Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Peringatan


__ADS_3

Mentari memarkirkan motornya di parkiran kampus. Sesuai permintaan Divta dan ibunya wanita itu mengambil kuliah pagi. Karena memang jika kuliah malam, jalanan terlalu rawan untuk anak gadis sepertinya. Apalagi Mentari tak punya kemampuan ilmu bela diri. Sekarang sedang maraknya begal di mana-mana, korbannya pun tak hanya wanita tetapi lelaki juga.


"Ada tiga mata kuliah hari ini, semoga cepat selesai sebelum Al dan El tidur siang," gumam gadis itu berjalan masuk.


"Tari," panggil seorang pria tampan yang mungkin usianya tidak jauh dari gadis tersebut.


"Ehh Kak Rein," balasnya.


"Baru sampai?" tanya lelaki itu ramah.


"Iya Kak, ternyata kuliah pagi lebih asyik dari kuliah malam," ucapnya tersenyum.


"Dari dulu Kakak sudah menawarkan supaya kau mengambil kuliah pagi," ucap Rein geleng-geleng kepala sambil tersenyum simpul. "Ayo, masuk," ajaknya.


"Iya Kak."


Kedua orang itu masuk menuju kelas masing-masing. Banyak yang menatap Mentari sinis, dia mahasiswi semester satu yang paling cantik di kampus ini. Sehingga tak heran jika banyak lelaki seangkatan ataupun senior yang ingin mendekatinya termasuk Rein.


"Sudah sarapan?" Rein melirik gadis tersebut.


"Sudah, Kak," jawab gadis itu.


Reinard, salah satu mahasiswa berprestasi dan ketua BEM di kampus tersebut. Dia mengambil fakultas kedokteran semester 3 di usia 20 tahun. Tak hanya pintar dan memiliki segudang prestasi, dia juga baik hati dan tampan serta ramah pada senior.


"Kak, aku masuk duluan," pamit Mentari.


"Iya Tari," sahut Rein sambil melambaikan tangannya.


Mentari mengambil jurusan Management Bisnis, dia bercita-cita ingin menjadi seorang pengusaha. Oleh sebab itu dia berusaha untuk belajar lebih giat agar cepat lulus tetap waktu.


Mentari masuk dan meletakkan tasnya diatas meja. Entah kenapa bayangan Divta tadi pagi masih terus terngiang di kepala gadis itu.


"Astaga, Tari kau pikirkan apa sih?" Dia berusaha menepis semua perasaannya.


"Heh!" sentak seorang gadis meletakkan buku.


"Astaga." Mentari mengusap dadanya karena terkejut.


"Dengar ya, wanita murahan. Jangan pernah mendekati Kak Rein karena dia milikku," tegas gadis tersebut memperingatkan Mentari.

__ADS_1


"Aku tidak mendekatinya, Kak," ucap Mentari jujur.


"Kau pikir aku buta, hah?" bentaknya. "Sekali lagi aku melihatmu dekat-dekat Kak Rein bersiap-siaplah menerima akibatnya!" ancam gadis itu sambil mendorong kepala Mentari.


Mentari hanya diam sambil memperbaiki rambutnya yang setengah berantakan. Dirinya selalu di hina karena berasal dari kampung dan penampilannya juga tidak seperti gadis-gadis yang ada di kampus.


Mentari menyeka air matanya kasar, dia tidak mendekati siapapun tetapi dia selalu menjadi korban banyak orang. Padahal dia hanya gadis biasa yang berpenampilan sederhana layaknya orang desa. Dia memang sering di bully oleh teman-teman kampusnya, entah karena dirinya yah terlalu polos atau bodoh sehingga tak bisa melawan sama sekali.


"Ayah," gumamnya.


Setiao kali dirinya merasa dunia menghakimi, sang ayah seperti pelipur lara untuk mengobati segala luka yang menghantam di dalam dada.


"Tari, rindu Ayah. Kalau dulu setiap kali Tari di hina dan di-bully, Ayah selalu datang membela," ucapnya.


Gadis itu mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya.


"Tari, kau kenapa?" tanya salah satu temannya.


"Tidak apa-apa, Nia," jawab Mentari memaksakan senyum.


"Tidak apa-apa bagaimana? Apa mereka membully mu lagi?" cecar gadis tersebut.


.


.


Divta menghela nafas panjang, entah bagaimana lagi dia mengusir Chelsea agar menjauh dan berhenti menganggu dirinya.


"Kenapa?" tanya Raza.


"Entahlah, Chelsea semakin berulah. Semalam dia mengancam Tari," jelas Divta.


"Ta, kau harus tegas. Jangan sampai Chelsea berulah dan malah menyakiti orang lain," ucap Raza memberi saran.


Divta mengangguk, sepertinya dia memang harus berbicara dengan kedua orang tua Chelsea agar mantan istrinya itu berhenti menganggu hidupnya.


Divta berdiri dari duduknya. Lelaki itu melangkah keluar dari ruangan.


"Aku jemput Tari saja dan ajak dia bertemu orang tua Chelsea, supaya wanita itu berhenti menganggu ku. Katakan saja jika Tari adalah calon istriku," gumam Divta sambil tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Divta tersenyum sendiri membayangkan wajah polos Mentari. Gadis itu memang terlalu polos, apalagi baru hidup di kota dengan latar belakang orang kampung yang mungkin belum paham hidup di kota seperti apa.


Lelaki itu melajukan mobilnya. Divta lelah setiap hari harus meladeni kegilaan Chelsea. Dia tahu jika wanita itu tak sungguh-sungguh ingin kembali padanya, pasti ada sesuatu yang Chelsea incar darinya karena dia sangat mengenal seperti apa sifat Chelsea yang selalu berambisi pada apa saja yang di inginkan.


Mobil Divta sampai di depan gerbang kampus Mentari. Lelaki itu turun dari sana. Sontak saja dia menjadi pusat perhatian, apalagi masih memakai pakaian dinasnya. Wajah tampan dan menawan seolah ciri khas dari pria tampan itu.


Tampak Mentari keluar dan menuju parkiran wajah gadis itu tampak lemas bersama seorang pria yang mengekornya dari belakang.


"Tari, dengarkan penjelasanku dulu," ucap Rein.


"Kak, cukup! Aku tidak salah paham lagi, menjauhlah, Kak. Aku mohon," ucap Mentari sampai menangkup kedua tangannya di dada agar Rein mengabulkan permintaannya.


"Jangan dengarkan kata mereka, Tari. Kakak menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu," ucap Rein menatap Mentari dengan penuh harap. Sumpah demi apapun, gadis ini benar-benar menarik. Polos tetapi pintar dalam akademik walau hanya diam saja saat dirinya di-bully.


"Kak, aku tidak menyukaimu jadi jangan dekati aku lagi," kilah Mentari memalingkan wajahnya dia takut jika sedang menutupi sesuatu di dalam hatinya.


"Tari katakan bahwa kau bohong, Kakak tahu bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama pada Kakak," ucap Rein yang begitu yakin bahwa gadis ini juga menyukainya. "Tari tolong katakan!" desak Rein mencengkram tangan gadis tersebut.


"Tari."


Hingga perdebatan keuangan terbuyarkan data mendengar suara yang memanggil nama Mentari.


"Pak Divta," gumam Mentari.


"Lepaskan tangannya." Divta menarik tangan Mentari dari cengkraman Rein.


"Anda siapa?" tanya Rein menatap Divta dingin, lalu melihat Divta dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tanpa di tanya pun dia tahu jika lelaki ini bekerja sebagai abdi negara.


"Saya calon suaminya," sahut Divta santai dan tenang.


Pupil mata Mentari membulat lalu menatap Divta tak percaya. Bagaimana bisa lelaki ini mengaku sebagai calon suaminya.


"Calon suami?" ulang Rein tak percaya.


"Iya, saya calon suaminya. Jadi berhenti menganggu calon istri saya," ucap Divta memperingatkan sambil merangkul bahu Mentari.


Mentari mati kutu dan sialnya jantung gadis itu berdebar ketika begitu dekat dengan Divta. Apalagi saat mencium bau parfum yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.


Rein menggeleng dan masih tak percaya. Dia yakin pria di depannya ini bukan calon suami dari wanita yang dia sukai sejak pertama bertemu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2