
Ariana POV.
Aku tersenyum lebar menatap wajah suamiku yang tertidur lelap sambil memelukku erat. Aku masih tak menyangka jika lelaki ini datang dan mengatakan hal sama. Rasanya seperti bermimpi di berikan kesempatan kembali untuk bisa bertemu dengan semua itu orang yang aku sayang.
Mas Angga, ayah dari anak-anakku. Tetapi perasaan yang dulu menggebu di dalam dada kini hanya tinggal kenangan. Tak ada lagi rasa yang tersemat untuknya setelah aku menikah dengan suamiku. Aku tahu Mas Angga kecewa atas keputusanku yang tidak memberinya kesempatan lagi. Tetapi aku sudah menikah dan menjadi istri dari pria lain.
Papa, akhirnya aku merasakan pelukannya. Walau mungkin itu akan menjadi pelukan terakhir kami karena besok aku akan menjalani operasi. Jujur aku takut, aku gugup dan semua perasaan itu tidak bisa aku ungkapkan lewat kata-kata.
Mama, wanita terbaik dalam hidupku. Dari dulu hingga sekarang dia tetaplah sosok wanita yang aku kagumi. Di saat seluruh dunia menghakimi dan mengintrogasiku. Mama adalah orang pertama yang memelukku tanpa memarahiku. Dia menegur dan menasihati. Sekarang, aku paham bagaimana perasaan seorang mama karena sebentar lagi aku akan jadi ibu dari tiga bayi sekaligus.
Kak Al dan Kak El, dua kakak prosesifku yang menjagaku seperti telur. Walau pada akhirnya telur itu pecah sendiri ketika mereka lengah dan tak mengenggamku lagi. Kasih sayang yang mereka berikan membuat aku seolah lupa pada kenyataan hidup sebenarnya. Kapan saja aku bisa menjadi manusia terluka.
Kak Naro sedikit mengeliat. Mungkin dia sadar jika aku tengah menatap wajah tampannya.
"Eh, Sayang. Kenapa bangun, ada yang sakit?" cecarnya tampak panik sambil duduk.
Mana bisa aku tidur? Aku takut hari esok tiba, aku takut tak lagi menjadi bagian dari penghuni bumi ini. Tetapi bagaimanapun aku menolak hari esok akan tetap tiga. Mungkin malam ini adalah terakhir kalinya aku menatap wajah suami tampanku.
"Aku haus, Kak," renggekku.
Ah betapa tampannya suamiku ini. Saking tampannya aku bisa sampai jatuh cinta padanya dan melupakan mantan kekasihku, Mas Angga. Salahkah? Apa tidak boleh jatuh cinta suami sendiri.
"Sayang, kata dokter kamu tidak boleh minum. Kamu sudah harus puasa malam ini. Kamu tahan ya," ucapnya tampak sendu.
Aku benar-benar haus kerongkonganku kering. Rasanya aku tak tahan.
"Tapi aku haus, Kak," ucapku lagi.
"Kamu tunggu sebentar, Kakak tanya dokter dulu. Apa boleh minum." Tak lupa dia sematkan kecupan singkat di kepalaku sebelum turun dari ranjang dan bertanya pada dokter.
Kutatap punggung Kak Naro. Perbuatannya dulu tak mampu mengusir semua rasa di dalam dadaku. Aku malah makin mencintainya setiap hari. Perasaanku tak berubah sama sekali dan ingin bersama dengannya hingga akhir waktu.
"Kak, jika aku sudah tak ada nanti. Aku harap kamu tetap mencintaiku."
Tidak lama kemudian Kak Naro dan Kak Galaksi masuk ke dalam ruang rawat inapku. Mereka berdua sama-sama tersenyum simpul ketika melihat aku.
__ADS_1
"Kamu haus?" tanya Kak Galaksi.
"Iya, Kak. Haus banget," renggekku.
"Boleh minum tapi jangan terlalu banyak. Masih ada 6 jam lagi menuju hari." Aku mengangguk paham.
"Naro, berikan ini pada istrimu. Jika ada apa-apa segera panggil aku. Aku menunggu di luar," ucap Kak Galaksi.
"Terima kasih, Gal."
Kak Naro menaikan headbord ranjangku agar aku bisa minum air dalam botol kecil yang sengaja di berikan sedotan supaya aku bisa minum dengan mudah.
"Ayo, Sayang. Minum dulu!"
Kak Naro membantuku menyesap air mineral di dalam botol kecil tersebut. Saking parahnya penyakit yang aku derita sekarang, minum saja harus dengan resep dokter.
"Terima kasih, Kak," ucapku.
"Sama-sama, Sayang."
"Kakak kalau mengantuk tidur saja ya," ucapku. Aku tak mau membuat suamiku repot karena mengurus aku.
"Tidak, Sayang. Kakak tidak mengantuk. Kakak akan temani kamu sampai pagi," ucapnya.
"Tapi, Kak. Begadang tidak baik untuk kesehatanmu," ucapku tersenyum hangat.
"Kalau menjaga orang yang Kakak sayang tidak akan sakit dong," ucapnya terkekeh pelan. Kenapa semua terasa nyata di saat kematian mendekat? Kenapa tidak dari dulu saja, aku dan Kak Naro menjadi sedekat ini?
"Tapi nanti Kakak bisa sakit."
"Tidak apa Kakak sakit asal kamu sembuh."
Aku sejenak terdiam mendengar ucapannya. Apakah sungguh lelaki ini mencintai aku dengan tulus? Mengingat semua yang pernah dia lakukan padaku, rasanya sedikit ragu dengan semua perasaan yang dia ucapkan kala itu.
"Kak."
__ADS_1
"Iya, Sayang?"
"Maaf ya, Arin sudah merepotkan Kakak. Kakak harus punya penyakitan kayak Arin." Aku tersenyum kecut.
"Sayang." Dia mengecup punggung tanganku. "Kakak yang harus minta maaf karena dulu pernah menyia-nyiakan kamu dan menyiksa kamu dengan semua hal yang salah. Sekali lagi Kakak minta maaf ya, Sayang."
Nikmati saja proses lukanya, pelan. Namun, pasti semuanya akan kembali membaik. Ya, tidak ada yang tahu memang berapa lama waktu untuk menyembuhkan luka. Hanya saja, satu yang pasti, nanti akan ada seseorang yang kembali mengisi ruang kosong di di hati Kak Naro. Bisa saja orang yang sama, yang kembali datang dengan penyesalan dan memilih mencintai selamanya.
"Terima kasih, Kak. Aku bahagia punya Kakak."
Setidaknya setelah aku pergi dan tak kembali, ada orang-orang baik yang menjaga ketiga anak kembarku. Entah kenapa aku merasa ini detik terakhir dalam hidupku? Aku belum siap pergi, tetapi kematian malah sudah menjemput dan tak memberikan aku waktu yang sama.
"Jangan berterima kasih, Sayang. Ini sudah tugas dan tanggungjawab Kakak." Dia lagi-lagi mengecup punggung tanganku membuat rasa hangat menjalar di seluruh tubuh.
"Kak, boleh Arin bertemu Mas Angga sebentar?" pintaku.
Kak Naro tersenyum lebar sambil mengusap kepala plontosku.
"Tentu saja bisa, Sayang. Sebentar ya."
Aku ingin berbicara empat mata dengan Mas Angga. Walau bagaimanapun dia adalah ayah dari bayi dalam kandunganku.
"Sayang, kalian tenang ya. Ada dua ayah yang akan menjaga kalian nanti kalau Bunda sudah tidak ada. Bunda harap kalian tumbuh menjadi anak-anak yang hebat dan luar biasa."
Ternyata saat orang-orang menghadapi kematian ada ketakutan tersendiri yang mengikat di dalam sana. Ketakutan yang seperti hendak menghentikan seluruh pernapasan dalam tubuh.
"Arin."
Mas Angga masuk ke dalam ruanganku. Tidak ada rasa dan getaran seperti dulu setiap kali aku melihat lelaki ini. Dulu dia mencintai dan menyayangi aku seperti seorang ratu. Walau aku sempat kecewa karena dia menghilang di hari pernikahan kami. Tetapi sekarang aku mengerti mengapa hal itu terjadi?
"Mas," balasku.
Mas Angga duduk di bangku samping ranjangku. Sementara Kak Naro menunggu di luar.
"Mas sayang sama kamu."
__ADS_1
Bersambung..