Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Anak tak diinginkan


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku masih terdiam dan saling menatap dengan seorang pria paruh baya tersebut. Sedangkan sang wanita yang berada disampingnya tampak menatapku tak suka. Ada apa sebenarnya?


"Ayo, Ra," ajak Pak Dante mengandeng tangan ku duduk disofa.


Aku menurut tak melawan apapun. Seluruh aliran darah dalam tubuhku seakan berhenti mengalir. Kaki ku rasanya tak mampu menopang seluruh tubuh. Padahal belum juga di jelaskan apa yang membuat orang tua ku membuang aku saat bayi, namun hati ini seperti tertimpa benda yang berat.


"Apa kabar Ara?" tanya Mama-nya Pak Dante.


"Ara baik, Ma," jawab ku.


Pak Dante dan Tata duduk disampingku. Dari tadi Tata terus menempel seperti prangko. Apakah Tata mengira jika aku ini mama kandungnya? Apa Tata tahu jika aku tak memiliki hubungan darah dengannya?


Sejenak kami semua terdiam. Aku tak berani menatap orang yang katanya kedua orang tua ku tersebut. Entah kenapa mengingat diri ku yang di buang seperti tak berharga, membuat hatiku berdenyut sakit.


"Kamu siapa?" tanya lelaki paruh baya tersebut.


"Dad, apa Killa kembar?" tanya Pak Dante langsung to the point.


"Siapa bilang kembar? Almarhum anak kami tidak kembar," sahut wanita paruh baya yang duduk disamping Mama-nya Pak Dante.


Aku menunduk, menahan lelehan bening dipipiku. Ternyata benar, bahwa aku adalah anak yang tak diinginkan. Mendengar jawaban dari wanita tersebut membuatku sedikit menyesal yang berusaha mencari tahu keberadaan orang tua kandung ku. Harusnya aku sadar dari awal bahwa barang yang sudah di buang memang tidak pantas untuk dipunggut kembali.


"Nama kamu siapa, Nak?" Berbeda dengan lelaki paruh baya ini, dia tampak syok melihatku.


"Ara," jawab ku singkat padat dan jelas.


Dia menatapku dengan seksama, mencoba nilai dari bagian-bagian wajah ku. Apakah aku anak kembarnya yang terbuang? Atau memang aku sengaja dibuang.

__ADS_1


"Kamu putriku," ucap nya dengan suara serak.


Aku mengangkat kepala ku dan melihat lelaki paruh baya tersebut. Seketika tatapan kami bertemu satu sama lain. Jujur hatiku hangat ketika menatap bola mata teduh nan tua itu, berbeda ketika aku melihat Ayah.


"Kemana saja kamu selama ini? Setelah sekian lama, kenapa baru menunjukkan wujud mu?" tanya sang wanita paruh baya menatap ku sinis dan tak suka.


Kenapa pertanyaan nya seolah menyudutkanku? Apakah dia ibu-nya Chelsea?


"Diam, Mom," hardik pria tersebut.


Pria itu mendekat kearah ku, dia mengangkat bahu ku agar berdiri dan menyamakan tinggi badanku dengan dia.


"Tidak salah lagi, kamu anakku. Kamu putriku," ucap nya meneliti tubuh ku. Matanya sudah berkaca-kaca.


Aku mengigit bibir bawahku menahan tangis, jujur saja aku rindu sosok ini. Bagaimanapun dia adalah ayah ku, walau aku belum tahu kebenaran nya.


"Kamu kembaran Killa. Kamu anakku yang aku titipkan pada Suban dan Melia," ucap nya.


"Maafkan Daddy, Nak. Daddy terpaksa menitipkan mu pada orang lain. Maafkan Daddy," ucap nya memegang kedua tangan ku.


Aku malah terdiam, menatap wajah tua ini. Apakah benar ini Ayah ku? Ku akui, tatapan matanya membuat hatiku merasa nyaman dan syahdu. Tetapi jika aku anaknya kenapa dia tega menitipkan aku pada orang lain?


"Kamu tumbuh menjadi wanita yang cantik, Nak. Bagaimana kamu bisa ada disini? Bukankah kamu selama ini hidup di desa? Kamu benar-benar mirip dengan kakak mu!" seru nya sambil mengusap pipiku.


Dari nada bicara nya seolah selama ini dia tahu keberadaan ku, tetapi enggan mencariku. Apakah aku benar-benar tak berarti.


"Kamu apa kabar, Nak?" tanya nya yang melihat ku hanya diam saja.


Aku masih tak menjawab, lidah ku terasa kelu untuk menjawab semua pertanyaan nya.


"Kamu benar-benar mirip sama Kakak mu. Maafkan Daddy yang tidak mencari mu selama ini, Daddy hanya_"


"Apa aku sengaja di buang?" tanya ku langsung memotong ucapannya. Aku tidak suka basa-basi dengan acting yang membosankan.

__ADS_1


"Daddy_"


"Iya kamu sengaja di buang karena anak pembawa sial," potong wanita paruh baya yang duduk disamping Mama-nya Pak Dante.


Deg


Tubuhku langsung melemah ketika dia mengatakan bahwa aku anak pembawa sial. Apa maksud nya?


"Kamu tahu, ibu kamu meninggal gara-gara melahirkan kamu. Andai saja kamu tidak di lahirkan ke dunia ini. Kakak ku sekarang pasti masih hidup!" hardik nya menatap ku penuh kebencian.


Deg


"Cukup, Nita. Tolong jangan di lanjutkan," sergah pria yang katanya ayah kandung ku tersebut.


"Bukankah kenyataan nya memang begitu, Mas? Gara-gara melahirkan dia, Kak Amel meninggal? Harusnya kita tidak perlu dipertemukan dengan dia lagi," ucap nya dengan emosi dan nafas yang memburu.


Sementara Pak Dante dan keluarga nya hanya terdiam saja menyaksikan perdebatan kami. Tata menangis terisak ketakutan memeluk ayahnya. Secepatnya pengasuh Tata membawa gadis kecil itu masuk kedalam kamarnya.


"Kamu dengar yaa, kamu harus tahu bahwa karena melahirkan kamu Kakak ku kehilangan nyawanya. Kamu mau tahu kenapa alasan kami membuang mu?" Dia menatap ku sinis, wajahnya sangat mirip dengan Chelsea. "Karena kamu pembawa sial," tuduh nya.


Tanganku mengepal dengan kuat, hingga menampilkan buku-buku tangan ku hingga memutih. Dada ku bagai ditusuk ribuan pisau. Inikah kenyataan yang selama ini tersembunyi? Kenyataan yang tak seharusnya aku tahu.


"Maaf, Ara. Kamu harus dengarkan penjelasan Daddy dulu. Daddy tidak bermaksud membuang mu. Tetapi waktu itu keadaan memang sedang tidak baik," ucapnya berusaha menjelaskan semua nya padaku. Jujur saja bahasa apapun yang orang tua ku jelaskan, tetap tak bisa mengobati luka yang tergores didalam sana.


"Mommy mu meninggal saat melahirkan kalian, kamu adalah anak kedua kami. Setelah kamu lahir, Mommy mengalami pendarahan hebat, sehingga membuatnya tak bisa bertahan. Daddy sendirian, kakek dan nenek mu tinggal diluar negeri. Jujur Daddy tidak mampu mengurus kalian berdua. Dengan terpaksa Daddy menitipkan kamu pada sahabat lama Daddy," jelas nya memegang kedua tangan ku.


Aku melepaskan tangan lelaki paruh baya ini. Dari semua penjelasan yang dia lontarkan. Aku sadar, bahwa ternyata aku adalah anak yang tak diinginkan. Sangat tak masuk akal hanya karena tak mampu mengurus ku lalu dia menitipkan aku pada orang lain, sedangkan saudara kembar ku bersamanya hingga dewasa. Lalu apa beda nya dengan aku?


"Daddy terpaksa. Maafkan Daddy, Ara," ucap nya penuh penyesalan lalu berlutut di kaki ku sambil menangis.


Ini adalah kenyataan pahit yang sebenarnya tak perlu aku tahu. Tetapi karena rasa penasaran di mana aku berada, membuat aku keukeh mencari keberadaan orang tua ku. Setelah aku tahu kenyataan nya, hatiku kembali tersiksa.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2