Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Tata Story 04.


__ADS_3

Ini bukan perkara perasaan yang perlu diragukan. Ini hanya soal cinta juga butuh logika yang dijalankan. Aku harus menyeimbangkan diri dengan pekerjaan, dengan segala hal yang harus kucapai. Agar nanti tak banyak membesarkan hatinya dengan kata-kata dan kalimat yang mampu mendampingi untuk mempertahankan apa yang aku punya. Aku harus ingin memilikinya dengan utuh. Bukan sekedar perasaan yang singgah lalu melepaskanku sebab kegagalan dan leleh langkahku.


"Mas, bagaimana kalau aku ikut program hamil lagi?" tanyaku.


"Kan kamu tidak bisa hamil lagi. Bagaimana mau ikut program hamil?" Mas Gevan geleng-geleng kepala.


"Iya siapa tahu saja. Aku bisa hamil lagi dan Lala punya adik, Mas," ucapku.


"Tata, jangan ngadi-ngadi kamu. Rahim kamu itu sudah di balik saat operasi jadi kamu tidak mungkin punya anak lagi," sarkas Mas Gevan.


Kenapa sepertinya Mas Gevan keberatan saat aku ingin memiliki anak? Apa yang salah jika aku mencoba ikut program hamil lagi walau terdengar mustahil.


"Lebih baik kamu fokus urus Lala saja. Jangan memikirkan hamil lagi," ucap Mas Gevan.


"Iya deh, Mas." Aku mengerucutkan bibir kesal.


"Oh ya, Mas. Bagaimana kalau sementara waktu kita carikan kontrakan untuk Mbak Queen biar dia bisa tinggal di sana?" saranku.


Kening Mas Gevan mengerut heran, "Memangnya kenapa kalau dia tinggal di sini? Ada yang salah?" tanya Mas Gevan.


"Bukan begitu, Mas. Mbak Queen ini 'kan orang asing_"


"Dia sepupu kamu bukan orang asing." Kenapa sikap Mas Gevan kasar? Dia juga keukeh seperti membela Mbak Queen.


"Mas ini paham tidak sama omongan aku?" Aku mulai kesal.


"Mas paham, Ta. Tapi kita tidak enak mau mengusir Queen begitu saja. Lagian apa salahnya dia tinggal di sini. Bukan bukan beban juga 'kan buat kita?" ujar Mas Gevan.


"Iyas sudahlah, kalau Mas masih mau Mbak Queen tinggal di sini, its oke saja," jawabku mengalah daripada bertengkar.


"Kamu cemburu kalau Mas bakal selingkuh sama Queen?"


Entah bagaimana tebakan Mas Gevan bisa tepat? Apakah dia melihat dari raut wajahku yang memang terlihat cemburu?


"Kamu itu berubah, Ta. Kamu semakin posesif sejak Queen tinggal di sini. Kamu tidak percaya sama Mas?" Dia menatapku dalam. "Apa kamu sudah tidak cinta lagi sama Mas?" sambungnya kemudian.


Bukan tidak percaya, tetapi aku terlalu takut jika terjadi sesuatu yang benar-benar tak aku inginkan sama sekali. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur.


"Bukan begitu, Mas." Aku mendesah pelan.

__ADS_1


"Apa lagi? Apa kamu pikir mencurigai pasangan itu baik?" tanya Mas Gevan. "Kamu itu terlalu posesif dan takut kehilangan Mas. Padahal Mas tidak akan pergi dari kamu," ucapnya lagi.


Bukan prosesif aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku. Aku takut ada orang lain merebutnya dari genggaman tanganku. Tetapi jika menurut Mas Gevan hal tersebut berlebihan, mulai sekarang aku akan diam saja dengan sikapnya.


"Maaf, Mas."


Dia berdiri dan melenggang masuk ke dalam kamar dengan wajah marah. Setiap kali kami membahas Mbak Queen. Mas Gevan terlihat emosi dan amarah. Namun, di sisi lain dia juga tampak gugup dan seperti menyembunyikan sesuatu.


*


*


"Tumben kamu datang ke sini?" tanya Kak Naro.


"Mana si kembar, Kak?" tanyaku yang merindukan ketiga anak kembar Kak Naro.


"Mereka masih sekolah. Kamu mau apa ke sini? Ingat, kalau sudah menikah jangan manja-manja lagi," sindir Kak Naro.


Kak Naro, usianya 43 tahun. Ariana meninggal sepuluh tahun yang lalu. Namun, kakakku itu masih betah dalam kesendirian dan merawat ketiga anaknya bersama Mas Angga. Kedua lelaki yang mencintai Ariana itu hingga kini masih enggan membuka hati. Bukan tak yang mendekati tetapi mereka seperti sengaja memasang tembok pemisah yang tidak bisa di tembus oleh orang lain.


"Dih, siapa juga yang manja, Kak. Lagian Tata 'kan sudah punya anak," jawabku ketus.


"Queen masih tinggal sama kalian?" tanya Kak Naro yang sontak membuatku kaget. Kak Naro seperti bisa menebak apa yang ada di pikiranku saat ini.


"Masih, Kak," jawabku jujur.


"Kamu tidak takut kalau Queen terlalu lama tinggal sama kalian?" tanya Kak Naro. Mustahil jika aku tidak takut, aku sangat takut. Tetapi suamiku sepertinya betah mempertahankan wanita itu di rumah kami.


"Tidaklah, Kak. Aku yakin Mbak Queen tidak ada niat jahat," jawabku tenang. Aku tak ingin menceritakan masalah rumah tanggaku pada Mas Gevan.


"Tapi wajah kamu beda sama apa yang kamu bicarakan," ucap Kak Naro.


Mungkin bibir bisa mengatakan hal yang tak sesuai dengan hati. Namun, tidak dengan raut wajah.


"Ayo cerita sama Kakak. Kamu sama Gevan lagi ada masalah. Tak biasanya kamu datang ke rumah kalau tidak apa-apa," ujar Kak Naro.


Aku bingung mau jawab apa. Ah walau aku sudah dewasa dan memiliki anak. Aku tetaplah seorang adik yang butuh kakaknya.


"Tata tidak apa-apa, Kak," kilahku.

__ADS_1


*


*


Huwek huwek


"Astaga, Mbak."


Aku berhambur kearah Mbak Queen yang muntah-muntah sejak pagi. Ada apa sebenarnya dengan wanita ini?


"Mbak kenapa? Mbak sakit?" cecarku.


"Tidak tahu, Ta. Akhir-akhir ini, perut Mbak serasa di kocok dan kepala Mbak juga pusing," jelas Mbak Queen.


"Mbak berbaring dulu, aku akan suruh Bik Arum bikin weddang jahe," ucapku.


Mbak Queen menurut dan bersandar di headbord ranjang. Tatapan matanya sayu dan wajahnya pucat.


"Mbak, tunggu Mas Gevan periksa sebentar ya," ucapku. Dalam kondisi begini tidak ada waktunya untuk cemburu. Aku harus percaya pada Mas Gevan.


Aku keluar memanggil suamiku. Agar dia memeriksa kondisi Mbak Queen.


"Mbak di periksa dulu sama Mas Gevan ya," ujarku.


Wanita itu mengangguk sembari tersenyum saat melihat Mas Gevan masuk ke dalam kamarnya. Hatiku panas tetapi aku berusaha menahan diri. Aku harus percaya bahwa Mas Gevan akan menjaga keutuhan cinta kami berdua.


"Silakan di periksa dulu, Mas."


Mas Gevan mengangguk saja. Wajahnya memang selalu datar dan dingin serta sulit di tebak. Siapa yang bisa membaca pikirannya? Dia lelaki yang tidak bisa di terka melalui raut wajah.


Mas Gevan memeriksa Mbak Queen. Aku memalingkan wajahku kesembarangan arah ketika melihat suamiku menyentuh tubuh wanita lain, walau itu memang pekerjaannya sebagai dokter.


"Di mana yang sakit?" tanya Mas Gevan lembut.


"Perut aku, Van. Seperti di kocok-kocok," adu Mbak Queen menuntun tangan Mas Gevan mengusap perut ratanya.


Rahangku mengeras dengan gigi saling bergemeletukkan menahan amarah. Ini bukan pemeriksaan biasa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2