Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Ingin menyerah


__ADS_3

Aku membeku seketika saat mendengar ucapan Mas Bintang, apalagi setelah berkata dia melenggang pergi masuk ke dalam kamarnya. Dadaku serasa sesak bagai di himpit oleh ribuan ton batu.


"Kenapa kamu tega, Mas?"


Akg menangis sepuasnya di depan nasi yang masih terisi di dalam piringku. Kata orang tua tidak boleh menangis saat makan nanti nasinya ikut menangis juga. Entah benar atau salah aku tidak peduli.


"Kamu benar-benar jahat, Mas," gumamku menyeka air mata dengan punggung tanganku.


Kutatap kamar Mas Bintang yang sudah terkunci. Aku bahkan tidak boleh masuk ke dalam kamarnya walau hanya untuk merapikan isinya. Aku juga tidak boleh menyentuh pakaian Mas Bintang yang lainnya. Dia terbiasa menggunakan jasa laundry kalau masalah pakaian. Jadi, aku benar-benar tak boleh menyentuh apapun tentang dirinya.


"Baiklah, Mas. Jika memang ini yang kamu mau. Aku tidak akan mengejarmu lagi."


Seperti kata lagu, aku tidak akan mengejarmu saat kau pergi. Bukan karena aku tak cinta lagi. Aku hanya ingin berhenti menyiksa diri. Mungkin benar apa yang di katakan oleh Kak Rimba bahwa aku harus tegas terhadap kehidupan rumah tanggaku. Setelah ini aku akan bertanya langsung pada Mas Bintang, apakah dia mau mempertahankan pernikahan ini atau malah memilih berpisah denganku?


Aku membereskan piring bekas makanan. Nafsu makanku seketika menghilang saat bertengkar dengan suamiku.


Pertanyaan Mas Bintang masih terngiang di kepalaku, kenapa aku mencintainya? Apakah mencintai seseorang butuh alasan baru dapat balasan? Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mencintainya? Padahal dia tidak pernah bersikap lembut padaku.


"Dititik terakhir dalam hidupku. Aku tak ingin mencintaimu lagi, Mas. Aku harus sadar diri sebelum akhirnya berimajinasi tinggi. Mungkin pernikahan ini memang tak seharusnya terjadi jika aku menolak kala itu."


Biarlah pernikahan ini mengalir seperti air karena itu yang Mas Bintang mau. Aku yakin, dia tidak akan mau bercerai denganku keran takut menyakiti hati Bunda Senja, wanita yang begitu di sayangi oleh suamiku. Seorang ibu yang tidak melahirkannya tetapi mampu memberikan dia kasih sayang penuh.


Setelah ini aku akan mencoba untuk tidak peduli pada Mas Bintang. Mencoba untuk tidak tertarik pada apapun tentang dia. Walau hati kecilku tidak bisa bohong jika apapun yang berbicara gengahg Mas Bintang akan membuatku seperti anjing mencari tulang.


Aku masuk ke dalam kamar karena tidak mau terlalu lama merenungi nasib diri. Mungkin memang ini jalan hidup yang harus aku jalani. Aku membersihkan diri di dalam kamar mandi. Kurendam tubuhku di dalam buth-ub barang kali segala rasa sakit ini bisa terkikis dengan rendaman air di tubuhku.


"Maafkan Nara, Pa. Nara menyerah dengan kehidupan rumah tangga Nara."


Menyerah tidak harus pergi, mungkin begitulah kami sekarang. Rumah tanggaku dan Mas Bintang bertahan bukan karena kami saling cinta tetapi berjuang sendiri memang tak selalu pernah baik, semua akan berakhir menyakitkan. Mas Bintang sudah memintaku pergi dan jangan berharap atas pernikahan kami.


Namun, bolehkah aku jujur bahwa sebenarnya aku tak sanggup untuk menjauhi suamiku. Aku terlalu mencintainya, entah ini karena pertama aku jatuh cinta atau memang aku yang terbawa perasaan.


.

__ADS_1


.


Aku bangun pagi seperti biasa menyiapkan sarapan pagi untuk kami berdua. Rumah ini terasa sunyi dan mati, para penghuni yang tinggal di dalamnya tak banyak berkutik.


"Pagi, Mas. Sarapannya," tawarku seraya menyapa suami tampanku yang pagi ini sudah menyetorkan wajah tampannya. Bagaimana bisa aku berpaling dari lelaki ini, wajahnya saja membuatku candu.


"Aku sarapan di rumah Mona," jawabnya. Bisakah dia jangan jujur.


Aku mengangguk dan tersenyum miris serta menatap punggungnya yang menjauh dariku. Susah payah aku bangun sepagi mungkin agar menyiapkan sarapan untuk suamiku. Tetapi apa jawabannya tadi, dia ingin sarapan di rumah kekasihnya.


"Harusnya dari semalam aku sadar diri." Aku menggeleng kepala seraya mentertawakan kebodohanku.


Daripada mubajir dan tidak di makan, akhirnya aku memutuskan memasukan makanan ini ke dalam rantang nasi dan nanti akan aku berikan pada Kak Rimba, kebetulan hari ini urusan bisnis kami belum selesai.


Sial, tiba-tiba pipiku panas dan mata berkaca-kaca, padahal aku sudah berjanji untuk tak menangis lagi karena Mas Bintang. Tetapi mengingat diriku yang dengan susah payah bangun pagi menyiapkan sarapan untuknya. Namun, dia malah tak menghargai kerja kerasku sama sekali. Aku tahu dia tidak mencintaiku dan tak menginginkan pernikahan ini tetapi apakah dia tak berniat untuk sekedar menghargaiku.


"Tidak, Nara. Kamu harus kuat. Ingat kuat." Aku menyemangati diri sendiri agar tidak terjebak dalam perilaku Mas Bintang.


Aku masuk ke dalam mobil dan tak lupa membawa rantang makanan tadi.


Apakah salah jika aku menyerah? Aku wanita biasa yang akan menemukan titik lelah. Jika kehadiranku tak di hargai, lantas apa yang membuatku berhak bertahan lebih lama. Cinta memang butuh perjuangan tetapi jika timpang sebelah bagaimana cinta ini bisa tumbuh dengan baik.


Aku masuk ke dalam cafe. Seperti biasa, pagi-pagi para karyawan untuk sekedar memesan satu cup kopi. Ternyata strategi membangun cafe di sini memang tidak salah, banyak target pelanggan yang bisa ku jadikan cuan.


"Pagi, Bu Nara," sapa Lidya dan Dika.


"Pagi," balasku.


"Bu, itu Pak Rimba sudah datang menunggu Ibu," lapor Lidya menunjuk kearah meja. Di sana ada Kak Rimba yang duduk dengan segelas kopi di depannya.


"Oh apakah dia sudah lama?" tanyaku.


"Sekitar 20 menit, Bu," jawab Lidya.

__ADS_1


"Ya sudah kalian kembali bekerja sana!" titahku.


"Baik, Bu," jawab mereka berdua.


Aku berjalan kearah meja Kak Rimba sambil meneteng rantang nasi di tanganku.


"Pagi," sapaku.


"Eh, Nara. Pagi," balasnya sambil berdiri menyambutku dengan senyum.


"Kakak sudah lama?" Aku duduk di kursi depannya.


"Baru juga," jawabnya.


"Sudah sarapan belum?"


"Belum," sahutnya.


"Kebetulan tadi aku masak banyak, jadi sekalian bawakan untuk Kakak. Ayo, Kak di makan," ucapku sembari membuka rantang nasi berisi makanan yang ku masak tadi.


"Untuk Kakak?"


"Iya, Kak. Untuk siapa lagi?" Aku terkekeh.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah. Makanlah." Aku mendorong rantang nasi itu kearahnya.


"Wah kebetulan Kakak lapar sekali. Tadi buru-buru ke sini, jadi tidak sempat sarapan," ujarnya sambil menarik sedikit lengan jasnya.


"Tapi tidak seenak masakan restaurant, Kak. Maklum bukan chef," ucapku merendah. Aku memang hobi memasak, sebab itulah aku membuka cafe yang sekalian menyediakan makanan sederhana untuk para pengunjung.


"Dari bentuknya enak. Pasti rasanya tidak kalah enak."

__ADS_1


Kak Rimba memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Sedangkan aku seperti peserta lomba masak yang menunggu penjurian.


Bersambung.....


__ADS_2