
"Shaka."
Kak Nara dan Kak Tata masuk ke dalam kamarku. Ah, rasanya aku malas sekali.
"Kenapa lama sekali sih? Kayak cewek saja," omel Kak Tata. Ya, kakakku yang satu ini memang suka mengomel dan bicara tidak ada titik komanya.
"Dih." Aku memutar bola mataku malas.
"Cepat siap-siap, Shaka. Kita sudah menunggu dari tadi tapi kamu belum keluar kamar!" ketus Kak Tata.
Jangan sampai gadis yang menikah denganku nanti secerewet Kak Tata, bisa pendek usia aku. Aku heran, kenapa Mas Rey bisa tahan hidup dengan bawel ini.
"Iya."
"Sini Kakak bantu!" Kak Nara membantu aku mengenakan kemeja batik panjang yang dibuat oleh Kak Tata.
Kedua kakakku ini wanita karir yang memiliki ide cemerlang. Kak Nara seorang pengusaha dan memiliki banyak cabang cafe dan restoran. Sedangkan Kak Tata seorang desainer muda yang desain rancangannya sering dipakai oleh artis-artis ternama.
"Dih, sudah besar masih manja," sindir Kak Tata.
"Biarin. Bilang saja iri," ketusku.
Kak Nara membantu aku mengenakan kemeja batik tersebut di tubuhku. Rasanya seperti bermimpi jika sebentar lagi aku akan menjadi seorang suami dari wanita yang sama sekali tidak aku kenal.
"Kak," renggekku.
"Kakak tahu ini berat untuk kamu. Tapi, percayalah setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya."
Entahlah, apakah aku percaya bahwa ini adalah jalan terbaikku menuju kebahagiaan? Aku hanya ingin bersama kekasihku Felly dan mengukir kisah cinta kami berdua seperti harapan kami. Namun, siapa sangka malah cintaku berlabuh pada wanita lain.
"Tapi bagaimana dengan Felly, Kak?" Kak Nara adalah kakak paling terbaik untuk bercerita dan saran-saran yang dia berikan selalu mampu membuat aku sadar.
"Bagaimana dengan orang tua Felly?" tanya Kak Nara.
Aku terdiam sejenak. Hubungan kami tak hanya tak direstui oleh kedua orang tuaku, tetapi juga orang tua kekasihku, Felly.
"Kenapa diam?" sambung Kak Tata. "Buka mata hati kamu, Shaka. Pahami jodoh itu bagaimana? Kalau jalannya sesulit kamu dan Felly, kemungkinan takdir kalian cuma temanan."
"Tata!" tegur Kak Nara menggeleng.
"Lho, 'kan memang benar, Kak? Kalau yang namanya jodoh itu bisa dilihat dari jalan hubungan. Kalau masalahnya sama terus, kapan bisa menemukan jalan pintas?"
Kak Tata ini kalau bicara suka ceplas-ceplos dan asal keluar dari mulutnya. Tipe orang yang tak bisa menahan diri atas apa yang keluar dari dalam mulutnya.
__ADS_1
"Kak Tata memang suka gitu, Kak. Tidak punya perasaan," sindirku.
"Daripada kamu, punya perasaan tapi malah berakhir menyakitkan," ledek Kak Tata.
Kak Nara hanya menggelengkan kepalanya saja. Sifat Kak Nara ini sama seperti Kak Naro yang tenang dan tak banyak bicara. Berbeda dengan kakakku yang paling menyebalkan ini, sudah tua dan punya anak saja sifatnya masih menjengkelkan.
"Sudah, sudah. Jangan berdebat. Ayo!" ajak Kak Nara.
"Kak." Bisakah aku menolak?
"Kenapa, Shaka?" tanya Kak Nara lembut dengan senyum ayunya. Bagaimana Mas Bintang tidak tergila-gila padanya, dia selalu bisa menyihir setiap pria hanya dengan senyuman saja.
"Shaka tidak mau." Aku menggelengkan kepala menolak.
"Jangan begitu, Daddy sama Mama bisa kecewa. Kamu jalani pelan-pelan."
Aku mengangguk paham walau sebenarnya dalam hati rasanya hancur berkeping-keping.
Kami bertiga keluar dari kamar. Di sana semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk bertamu ke rumah calon istriku. Acara lamaran, harusnya aku yang sibuk. Namun, semua malah disiapkan dengan detail oleh Kak Nara dan Kak Tata tak lupa Mama juga turun tangan.
"Shaka, sudah siap?" Daddy menatapku serius.
"Sebenarnya tidak siap, tapi 'kan Daddy tidak menerima penolakan," ketusku.
Aku satu mobil dengan Daddy, Mommy dan Kak Naro. Sementara Kak Tata dan Mas Rey. Kak Nara dan Mas Bintang.
"Ma." Aku menatap Mama sendu.
"Kenapa, Nak?" tanya Mama.
"Memang boleh?" Memang boleh menolak. Memang boleh kalau untuk kali ini aku jadi anak durhaka dulu?
"Memang boleh kenapa?" sambung Daddy menatapku tajam. "Jangan macam-macam dan jaga sikap ya. Ingat kita mau ke rumah calon mertuamu," tekan Daddy menegaskan.
"Iya, Dad," jawabku ketus.
"Kamu pasti bisa." Mama memeluk lenganku.
"Iya, Shaka. Kamu terima saja dulu. Siapa tahu nanti kalau sudah bertemu kamu malah jatuh cinta sama dia," timpal Kak Naro menahan tawanya.
Sejak kematian Kak Ariana, Kak Naro memutuskan hidup sendiri merawat ketiga anak kembarnya. Dia sama sekali tidak mau melirik wanita lain walau secantik bidadari khayangan. Tatkala, Mama memperkenalkan Kak Naro pada anak temanya. Namun, tetap saja cinta Kak Naro lebih besar pada Kak Ariana.
"Iya, Kak."
__ADS_1
Aku menatap kosong ke arah jendela kaca mobil. Pikiranku tertuju pada kekasihku, Felly. Apa kabar dia? Aku bahkan belum mengatakan apapun tentang masalah perjodohan ini. Aku tidak sanggup melihat wajahnya yang kecewa. Kami saling mencintai. Kami sudah berjanji akan menepati janji. Namun, nyatanya aku yang masih mengingkari. Aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf.
Keasyikan melamun aku sampai tak sadar jika mobil yang dikendarai Kak Naro telah sampai di sebuah rumah mewah. Tak kalah mewah dari rumah milik Daddy, hanya beda model dan beberapa eksteriornya saja.
Kami semua turun dari mobil. Di sana dua pasangan paruh baya menyambut kami dengan senyuman hangat.
"Dante!"
"Denny!"
Mereka berdua saling berpelukan hangat dan tampak akrab. Kata Mama, Pak Denny ini sahabat terbaik Daddy sejak mereka sama-sama duduk di bangku sekolah menengah atas. Jadi, akibat persahabatan lama itu aku juga menjadi korban dan harus menepati janji yang mereka buat sejak dulu.
"Apa kabar kamu?"
"Seperti yang kamu lihat," jawab Daddy.
Kak Tata mencolek lenganku agar menyapa calon mertua.
"Selamat malam, Om, Tante," sapaku. Tak lupa mengecup punggung kedua calon mertuaku secara bergantian.
"Pasti ini yang namanya Shaka?" ujar Pak Denny.
"Iya, Om," sahutku tersenyum simpul.
"Wah kamu ganteng banget, Nak. Pasti Lea akan suka sama kamu!" seru Pak Denny. Aku memang tampan dan itu fakta kebenarannya.
Kami masuk ke dalam rumah mewah tersebut. Aku tak mau lirik sana sini, lebih fokus pada pikiran sendiri. Ah, bagaimana nasibku setelah ini? Aku akan menikah. Belum siap.
"Tidak usah tegang begitu!" bisik Kak Tata. "Calon istrimu pasti cakep," sambungnya lagi sambil tersenyum menggoda.
Aku memutar bola mata malas. Mau dia secantik bidadari dari langit ke sembilan saja aku tidak peduli. Bagiku, hanya Felly yang paling cantik dan layak untuk dinikahi.
"Tunggu sebentar ya, Lea lagi di kamar nya," ucap Pak Denny.
"Tidak apa-apa, Den," sahut Daddy.
Tidak lama kemudian terdengar suara hentakkan heels menuju ke arah kami. Sontak semua mata menatap ke arah gadis yang berjalan dengan terseok-seok itu, kupastikan dia belum pernah memakai heels tersebut.
Tunggu! Kenapa rasanya gadis ini tidak asing?
"Kamu!"
"Eh, ada si Om." What's the ****? Dia masih memanggilku om.
__ADS_1
....