Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Maafkan Mama


__ADS_3

Melly masuk ke dalam kamar Divta, wanita itu menutup mulutnya tak percaya ketika melihat isi kamar yang seperti kapal pecah. Botol wine dan putung rokok berserakan di mana-mana serta bau alkohol yang menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.


Tampak Divta bersandar di bibir ranjang dengan tatapan kosong ke depan. Wajahnya berantakkan tak terurus tubuhnya bau karena tidak mandi. Wajah berkarisma dan penuh wibawa itu kini tak terlihat lagi di wajahnya. Ternyata putus cinta memang bisa menghilangkan akal sehat seseorang, contohnya Divta.


"Divta," lirihnya berjalan menghampiri putra semata wayangnya.


Benar apa yang dikatakan oleh suaminya bahwa dia adalah ibu yang egois dan mementingkan perasaannya sendiri tanpa memikirkan bahwa anak dan cucunya telah menjadi korban karena dirinya.


"Divta."


Wanita paruh baya itu berjongkok dan di samping putranya. Sementara Divta diam saja, sejak Mentari pergi dari rumahnya. Lelaki itu tak pernah mau berbicara atau sekedar bertegur sapa dengan sang ibu. Rasa marah dan kecewa yang menyeruak masuk ke dalam dadanya seperti membuatnya enggan untuk berbicara. Divta takut dirinya lupa diri lalu menyakiti hati sang ibu. Bagaimanapun jahatnya wanita yang menjadi ibunya tersebut, Melly tetaplah wanita yang melahirkan dan merawatnya dan Divta takut menyakiti hati wanita paruh baya itu.


"Maafkan, Mama."


Melly merengkuh tubuh Divta dan memeluknya sambil menanyis.


"Maafkan Mama yang egois dan lebih mementingkan perasaan kamu sendiri. Maafkan Mama, Nak." Tangis Melly pecah di dalam penyesalan.


"Mama hanya trauma dan takut kamu salah pilih pasangan seperti Chelsea. Mama pikir dengan cara seperti ini bisa menyelamatkan kamu dari orang yang salah. Ternyata Mama keliru, kamu malah menderita seperti ini."


Melly memeluk anak lelakinya dengan isakkan tangis yang menggema di dalam kamar Divta. Sedangkan lelaki tersebut diam saja dengan tatapan kosong seperti orang depresi dan kehilangan kesadarannya. Sudah dia katakan berulang kali, kehilangan Mentari akan merusak hidup dan pola pikirnya dan sekarang terbukti bahwa sejak gadis itu pergi, hidupnya hancur dan berantakan.


"Maafkan Mama!"


Ucapan maaf itu tak hentikan keluar dari mulut Melly. Rasa sakit dan penyesalan itu kini benar-benar memojokkan dirinya. Dia ibu yang egois dan tidak memiliki perasaan. Padahal dia tahu jika anak lelakinya itu adalah tipe pria yang tak bisa jatuh cinta karena banyaknya pengkhianatan yang dia alami.


"Mama berjanji akan membawa Mentari pulang ke rumah ini. Kamu akan hidup bahagia bersamanya."


Harusnya dia memikirkan sejak awal bahwa kebahagiaan anaknya jauh lebih penting daripada keinginannya yang memaksa Divta untuk bahagia.

__ADS_1


"Mama berjanji, Son." Melly mengusap kepala Divta yang diam saja. "Mama mohon jangan seperti ini." Air mata luruh tak terbendung, inj adalah penyesalan sebagai seorang ibu yang menyebabkan penderitan anak lelakinya.


Divta hanya diam saja tetapi air mata yang berjatuhan menandakan bahwa dia benar-benar terluka parah saat ini. Bahkan mungkin rasa sakit di dalam dadanya tak bisa di ungkapkan lewat kata-kata.


Melly memperbaiki rambut anak lelakinya. Dia mengambil botol wine di tangan Divta. Lalu mengenggam tangan pria itu dengan simbahan air mata penyesalan.


"Son." Dia usap wajah anaknya.


Divta menatap wajah tua yang ada di depannya ini. Bolehkah dia membenci wanita yang sudah menghancurkan segala mimpi dan harapannya? Tetapi apakah boleh membenci ibu sendiri.


Masih terngiang di kepala Divta bagaimana sang ibu mengusir kekasih kecilnya. Gadis yang sudah berhasil membuka dan menyembuhkan luka di dalam hatinya. Tetapi seketika semua ke kebahagiaan yang terukir itu seketika runtuh bersama tanah saat sang ibu menjadi provokator keretakan hubungan yang dia bangun dengan susah payah.


"Mama, akan menebus semua kesalahan Mama sama kamu."


Bukan hanya Divta tak terluka tetapi Al dan El juga menjadi korban karena kegoisan dan ketamakan Melly yang masih keukeh memaksa Audrey menjadi menantunya.


.


.


Melly menghela nafas panjang. Walau dalam hati ada perasaan tidak nyaman karena harus membicarakan yang sudah dia rencanakan sejak awal. Bahkan surat undangan sudah di sebar. Persiapan matang tersebut harus dia batalkan karena kebahagiaan Divta lebih dari segalanya.


"Saya ingin membicarakan sesuatu, Jeng," ucap Melly berusaha menormalkan detak jantungnya. Tak hanya sang anak yang dingin padanya bahkan sekarang suaminya masih enggan untuk berbicara karena kecewa dengan keputusan yang dia buat sepihak.


"Bicara apa, Jeng?" tanya Dona.


"Iya, Tante mau bicara apa?" sambung Audrey, wanita itu tampak tak sabar menjadi pendamping hidup Divta. Apalagi sosok lelaki tampan itu benar-benar memikat hati.


"Sebelumnya saya minta maaf. Mungkin keputusan saya ini akan bertentangan dengan Audrey dan juga Jeng Dona." Melly menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


Dona dan Audrey tampak saling melihat satu sama lain dan menantu penjelasan serta jawaban dari Melly.


"Apa, Jeng?" tanya Dona dengan alis saling bertaut satu sama lain.


"Saya mau membatalkan pertunangan Divta dan Audrey."


Deg


.


.


Melly bernafas lega setelah berhasil membatalkan pertunangan antara anaknya dan seorang dokter cantik. Walau dia harus mendapat amukan dan amarah dari Dona dan Audrey tetapi sekarang dia merasa lebih baik karena Divta akan lebih bahagia dengan pilihannya sendiri.


Dia benar-benar menebus semua kesalahannya pada sang anak.


"Aku harus mencari Mentari." Dia kembali merasa bersalah saat mengingat dirinya yang berkata kasar dan menghina pengasuh dari kedua cucunya itu.


"Apakah Mentari mau memaafkan aku? Aku sudah menyakiti hatinya," gumam Melly mendesah pelan, ada sesuatu yang terselip di antara rongga dadanya. Rasa bersalah dan malu ith menjadi satu.


"Benar kata Papa. Aku juga dulu wanita miskin dan beruntung di nikahi oleh laki-laki kaya seperti Papa. Untung saja kedua mertuaku tidak mempermasalahkan hal tersebut."


Melly kembali mengenang di awal pernikahan mereka. Walau dirinya terlahir dari keluarga miskin dan tak memiliki apa-apa tetapi suami dan kedua mertuanya menerima dia apa adanya. Harusnya dia juga belajar menerima Mentari sebagai gadis pilihan putranya.


"Tari, semoga kamu masih mau memaafkan semua kesalahan saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Divta dan si kembar kalau kamu sampai tidak kembali," lirih Melly menyeka air matanya.


Wanita paruh baya itu kembali melamun dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Kembali lagi teringat pada anaknya yang tidak beruntung dalam hubungan asmara. Namun, saat Divta sudah menemukan wanita yang tepat Melly justru menjadi penghancur kebahagiaan anaknya itu.


Divta pernah menyukai wanita bernama Senja yang sekarang menjadi istri Langit, seorang dokter dan pemilik Husada Hospital. Lalu dia bertemu kembali dengan cinta lamanya bernama Chelsea dan mereka menikah serta di karuniai dua putra kembar. Tetapi lagi, cintanya tak bertahan lama karena wanita itu menduakan cinta yang sudah mereka bangun dengan susah payah. Setelahnya, Divta bertemu dengan sahabat SMA-nya yang dulu begitu dekat karena sebagai anggota OSIS. Kedekatan itu berhasil membawa kenangan di masa lalu. Namun, lagi wanita tersebut tidak tercipta untuknya dan sekarang bahagia bersama pria lain.

__ADS_1


Mentari, adalah gadis terakhir yang berhasil membuat Divta melupakan semua rasa sakit itu. Tetapi di saat dirinya sudah menemukan cinta yang sesungguhnya, dia malah menerima satu kenyataan bahwa mereka di pisahkan karena kasta dan jabatan.


Bersambung...


__ADS_2