
Divta duduk dengan tatapan kosong. Matanya membengkak serta penampilan yang tak terurus. Di atas meja ada beberapa botol wine yang sudah dia habiskan sejak tadi. Putujg rokok berserakan di atas lantai. Ini adalah pertama kalinya dia menyentuh barang haram itu selama dia hidup.
"Tari," lirihnya yang masih menunggak isi botol kaca tersebut.
"Jangan tinggalin Mas, Tari," gumamnya lagi.
Kewibawaan dan ketegasannya sebagai seorang kapten hilang begitu saja setelah dirinya putus dari Mentari. Sosok yang selalu dia segani itu kini tak lebih dari pria lembek yang kehilangan arah hidupnya.
"Tari, hiks hiks."
Sebentar menangis dan sebentar tertawa. Dia seperti orang gila dan depresi berat. Beginilah korban keegoisan orang tua yang tak memiliki perasaan anaknya. Cinta memang terkadang buta dan bisa mengubah tingkah dan perilaku beberapa orang yang memang sudah dipengaruhi oleh perasaan.
"Mas tidak bisa tanpa kamu. Kembalilah sayang." Divta menangis terisak di dalam kamar yang sudah seperti kapal pecah tadi.
Pertemuannya tadi siang bersama Mentari kembali menguncang jiwa lelaki ini itu. Perasaannya memang tak pernah main-main. Mentari adalah sosok wanita yang dia cari selama ini untuk menyembuhkan luka yang menganggap di dalam sana. Tetapi kenapa ibu-nya tega memisahkan cinta yang dia perjuangkan dengan susah payah.
"Kenapa kamu meninggalkan Mas?" ucapnya lagi. Tak puas bagi Divta memeluk Mentari, dia ingin selalu berada di samping gadis itu. Sayang Divta tak tahu di mana Mentari tinggal.
Ferdy masuk ke dalam kamar putranya. Dia menghela nafas panjang ketika melihat kondisi kamar Divta yang seperti kapal pecah. Botol wine berserakan di mana-mana. Bungkus rokok berserta putungnya juga terlihat banyak di atas lantai.
Lelaki paruh baya yang sudah memakai kacamata itu berjalan masuk ke dalam sana. Dia melihat Divta kasihan, ini semua salah Melly. Belum lagi istrinya itu memaksa anaknya menikahi Audrey dan bahkan sudah merancangkan hari pertunangan anaknya tanpa berpikir bahwa putra semata wayangnya adalah korban dari keegoisan dan ketamakannya.
"Son," panggil Ferdy.
Namun, Divta tak mengindahkan dia terus saja meracaukan nama Mentari serta memanggil nama gadis tersebut. Tanpa peduli dengan panggilan sang ayah padanya. Kini dunianya terasa gelap dan tak baik-baik saja dan bahkan dia tak tahu bagaimana jalan cerita hidupnya nanti. Dia hanya berharap jika Tuhan memberinya sedikit waktu untuk bahagia.
"Son," panggil Ferdy sambil duduk di bibir ranjang Divta.
"Tari," racau Divta. "Jangan tinggalin, Mas," ucapnya seraya menangis segugukan.
Ferdy merengkuh tubuh anak lelakinya itu. Seumur hidup baru kali ini dia melihat Divta yang hancur. Ketika berpisah dengan Chelsea lelaki itu biasa saja. Ketika di tolak oleh Ara, dia hanya menangis sebentar. Tetapi saat kehilangan Mentari, dunianya seperti runtuh seketika. Seakan tak ada harapan yang tersemat di dalam sana.
"Hiks hiks, Tari." Nama itu seolah tak lepas dari pikirannya.
__ADS_1
Ferdy turut merasakan patah hati yang di alami putranya. Hal seperti mengingatkannya pada kejadian di masa lalu yang juga tak berakhir bahagia. Tentu, dia tak mau jika Divta mengalami hal yang sama sepertinya. Dia ingin anaknya bahagia. Sudah cukup selama ini Divta merasakan patah hati yang meremukkan hati dan jiwanya.
"Maafkan Papa."
.
.
"Pa, ini bagus tidak?" tanya Melly sambil menggeser layar ponselnya. "Rencana Mama mau pakai dekorasi ini untuk acara pertunangan Divta dan Audrey," ucapnya dengan senyuman manis.
Ferdy tak menjawab dia sibuk dengan benda pipih di tangannya.
"Papa." Melly merenggut kesal saat di abaikan oleh suaminya.
"Kenapa?" Ferdy menatap istrinya dingin.
"Papa ini kenapa sih? Mama 'kan mau minta pendapat. Malah sibuk sendiri," protes Melly mengerucutkan bibirnya kesal lalu meletakkan ponselnya diatas meja.
Ferdy menatap istrinya lalu menyimpan ponsel yang dia pegang ke atas meja.
"Jelas Mama bahagialah, Pa. Mama 'kan memang ingin Audrey jadi menantu kita," sahut Melly dengan cepat. Dia tidak suka mendengar ucapan suaminya.
"Apa Divta bahagia, Ma?" tanya Ferdy lagi.
Melly terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan suaminya.
"Divta hanya perlu waktu menerima Audrey," jawab Melly yang masih keukeh menginginkan dokter cantik itu menjadi menantunya.
Ferdy menggeleng dan menatap istrinya dengan kecewa.
"Mama egois," ucapnya.
"Apa Mama sadar jika yang Mama lakukan menyiksa Divta dan cucu kita? Mama hanya mementingkan perasaan dan gengsi Mama tanpa peduli bahwa putra kita sekarang menjadi korban dari keegoisan, Mama."
__ADS_1
"Apa Mama lihat bagaimana sikap Divta setelah berpisah dengan Mentari? Jika Mama masih keukeh memaksanya menikah dengan Audrey sama saja Mama membunuh perasaan anak kita."
Seketika Melly terdiam memikirkan kata-kata anaknya.
"Bagi Mama harta dan kekayaan itu segalanya. Apa Mama lupa, sebelum menikah dengan Papa? Mama adalah orang biasa, Mama jauh dari kata kaya. Tapi Papa terima Mama apa adanya. Papa tidak mempermasalahkan Mama yang berasal dari keluarga tidak mampu."
"Bayangkan jika waktu itu kedua orang tua Papa tidak merestui hubungan kita, Apa yang akan Mama rasakan? Bayangkan keluarga Papa menatap Mama sebelah mata! Mama di hina oleh orang tua Papa seperti yang Mama lakukan pada Mentari."
"Jika Mama masih memaksa Divta menikahi Audrey, sebaiknya kita pisah."
Deg
Melly mendengar tak percaya ucapan suaminya. Dia melihat kearah lelaki itu tak percaya dengan pupil mata yang hampir keluar.
"Papa."
"Papa tidak mau punya istri yang egois apalagi yang menyakiti hati anak dan cucu Papa." Setelah berkata demikian lelaki paruh baya itu melenggang masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Melly terdiam mematung di sofa. Seluruh tubuhnya serasa melemah saat mendengar ucapan sang suami. Tidak mungkin dia berpisah dengan suaminya itu sedangkan dia begitu mencintai Ferdy sepenuh jiwa dan raganya.
"Papa," lirihnya.
Melly melangkah berjalan pelan menuju kamar kedua cucunya. Al dan El sampai sakit karena tidak mau makan dan terus memanggil nama Mentari. Tetapi sekarang kondisinya sudah sedikit membaik setelah di bujuk rayu oleh kakeknya.
"Cucu-ku," gumam Melly.
Wanita paruh baya itu duduk di bibir ranjang kedua cucu-nya yang terlelap dan saling memeluk satu sama lain.
"Maafkan Oma, Nak," lirihnya merasa bersalah.
Melly merenungi ucapan suaminya. Terbesit rasa bersalah di rongga dadanya ketika mengingat dirinya yang mengusir dan menghina Mentari. Benar kata suaminya bahwa dia memang egois dan mementingkan perasaannya sendiri tanpa peduli bahwa banyak yang terluka karena keegoisannya itu.
"Maafkan Mama, Divta."
__ADS_1
Air mata Melly luruh dalam penyesalan saat melihat wajah polos kedua anak yang tengah terlelap dengan nyaman itu. Bayangkan kedua cucu-nya sampai sakit karena merindukan Mentari dan terus memanggil nama wanita yang mereka panggil mama itu.
Bersambung...