Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 06. Istri Kecil Shaka 05.


__ADS_3

Aku berdiri di atas altar sambil menunggu pengantin wanita datang. Aku tak bisa berekspresi apapun selain menerima jalan takdir yang Tuhan peruntukan untukku.


Tak kusangka jika aku dan Felly akan berakhir seperti ini. Dia diminta oleh kedua orang tuanya menikah dengan salah satu anak ustadz yang sekarang juga menjadi salah satu santri di pesantren milik keluarga Felly. Felly menolak keras dan meminta aku segera melamarnya. Namun, apa daya menggunakan bahasa apapun kedua orang tuanya tidak akan menerima hubungan kami. Terlebih aku yang bersikeras tidak mau pindah kepercayaan dan begitu juga dengan kedua orang tua Felly yang tidak mau sama sekali mengizinkan anaknya untuk memilih kepercayaan lain di luar agama Islam.


Tak kusangka jika perjalana cinta sejauh ini harus berhenti di tengah jalan. Kami harus memilih jalan tersendiri untuk menggapai kebahagiaan.


"Son, jangan melamun!" Daddy menepuk pundakku. "Itu calon istrimu."


Aku menoleh ke arah wanita yang berjalan di atas karpet merah. Dia menggandeng tangan sang ayah dengan wajah yang sengaja ditutup menggunakan cadar. Entah kenapa aku bisa terharu melihat gadis kecil itu sangat cantik hari ini.


Dia berjalan ke arahku dengan panjang yang menjuntai dan terseret di lantai. Tangan kanannya memeluk lengan Papa Denny, sedangkan tangan kirinya memegang sebuket bunga mawar merah dan putih.


"Shaka!" panggil Papa Denny.


"Iya, Pa?" Aku tersenyum.


"Papa titip Lea sama kamu ya. Tolong jaga dia. Papa harap kamu bukan hanya menjadi seorang suami tapi juga ayah untuknya. Dia belum dewasa. Dia butuh dibimbing," ucap Papa sembari menyerahkan tangan Lea padaku.


Pesan itu seperti menurihkan luka di hatiku. Aku bahkan sudah membuat surat perjanjian pernikahan kami.


"Iya, Pa," sahutku membalas dengan senyuman.


"Silakan saling berhadapan!" suruh sang pendeta yang akan mentasbihkan pernikahan kami hari ini.


Kami berdua saling menghadap satu sama lain dan berpegangan tangan. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena ditutupi oleh cadar berbentuk jaring-jaring itu. Namun, wajahnya sangat terlihat bersinar apalagi dengan postur tubuh tinggi untuk ukuran wanita berusia 19 tahun. Pantas saja dia ingin test pramugari karena memang tubuhnya bagus dan tinggi.


Pendeta membacakan janji-janji pernikahan. Apa saja yang tidak boleh dilanggar dalam pernikahan kristen. Terutama perceraian. Hal itu seperti menjadi tamparan bagi aku karena sebenarnya aku sudah menuliskan poin-poin perjanjian kami berdua. Aku berniat menikahi Lea hanya dalam waktu setahun tanpa menyentuhnya. Setelah itu aku akan melepaskan dia dan hidup bahagia bersama Felly tentunya setelah kami mendapatkan restu dari orang tua.


Akan tetapi, semuanya sirna hanya karena perbedaan. Namun, aku menolak walau aku dan Felly sudah memiliki kehidupan masing-masing. Aku tetap ingin bersama dengannya walau sebatas teman yang hadir bukan teman hidup selamanya.


"Silakan saling mengucapkan janji suci!"

__ADS_1


“Saya Arshaka Araujo menerima engkau Leania Barack menjadi istriku dan setia selalu baik dalam suka maupun duka, dalam susah mau pun senang, dalam sakit maupun sehat. Saya akan mencintai dan menjaga engkau dengan segenap hati dan jiwa saya berjanji di hadapan Tuhan, amin," ucapku dengan tenang dan santai. Walaupun tak bisa dipungkiri jika aku merasakan gugup ketika mengenggam tangan Lea.


“Saya Leania Barack menerima engkau Arshaka Araujo menjadi suamiku dan setia selalu baik dalam suka maupun duka, dalam susah mau pun senang, dalam sakit maupun sehat. Saya akan mencintai dan menjaga engkau dengan segenap hati dan jiwa saya berjanji dhadapan Tuhan, amin," ucapnya juga.


"Puji Tuhan, sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Pak Shaka silakan buka cadar yang menutupi wajah istri Anda!"


Aku menurut dan membuka cadar yang menutupi wajah Lea. Jantungku berdebar ketika melihat wajahnya sangat cantik. Tak kusangka jika gadis ini masih berusaha 19 tahun padahal wajahnya tampak biasa saja saat pertama bertemu.


"Silakan cium istri Anda, Pak!"


Aku mengecup keningnya dengan lembut, tunggu! Kenapa lembut? Ck jangan sampai aku terbawa perasaan hanya karena gadis bau kencur ini.


Acara berlangsung. Tidak ada tamu undangan hanya dua keluarga yang terlihat bahagia dari pengantinnya. Aku memang sengaja meminta Daddy agar tak mengundang siapapun termasuk teman dekat. Pernikahan ini tersembunyi, untung saja alasan Lea yang ingin mengukur akademik pramugari bisa menjadi salah satu pertimbangan supaya pernikahan ini tidak dilaksanakan dengan mewah.


"Shaka, Lea, sekarang kalian sudah menjadi pasangan suami istri. Jadi, artinya kalian adalah satu jiwa, raga dan perasaan. Apapun masalah dalam keluarga kalian selesaikan dengan baik tanpa melibatkan orang luar termasuk orang tua!" pesan Daddy.


"Iya, Dad," jawab kami bersamaan.


"Shaka!" panggil Leon.


"Dih, kapan kamu datang?" Aku menatap Leon curiga. Perasaan aku tidak menggundang manusia yang satu ini, kenapa dia ada di sini?


"Selamat dulu untuk pernikahanmu!" Leon memberikan pelukan hangat padaku.


"Siapa yang menggundangmu?" tanyaku ketus.


"Kak Leon!"


"Lea."


Tunggu! Kenapa mereka saling kenal? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya.

__ADS_1


"Kak." Lea berhambur memeluk Leon.


Leon adalah seorang pilot. Jadi, dia jarang sekali ada di rumah atau waktu luang untuk libur.


"Kalian saling kenal?" tanyaku.


"Dih, Lea ini adik kandungku, Shaka. Dia lah yang sering aku ceritakan sama kamu," jawab Leon.


What's? Kenapa dunia sangat sempit? Dulu waktu kami sama-sama duduk di bangku SMA, Leon memang sering menceritakan tentang adiknya tersebut. Adik kecil manja yang keinginannya harus diikuti.


"Kaget ya, Om?" Lea tersenyum menggoda.


"Selamat ya sayang Kakak. Semoga kamu bahagia. Ingat kalau sudah menikah jangan tidur kesiangan lagi. Harus belajar masak buat suami," pesan Leon menarik hidung adiknya dengan gemas.


"Kak Leon." Dia merenggut kesal.


Aku masih tak percaya jika Lea adalah adik Leon. Wajah mereka berdua sama sekali tidak ada mirip-miripnya.


"Kakak kok datang tidak bilang Lea?" protes istriku.


"Maaf, Sayang. Kamu tahu 'kan kalau Kakak ini tidak bisa cuti sembarangan," sahut Leon.


Setelah acara selesai aku segera membawa Lea ke rumah baru kami. Aku harus melewati beberapa perdebatan sengit antara Mama dan Mama Lestari yang meminta agar menginap di rumah saja. Jelas aku dan Lea menolak karena kami sudah merencanakan untuk tidur pisah kamar.


Aku membeli rumah baru karena kata orang-orang pengantin itu memang sebaiknya tinggal terpisah dari orang tua agar lebih banyak waktu bersama pasangan. Namun, kami memilih tinggal di rumah yang lain bukan karena ingin saling mengenal, tetapi supaya kami tidak tidur dalam kamar yang sama.


"Itu kamar kamu. Ini kamar saya!" Aku menunjuk pada dua kamar yang berbeda.


"Oke, Om."


"Ehh, tunggu!" Aku menahan tangannya.

__ADS_1


"Apa lagi sih, Om. Tidak mungkin 'kan kita malam pertama?"


__ADS_2