
Mentari bangun pagi sekali. Matanya terlihat bengkak karena menangis semalaman. Perkataan Chelsea yang mengatakan dia miskin dan gadis kampung masih begitu melekat di hati gadis tersebut. Dia memiliki daya ingat yang kuat, sekali saja orang mengatakan hal yang menyakitkan maka dia akan memikirkan ucapan itu hingga kepalanya terasa rontok karena berpikir.
"Bu, apa mata Tari bengkak?" tanyanya pada sang ibu.
Wanita paruh baya itu tersenyum. Hati anaknya yang satu ini memang lembut dan sensitif sehingga tak heran jika mudah tersentuh oleh perkataan- perkataan yang menyakiti hatinya.
"Iya masih bengkak. Makanya Ibu bilang jangan menangis, jadikan perkataan hinaan dan caci maki itu sebagai motivasi agar kau melangkah lebih lagi," nasehat Susanti menyeka lembut pipi anaknya.
Mentari adalah anak bungsu dari empat bersaudara, dia memiliki dua kakak laki-laki dan satu kakak perempuan. Semua kakaknya sudah menikah dan memiliki anak. Sedangkan sang ayah meninggal sejak dia usia 3 tahun. Jadi, gadis itu ikut kemanapun ibunya pergi mengais rejeki.
"Cuci wajahmu, nanti Al dan El khawatir kalau melihat matamu bengkak," ucap Susanti sambil Tere simpul.
Al dan El, anak Divta dan Chelsea, begitu menyayangi Mentari. Setelah mereka kehilangan Ara yang menikah dengan Dante, Mentari datang sebagai pengganti dari wanita yang mereka anggap sebagai ibu tersebut.
"Iya, Bu," sahut Mentari.
Gadis itu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia kadang merutuki dirinya yang begitu mudah tersinggung hanya karena perkataan orang-orang yang menyakiti hatinya. Benar kata sang ibu harusnya dia menjadikan caci maki dan hinaan itu sebagai motivasi agar dia terus bergerak maju.
Mentari kembali ke dapur membantu sang ibu menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga besar tersebut. Mentari bersyukur karena mereka memiliki majikan yang begitu peduli padanya dan menyanyangi Mentari dan ibunya seperti keluarga sendiri.
"Sudah lebih baik?" Susanti melirik anaknya.
"Iya, Bu," jawab Mentari.
"Kalau terlalu repot kuliah malam, ambil kuliah pagi saja. Biar pagi Ibu yang menjaga Al dan El," ucap Susanti yang kadang kasihan melihat anak gadisnya itu pulang malam-malam naik motor sendiri. Siapa tahu ada orang jahat atau begal yang mencegatnya di jalan.
"Iya Bu, nanti Tari pikirkan lagi," jawab gadis itu sambil tersenyum simpul pada ibunya.
Mentari juga sedikit was-was pulang malam sendirian, apalagi banyak kasus begal di kota ini. Walau para polisi berlalu lalang setiap malam.
Setelah masakan mereka selesai, Mentari menyajikan dan menyusun makanan itu di atas meja. Walau usianya terbilang muda tetapi dia sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga.
"Pagi Mama," sapa Al dan El.
Mentari mendelik, sejak kapan kedua anak itu memanggilnya Mama. Biasa juga Al dan El memanggilnya kakak.
"Pagi juga kesayangan," balas Mentari. "Ayo sarapan," ajaknya menggandeng tangan kedua bocah itu.
Al dan El berusia empat tahun tetapi mereka sudah aktif walau belum duduk di bangku sekolah. Mereka juga cepat tanggap saat Mentari menjadi guru dadakan untuk keduanya.
Tampak Divta juga keluar dari kamarnya dengan baju dinas lengkap yang menambah aura ketampanan dari duda beranak dua itu. Takkan ada yang mengira jika Divta seorang duda.
__ADS_1
"Pagi Son," sapa Divta.
"Pagi Papa," balas keduanya sopan.
"Pagi Tari," sapa Divta juga pada gadis itu.
"Pagi juga, Pak," balas Mentari memaksakan senyum.
Divta tersenyum canggung. Bukan canggung karena apa. Dia merasa tak nyaman atas kejadian kemarin, apalagi melihat wajah kusut Mentari membuatnya merasa bersalah.
"Apa kau sibuk pagi ini?" tanyanya.
"Tidak, Pak. Hanya mengurus Al dan El saja," jawab Mentari.
"Setelah ini, tolong belanja untuk keperluan mereka," titahnya.
"Baik, Pak," sahut Mentari.
Ferry dan Melly juga berjalan kearah meja makanan. Pasangan yang tak muda lagi tetapi masih harmonis dan romantis terlihat dari cara mereka bergandengan tangan saat menuju meja makan.
.
.
"Saya bisa naik motor sendiri kok, Pak. Kan Bapak mau ke kantor," tolak Mentari. Dia tak enak jika keseringan bersama Divta, walau bagaimanapun mereka berbeda jenis kelamin dan Mentari memasuki usia dewasa.
"Tidak apa-apa, saya antar saja. Waktu saya masih banyak," sergah Divta melirik arloji di tangannya.
Mentari menghela nafas panjang, mau dia tolak berapa kalipun Divta akan tetap memaksanya.
"Iya Pak," ucapnya mengalah. Mentari memasang standar motornya lalu masuk ke dalam mobil Divta.
"Sudah ada 'kan list belanja anak-anak?" sambil menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
"Sudah ada, Pak," jawab Mentari sambil menunjukkan secarik kertas di tangannya.
"Kau tidak takut pulang kuliah malam?" tanya Divta di sela-sela menyetirnya. Divta adalah orang kedua yang bertanya selain ibunya.
"Tidak Pak, saya sudah biasa," sahut gadis itu. Walau sebenarnya dia takut tetapi mau bagaimana lagi, siang dia harus bekerja menjaga si kembar.
.
__ADS_1
.
"Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Yanti pada putrinya.
"Lagi malas, lagi ingin makan orang," sahut Mira asal sambil menyantap makanan dalam piringnya.
"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Marvel yang melihat mata Mira sedikit membengkak.
"Tidak apa-apa, Pa," kilah Mira.
"Mulai hari ini kau akan di antar jemput oleh Rick," sambung Yanti sambil tersenyum tanpa dosa.
"Mama_"
"Selamat pagi Om, Tante," sapa Rick yang baru saja datang. Lelaki tampan itu juga sudah lengkap dengan pakaian dinas di tubuhnya.
"Eh, Nak Rick. Baru saja di bicarakan. Ayo silakan duduk dan ikut makan bersama," ajak Yanti.
Mira memutar bola matanya malas melihat sang ibu yang genit pada lelaki itu. Yanti memang ingin Mira segera menikah, sebab dia tidak tahu usia yang semakin hari semakin bertambah. Apalagi dirinya yang kadang sakit-sakitan.
"Terima kasih, Tante," ucap Rick duduk disamping Mira.
"Silakan makan, Nak Rick. Jangan malu-malu anggap saja rumah sendiri," ucap Marvel ikut menawarkan pada Rick.
"Iya Om," balas Rick.
Lelaki itu melirik Mira sekilas lalu tersenyum simpul. Dia berjanji akan membuat wanita ini jatuh cinta padanya serta menjaga Mira sepenuh hati dan jiwanya.
"Oh ya Om, Tante. Besok malam Papa dan Mama menggundang Om dan Tante untuk makan malam dirumah," ucap Rick menyampaikan pesan dari papa-nya tadi pagi.
"Wah boleh itu, kebetulan Om sudah lama sekali tidak bertemu dengan Papa-mu. Terakhir bertemu waktu pengangkatanmu kemarin," sahut Marvel.
Ayah Rick adalah sahabat baik Marvel, keduanya memang sudah berjanji sejak usia remaja akan menikahkan kedua anak mereka jika berbeda jenis kelamin.
"Iya Nak Rick, Tante juga mau," sahut Yanti ikut menimpali.
"Mira juga ikut ya?" Rick menatap wanita yang duduk disampingnya dengan senyuman.
"Hemmm." Wanita itu membalas dengan deheman.
Bersambung...
__ADS_1