya di bawah rata-rata. Dibalik wajah polos tersebut dia memiliki sisi lemah yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain.
"Jangan di masukkan dalam hati," ucap Divta lagi melihat wajah Mentari yang tampak tak bersahabat.
Sampai di kediaman Divta, kedua orang berbeda usia dan jenis kelamin tersebut turun dari motor. Wajah Mentari tampak sendu karena mengingat penghinaan Chelsea.
"Pak, saya duluan," pamit Mentari.
"Iya sudah langsung istirahat saja."
Mentari berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya. Dia menahan lelehan bening yang ada dipipinya. Dia memang gadis miskin tetapi ketika mendengar penghinaan dari Chelsea membuat hatinya berdenyut sakit.
"Kau kenapa, Nak?" tanya Susanti melihat wajah putrinya yang tampak sedih.
__ADS_1
"Bu," panggil Mentari.
Gadis itu berhambur memeluk sang ibu sambil menangis terisak. Entah kenapa ucapan Chelsea yang mengatakan dia gadis miskin masih saja terngiang di kepalanya. Dia memang miskin tetapi dia juga memiliki harga diri dan perasaan.
.
.
Divta menatap kearah kamar Mentari, dia merasa bersalah dan tak nyaman pada gadis itu.
"Maaf Tari," lirihnya.
Divta memang tak dekat dengan pengasuh anaknya tersebut, jadi dia tidak tahu sifat Mentari yang sebenarnya.
"Aku jadi merasa tidak enak dengan Tari," gumam Divta.
"Chelsea. Chelsea."
Dia menggelengkan kepalanya saat mengingat sikap Chelsea yang tak juga menyerah menggapai cintanya. Padahal sudah jelas jika Divta menolak kembalinya Chelsea dalam hidupnya tetapi wanita itu tak jua menyerah hingga sekarang.
Bersambung...
Maaf guys lagi kurang sehat jadi hanya 500 kataš¤§
__ADS_1