
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku duduk disini, menyaksikan Mas Galvin, mantan ibu mertua serta Lusia yang tengah berada di kursi sidang. Mereka bertiga duduk dengan menunduk, apalagi bidikan kamera dari para wartawan saling bersahutan satu sama lain .
"Atas pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Saudaranya Namira dan Lusia kepala Nara dan Naro, anak dari Diandra maka sesuai undang-undang akan dijatuhkan hukuman penjara seumur hidup," ucap hakim
Aku tersenyum sinis, lunas sudah ku bayar semua rasa sakit yang kurasakan selama ini. Penghianatan yang Mas Galvin dan Ibu berikan padaku telah merasakan rasakan juga.
"Untuk saudara Galvin atas kelalaian dalam menjaga ibu dan istrinya maka akan dijatuhkan hukuman penjara selama dua puluh tahun," sambung sang hakim
Ibu dan Lusia menangis histeris diatas lantai. Sementara Mas Galvin hanya menunduk. Mungkinkah ada perasaan menyesal dihatinya karena telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya.
"Dengan ini sidang di tutup."
Tok tok tok
Tiga kali palu itu dipukul yang artinya siang sudah selesai. Aku memejamkan mataku sejenak. Entahlah, antara puas dan perasaan bersalah. Aku hanya memberi mereka pelajaran. Untungnya mereka tidak dipidana hukuman mati atas pembunuhan berencana, hakim masih memberikan keringanan karena satu dan lain hal.
"Ra, kamu baik-baik saja?" Divta mengenggam tangan ku.
Aku sengaja tak membawa Nara dan Naro dalam persidangan ini, aku tak mau mereka melihat kehancuran yang terjadi pada ayah mereka. Aku paham perasaan anak-anak seperti kedua anakku, pasti mereka menginginkan keluarga yang utuh. Sama aku juga. Tetapi apalah dayaku yang tak mampu menyediakan kebahagiaan itu untuk Nara dan Naro.
"Aku baik-baik saja Ta," jawabku.
Seketika aku terkejut ketika ada yang menarik rambutku dengan kuat.
"Dasar perempuan ******, perempuan murahan, perempuan tak punya hati!" hardik mantan ibu mertua menarik rambutku.
"Lepaskan," sentak Divta.
Seketika suasana menjadi riuh dan ricuh. Rambut ku kusut dan berantakan akibat jambakkan mantan ibu mertua.
Mantan ibu mertua bersama Mas Galvin dan Lusia langsung diamankan oleh pihak kepolisian.
__ADS_1
"Ra kamu baik-baik saja?" tanya Mas Bayu.
"Memang dasar perempuan gatal," sindir Kak Dea.
"Sudah. Sudah. Ayo kita pulang," ajak Divta.
Sekilas tatapan ku dan Mas Galvin bertemu. Wajah Mas Galvin tampak sendu. 20 tahun penjara bukan waktu yang sebentar, bahkan tidak jauh beda dengan seumur hidup. Namun, itulah hukuman untuk orang-orang yang melakukan kejahatan seperti Mas Galvin dan keluarga nya.
Aku berjalan keluar dari ruangan sidang. Kepalaku masih terasa ngilu akibat tarikan dari mantan ibu mertua. Harusnya aku yang marah bukan dia karena aku tidak salah.
"Jangan terlalu dipikirkan," bisik Divta. Saat ini kami sudah berada didalam mobil Mas Bayu. Dibangku depan, ada Kak Dea dan Mas Bayu. Sedangkan di belakang aku dan Divta.
"Kamu sudah aman Ra," ucap Mas Bayu ikut menimpali.
"Terima kasih Mas, sudah bantu," sahutku.
Aku bersyukur ada orang-orang yang mau mendukung ku dalam hal ini. Mas Bayu, Kak Dea dan Divta adalah orang-orang yang Tuhan kirim untuk membantuku berdiri. Aku berharap mereka diberikan kesehatan yang luar biasa hingga hidup mereka pun bahagia kelak.
"Bagaimana pengobatan Nara?" tanya Mas Bayu.
"Uangku belum terkumpul, Mas," ucapku.
"Kakak juga punya tabungan, Ra. Kamu bisa pakai untuk berobat Nara," sambung Kak Dea.
Aku menggeleng, "Tidak usah Kak. Sedikit lagi uang ku akan terkumpul semua," tolak ku.
Aku tidak mau merepotkan mereka terlalu banyak. Aku ingin mandiri dan menghadapi masalahku sendiri. Gajiku cukup besar untuk biaya hidup kami. Setelah Nara sembuh aku akan pindah kerumah lama. Sebab rumah itu yang ku beli beberapa waktu lalu, walau masih kredit.
.
.
Kutatap wajah kedua anakku yang terlelap dengan nyaman. Hatiku kembali teriris sakit ketika melihat kondisi kaki Nara. Sungguh mantan ibu mertua dan Lusia serta Mas Galvin adalah manusia-manusia yang tidak memiliki perasaan. Manusia-manusia biadab. Aku bersyukur mereka di penjara seumur hidup, bukankah tidak jauh beda dengan hukuman mati? Hidup dalam jeruji besi sampai maut menjemput, sama saja seperti terjun ke jurang dan bunuh diri.
"Maafkan Mama, Sayang."
Aku berbaring memeluk Naro dari belakang. Anak lelaki ku yang satu ini memang paling tegar dari mama-nya. Dia selalu bisa menyembunyikan semua rasa sakitnya lewat wajah dingin dan cuek nya. Walau aku tahu jauh didalam lubuk hatinya menyimpan sesuatu yang dia pikul sendiri.
__ADS_1
Dewasa sebelum waktunya itu bukanlah sesuatu yang mudah diusia belia seperti nya. Naro yang seharusnya menikmati masa-masa bermain di sekolah bersama teman-teman nya, harus dia habiskan untuk memikirkan sesuatu yang belum layak dia pikirkan.
"Mama." Naro mengeliat.
Naro berbalik kearah ku. Tak bisa lagi ku bendung, air mata hancur yang menyeruak didalam dadaku.
"Menangislah, Ma," ucap Naro mengusap punggung ku dengan sayang.
Perbedaan Nara dan Naro adalah kedewasaan nya. Jika Nara akan melarang ku menangis, maka Naro malah membiarkanku menangis. Ya benar, menangis memang tidak menyelesaikan masalah tetapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada.
"Maafkan Mama, Son," ucapku lirih.
"Mama tidak salah," sahut Naro.
"Tetapi Mama belum bisa membuat kalian bahagia," ucapku.
"Kami sudah bahagia bersama Mama," jawab Naro.
"Tapi Mama tidak bisa memberikan kasih sayang yang utuh untuk kalian," lirih ku memeluk tubuh kecil Naro.
"Mama sudah berikan segalanya buat Nara dan Naro," sahut Naro lagi.
Didalam keheningan malam aku menangis didalam pelukkan tubuh kecil ini. Hancur semua harapan yang ku ukir bersama rasa yang ada. Sekarang, aku menyesal karena dulu menentang ucapan ayah. Seandainya aku tidak hamil diluar nikah pasti sekarang aku sudah menjadi wanita sukses yang bekerja di bidang keahlian ku sendiri.
"Kalian berdua adalah harta paling berharga dalam hidup Mama," kataku.
"Naro sayang Mama," ucap Naro juga.
Sementara Nara terlelap disamping kami. Gadis kecil ku itu tak pernah mengeluh tentang rasa sakit di kaki nya. Dia hanya sering bertanya di mana Papa? Namun, setelah waktu cukup lama kami lewati dengan peluh dan air mata. Akhirnya Nara paham bahwa perpisahan diantara kami tak bisa di hindari.
Meski aku tahu, Nara tak sekuat yang aku lihat. Dia hanya berpura-pura supaya aku tidak sedih melihat nya yang mengeluh. Tidak mungkin anak sekecil itu tak merasakan sakit di tubuhnya. Apalagi Nara ini cenggeng dan manja.
"Mama, apa kita pindah saja Ma? Naro ingin pulang kerumah kita," ucap Naro menatap wajah ku.
"Iya Sayang, besok kita pulang kerumah ya, Nak," sahutku.
Meski Kak Dea dan Mas Bayu baik pada kami. Tetapi tetap saja tidak nyaman untuk merepotkan orang lain walau itu saudara sendiri.
__ADS_1
Bersambung...........