Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Merelakan


__ADS_3

"Kamu sudah siap, Tari?" tanya Meysa pada adiknya.


"Harus ya Tari ikut, Kak?" Gadis itu mendesah.


"Ikut saja, Tante," ucap Gevan menimpali.


Mentari nengangguk lalu duduk di sofa. Malam ini ada acara ulang tahun rumah sakit tempat kakaknya bekerja dan entah apa motif kakaknya itu yang mengajaknya untuk ikut pergi, padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.


"Pakai gaun yang kakak belikan kemarin. Cepat ganti sana!" suruh Meysa pada adiknya.


Mentari mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap, sebenarnya dia sedang tawar menawar untuk menolak ikut karena dia sedang tidak mood berada di dunia luar.


"Aku jadi ingat sama gaun yang di belikan Mas Divta untukku." Gadis itu membuka almarinya serta menatap sebuah gaun indah dan mewah yang tergantung di sana.


"Semua tinggal kenangan," ucapnya tersenyum kecut sambil mengusap bagian depan gaun itu.


"Mas, Tari kangen sama Mas. Apa kabarmu dan anak-anak di sana? Sudah lama sekali rasanya kita tidak bertemu. Semoga Mas dan Dokter Audrey bahagia selamanya," ucap gadis itu dengan senyuman palsu.


Dia mengambil gaun tersebut lalu memeluknya seraya meresapi kehadiran Divta di sini. Gaun ini adalah pemberian pertama Divta ketika mereka pergi ke pesta pernikahan dan saat itu lelaki tersebut mengenggam tangannya dengan erat seolah menyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.


Divta juga membelanya saat Chelsea menghina dan mencacinya serta mengatakan bahwa dirinya tidak pantas bersanding dengan Divta.


"Mas, kenapa susah sekali merelakanmu bersama orang lain. Apakah begini sesungguhnya level tertinggi dalam mencintai? Yaitu merasakan sakit yang tak bisa di jelaskan lewat kata-kata." Dia menyeka air matanya dengan kasar. Lalu kembali menatap gaun tersebut dengan indah.


"Aku akan simpan gaun ini sampai nanti, Mas."


Dia kembali menyimpan gaun tersebut dan mengambil gaun pemberian kakaknya. Lalu memakai gaun mewah itu yang pas di tubuh rampingnya. Walau gadis kampung yang jarang melakukan perawatan seperti wanita kota pada umumnya tetapi Mentari sangat cantik dengan kulit putih dan tubuh ramping dengan tinggi di atas rata-rata.


Dia tersenyum manis menatap pantulan dirinya di depan cermin. Tanpa make-up saja dia sudah cantik. Apalagi kalau memang di rias, mungkin kacantikannya berkali-kali lipat.


"Kamu harus bisa, Tari. Yakinlah suatu saat kamu juga akan bahagia. Kamu masih muda. Perjalananmu masih panjang," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


Gadis itu keluar dari kamarnya dengan gaun yang di berikan oleh sang kakak padanya. Tas kecil tergantung di bahunya serta heels yang membungkus kaki jenjangnya.

__ADS_1


"Wah, Tari kamu cantik banget," puji Meysa terkagum melihat kecantikan adiknya.


"Kakak baru sadar kalau punya adik yang cantik?" Mentari mengedipkan matanya jahil.


Meysa terkekeh pelan, dia senang melihat adiknya yang bisa tersenyum kembali. Dia tidak mau Mentari berlarut dalam kesedihan sebab hidup akan selalu berjalan di tengah peliknya kehidupan.


Gevan juga menatap gadis itu tak berkedip dan dia merasa ada yang tidak beres dengan hatinya. Secepatnya lelaki tampan itu memalingkan wajahnya. Jangan sampai apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Sebab, Mentari sama saja seperti ibunya. Jadi tidak mungkin seorang anak jatuh cinta pada ibunya sendiri.


"Kalian sudah siap?" tanya Rizel.


"Sudah, Mas."


"Gevan sama kamu bawa Tante Tari saja ya. Sepertinya tidak muat satu mobil!" ujar Rizel pada anak lelakinya.


"Iya, Pa," sahut Gevan.


Gevan dan Mentari masuk ke dalam mobil sport milik keponakannya itu. Mentari diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Semua hal yang dia jalani seperti selalu mengingatkannya pada sosok Divta yang kini tak mungkin dia jangkau lagi.


"Kenapa?" Gevan melirik tante-nya tersebut.


"Makanya kalau belum siap patah hati jangan coba-coba untuk jatuh cinta," sindir Gevan.


"Dih, seperti sudah berpengalaman saja," balas Mentari.


Gevan tertawa lebar dan hal itu membuat Mentari bergidik ngeri. Pasalnya keponakan menyebalkannya itu tak pernah tertawa selama ini karena wajah Gevan selalu saja datar dan tak berekspresi.


"Tentu saja, jangan lupa aku ini pria paling tampan di kampus!" seru Gevan memuji dirinya.


"Memangnya pernah pacaran?" Mentari memincingkan matanya curiga.


"Hem, belum sih." Gevan cenggesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


.

__ADS_1


.


Di sisi lain, Divta tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin. Malam ini dia di undang dalam acara ulang tahun rumah sakit yang bekerja sama dengan kesatuan. Sebenarnya dia belum bisa menghadiri acara tersebut tetapi karena dirinya seorang pemimpin yang harus mengayomi para ajudannya.


"Tari, kamu di mana, Sayang? Maafkan Mas. Mas berjanji akan mencarimu dan kita akan bersama kembali. Mama sudah merestui kita, Sayang. Kamu pasti senang," gumam Divta.


Lelaki tampan yang selalu berwibawa tersebut nyatanya lemah jika berbicara tentang perasaan. Dia tak sekuat itu menyembunyikan semua rasa sakit di dalam dadanya.


Divta bernafas lega karena sang ibu sekarang sudah sadar dan meminta maaf padanya serta membatalkan rencana pertunangannya dengan Audrey. Dia tak bisa bayangkan seperti apa hidupnya bersama dengan wanita yang sama sekali tidak dia cintai. Divta hanya takut menyakiti perasaan orang lain, sudah cukup dirinya yang merasakan sakit.


"Papa," panggil Al dan El yang berjalan masuk ke dalam kamar ayahnya.


"Iya, Son?" Divta berbalik dan menyambut kedua putranya.


"Apa kita mau cali Mama, Pa?" tanya Al dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Pa. El kangen sama Mama," sambung El.


Divta duduk di bibir ranjang sambil menatap kedua putra kembarnya. Dia juga tidak tahu kemana mencari Mentari, sebab sekarang dia tidak tahu di mana gadis tersebut berada.


"Kita berdoa saja ya, semoga kita bertemu Mama," jelas Divta pada kedua anaknya.


Kedua lelaki kembar itu mengangguk paham dan setuju.


"Iya sudah, ayo," ajak Divta.


Ketiga pria itu keluar dari kamar dengan tangan saling bergandengan. Selama ini Al dan El tidak pernah bertanya di mana ibu kandungnya. Mungkin mereka berdua saja tidak tahu siapa ibu kandung mereka. Setelah berpisah dari Divta, Chelsea memang sama sekali tidak peduli dengan kedua anak kembarnya itu.


Setelah Divta datang ke rumah Chelsea serta menegur wanita itu lewat kedua orang tua nya hingga kini Chelsea hilang bak di telan bumi. Tak ada kabar tentangnya, entah kemana dia menghilang? Apakah dia sedang menepi dan mencoba melupakan obsesinya pada Divta?


"Kalian sudah siap?" tanya Melly.


Mereka di undang sekeluarga, sebab Ferdy dan Melly adalah mantan dokter yang sudah berpensiun di usia senja mereka. Keduanya menghabiskan waktu dan masa tua dengan bermain bersama kedua cucunya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2