
Akan ada fase melalui musim-musim yang berbeda. Akan melalui senja-senja untuk tetap setia. Hingga semua yang perjuangan akan menghadiahi bahagia. Hingga semua yang terpendam, akan melahirkan cinta yang tak pernah padam. Itulah mengapa aku dan Mas Bintang memilih mempertahankan cinta yang ada di hati. Agar segala yang kamu impikan tidak berakhir sebagai angan-angan. Agar semua yang pernah kami lakukan, kelak akan dikenang sebagai sesuatu yang indah oleh ingatan. Kalau sudah bicara seperti ini. Dia harus tahu. Aku gak pernah benar-benar bisa jauh darinya. Namun, ada beberapa hal yang di luar kuasa kami. Itulah dari ujian rindu dan cinta.
"Mas, sakit ya?" Aku ikut meringgis kesakitan saat melihat Mas Bintang.
"Tidak perlu khawatir, Kak Nara. Dia lelaki kuat," ucap Galaksi yang aku tahu adalah adik sepupu Mas Bintang karena dia pernah datang di acara pernikahan kami.
"Ck, anak kecil diam!" hardik Mas Bintang menatap Galaksi tajam.
Sementara yang di tatap malah santai saja sambil duduk di sofa. Aku terkekeh pelan, begini rupanya kehangatan Mas Bintang karena selama ini yang aku lihat mantan suamiku ini sangat dingin seperti tak bisa di sentuh oleh benda apapun.
"Minum, Kak Nara," ucap Auny juga. Ya aku kenal gadis ini, beberapa dia dan Bee sering datang ke rumah.
"Terima kasih," balasku.
Auny mengangguk sambil tersenyum. Saat ini kami sedang berada di rumah Mas Bintang. Ada Naro juga di sana. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya Mas Bintang dan Naro bisa menemukan aku dan Kak Rimba. Setiap kali aku dan Kak Rimba bersama dia selalu menyita ponselku dan aku tak boleh bermain ponsel. Dia memasang aturan karena harus fokus dengannya.
"Mas, aku obati lagi ya. Atau kita bawa ke dokter saja?" saranku.
"Tidak perlu, Ra. Ini hanya luka ringan," tolak Mas Bintang.
"Ck, Kak Nara ini bagaimana sih? Dokter takut jarum suntik seperti Kak Bintang, mana mau di ajak ke dokter," celetuk Galaksi sambil tertawa lebar.
"Kalau kau tidak diam. Kakak akan pindahkan kamu ke kebun binatang sana!" ancam Mas Bintang.
"Dih."
Aku kembali mengobati luka-luka di wajah Mas Bintang. Kuat juga ternyata Kak Rimba memukul lelaki ini sampai babak belur.
"Ra, kenapa bibir kamu berdarah? Dan pipi kamu merah?" cecar Mas Bintang tampak panik.
"Mas, ini han_"
"Apa itu ulah Kak Rimba, Kak?" sambung Naro. Mereka berempat berhambur kearahku sambil menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut.
"Kak_"
__ADS_1
"Mas Bintang, Kak Rimba harus mendekam selamanya di penjara. Dia sudah melakukan kekerasan pada Kak Nara. Ini tidak bisa di biarkan," ujar Naro.
"Kamu tenang saja, Naro. Semua akan di urus oleh teman, Mas," jawab Mas Bintang.
.
.
"Mas pelan-pelan." Aku membawa Mas Bintang masuk ke dalam kamarnya.
Jujur saja canggung karena sebelumnya kami tak pernah sedekat ini sebelumnya. Bahkan berdua saja dalam satu kamar tidak pernah apalagi sudah berpisah seperti ini.
"Masih sakit, Mas?" tanyaku.
Mas Bintang menggeleng, "Masih sedikit," jawabnya sambil bersandar di headbord kasur king size kamarnya.
"Ra," panggil Mas Bintang.
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Kenapa, Mas?" tanyaku membalas dengan senyuman.
"Terima kasih ya, kamu sudah memberikan kesempatan untuk Mas. Mas bahagia sekali. Sangat bahagia," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tak hanya dia yang bahagia tetapi aku juga bahagia. Aku bahkan tak menyangka jika saat ini kami akan kembali bersama setelah sekian lama terpisah. Mungkin ini juga bagian dari rencana Tuhan yang menginginkan kami untuk paham betapa berharganya sebuah kebersamaan.
"Aku bahagia, Mas. Aku bahagia sekali. Maaf, karena kemarahanku sampai membuat kamu pergi. Harusnya aku memberikan kamu kesempatan waktu itu."
"Jangan sesali apa yang terjadi. Justru kita bersyukur karena perpisahan itu akhirnya kita bisa bersama kembali. Kamu dan Mas, akan bahagia selamanya. Mas tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu. Mas sayang banget sama kamu," ucapnya mengecup keningku dengan lembut.
Tanpa kusadari air mata menetes membasahi pipi. Aku juga berharap begitu. Walau kami pernah saling melukai dan menyakiti hingga akhirnya berpisah tetapi sekarang kami diberikan satu kesempatan untuk bisa kembali bersama.
"Iya, Mas. Aku mencintai Mas sepenuh jiwa ragaku. Selama ini aku tidak pernah membenci, Mas. Aku hanya kecewa dan tersakiti Mas. "
"Maafkan Mas ya, Sayang. Setelah ini tidak akan ada lagi yang menganggu kita. Mas akan membahagiakan kamu. Mas akan terus semua kesalahan yang sudah Mas lakukan sama kamu di masa lalu. Tetap berada di samping Mas karena kamu adalah bagian dari jiwa Mas." Dia menarik aku ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Dengan Mas Bintang, aku ingin menua dan menemukan akhir dari usia. Dengan Mas Bintang ingin kuhabiskan segala hal yang tersisa. Memperjuangkan apapun yang ingin kami punya. Tak kan ada lagi keraguan. Aku ingin dia mendekap tubuhku seperti ini dan tak meragukan rasa yang telah ku peruntukan untuknya.
Mas Bintang mengecup ujung kepalaku. Aku tak pernah merasa sebahagia ini setelah dewasa. Rasanya kebahagiaanku tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata.
"Mas, bagaimana kabar Bee? Aku kangen sama dia, Mas. Apa dia sudah melahirkan?" tanyaku.
"Bee baik-baik saja. Kemarin saat Mas ke sini sedang persiapan melahirkan. Dan tadi pagi, Ayah bilang kalau Bee sudah lahiran. Dan jenis kelamin bayinya perempuan," jelas Mas Bintang.
Aku terharu mendengar ucapan Mas Bintang. Rasanya aku tak sabar ingin bertemu mantan adik iparku itu. Aku rindu kecerewetan Bee yang sama dengan Tata.
"Bee juga merindukan kamu, Sayang. Dia ingin bertemu kamu," sambung Mas Bintang.
"Iya, Mas. Aku juga kangen banget sama Bee. Aku pengen ngerujak sama dia."
"Hem, jangan makan makana seperti itu. Kamu punya riwayat penyakit maag." Mas Bintang mencubit hidungku.
"Aww, Mas. Sakit." Meringgis kesakitan.
"Habisnya kamu itu." Mas Bintang kembali memelukku. Tiba-tiba perutku berbunyi. "Kamu lapar, Sayang?" Rasanya aku ingin menenggelamkan kepalaku di dasar laut saking malunya.
"Hehehe sedikit, Mas." Aku cenggesan.
"Iya sudah, kita makan. Tunggu sebentar, Mas pesan makanan dulu." Dia mengambil ponselnya dan memesan makanan untuk kami berdua.
Beberapa hari ini nafsu makanku memang berkurang karena tekanan batin yang di berikan Kak Rimba membuat aku merasa terkurung dalam penjara cintanya.
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Sudah Mas pesan," ucapnya. Aku membalas dengan anggukan.
Aku menatap kamar mewah mantan suamiku. Seumur hidup baru kali ini aku masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang."
"Iya, Mas?" Aku menoleh.
"Maukah kamu menikah dengan, Mas?"
__ADS_1
Bersambung...