Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Perasaan lama


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Kami berkumpul di meja makan. Tampak Dokter Langit dan Senja serta bersama kedua anaknya, Bintang dan Bianca. Keluarga ini selalu terlihat bahagia. Jujur saja banyak yang iri dengan kehidupan Dokter Langit dan Senja, banyak yang berharap jika nanti memiliki keluarga yang sama seperti mereka termasuk aku.


Senja Mentari, dulu aku pernah benar-benar tergila-gila dengan sosok wanita yang satu ini. Dia wanita pendiam yang tampak misterius. Ketika dikhianati oleh suaminya dia tampak hancur, apalagi penghianatan itu terjadi karena Senja yang di ponis mandul oleh dokter. Tetapi lihatlah sekarang, hidupnya jauh lebih baik ketika menemukan seseorang yang benar-benar tepat.


"Ayo silahkan makan," ucap Papa mempersilahkan.


"Terima kasih Pak," sahut Dokter Langit.


"Bee mau makan sama Ayah atau sama Bunda?" Senja tampak mengaduk-aduk makanan dalam piring nya.


"Sama Bunda," jawab gadis kecil berusia lima tahun.


Aku dan Ara sama-sama terdiam. Jujur saja dia perasaan iri yang tersemat dalam dada. Kami sama-sama gagal dalam rumah tangga. Pasangan yang sudah kami pilih dengan sepenuh hati ternyata tega menusuk hati dengan belati. Lalu membiarkan semua rasa yang ada menjadi mati. Hingga perlahan perasaan yang dulunya menggebu kini tak ingin hidup lagi.


"Mama, suapi."


Hingga lamunan kami terbuyarkan ketika mendengar suara panggilan dari Al dan El yang meminta Ara untuk menyuapi mereka.


Tatapan mata terarah pada aku dan Ara apalagi mendengar nama panggilan yang disematkan oleh kedua putra kembarku.

__ADS_1


"Sini Sayang," ucap Ara lembut.


Kami melanjutkan makan dan sesekali diselingi dengan obrolan hangat dan singkat. Celotehan Nara dan Bianca menggema diatas meja apalagi ada Mama yang cerewet bukan main. Sementara Ara dan Senja hanya tersenyum simpul. Papa, aku dan Dokter Langit juga ikut mengobrol. Berbeda dengan Bintang dan Naro yang tampak terdiam dan asyik makan serta dengan dunia mereka sendiri.


Sesekali aku melirik Senja yang telah menjadi istri orang lain. Satu-satunya cara untuk membuat hati terasa tenang karena cinta yang tak bisa dipegang adalah dengan menepi. Menjauh. Menjaga jarak. Hal yang selama ini mungkin saja saku lakukan. Aku selalu punya alasan untuk pergi dan selalu punya alasan untuk tak mengingat rasa yang masih ada didalam dada.


Aku pergi sejauh mungkin untuk melupakan semua rasa yang ada didalam dada dan memilih menikahi Chelsea, berharap dia akan menjadi pelabuhan terakhir cinta yang selama ini belum bisa ku temukan tempat untuk singgah. Namun, semua malah menciptakan luka yang begitu dalam dihatiku.


Sekarang, kenapa aku masih berdebar ketika melihat senyum Senja yang notabene sudah menjadi milik orang lain. Ini pasti ada yang salah dengan hatiku. Harusnya aku tak membiarkan perasaan yang sudah lama selesai ini mengendap didalam dada. Aku tidak mau berdosa karena mencintai istri orang. Sudah cukup, luka yang aku rasakan karena penghianatan Chelsea, kini aku tak mau lagi terluka karena perasaan yang tak mungkin.


Ingatan memang suka mengasuh langkah. Namun, semua yang pergi akhirnya berganti. Semua yang hilang biarlah hilang. Kini langkah baru telah tiba. Memulai dengan hati yang lebih setia. Mungkin aku hanya perlu waktu untuk bisa bangkit dari segala patah hati yang membuatku hidup tak berdaya. Setelah ini aku akan memulai hidup baru dan menata hati yang baru. Senja dan Chelsea adalah dua wanita yang pernah ada menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Aku tidak mau terjebak dengan perasaan masa lalu. Jika pun suatu saat tak ku temukan cinta yang sejati, aku tidak akan memaksakan hati. Selama kedua anakku baik-baik saja maka hidupku juga akan jauh lebih baik.


Tak sengaja aku melirik Ara. Aku paham perasaan nya yang terluka saat ini, karena aku sudah lebih dulu merasakan sakitnya sebuah penghianatan. Aku pun berharap hal yang sama, semoga Ara juga menemukan kebahagiaan nya kelak.


.


.


.


"Iya Ra," sahutku.


Ara mengangkat tubuh Nara sedangkan aku mengangkat tubuh Naro. Kedua anak ini seperti nya sudah tertidur pulas karena kelelahan. Tadi selesai makan anak-anak ini bermain kejar-kejaran di kamar Al dan El, apalagi ada Bianca yang aktif begitu luar biasa.


"Terima kasih Ta," ucap Ara mengantar ku sampai didepan mobil.

__ADS_1


"Sama-sama Ra," balas ku.


Kami berdua berdiri didepan mobil sambil menatap bintang yang bertaburan di langit malam. Hidup baru ternyata memang jauh lebih bahagia. Sedih dan rasa sakit yang dulu membekas, ku telan sudah. Pahitnya menjadi semangat baru. Chelsea adalah orang yang gagal mematahkan semangatku dengan mematahkan hatiku. Sebab, aku paham, bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan rasa pilu. Kini, semua telah kembali baik. Kupastikan tak ada waktu untuk meratapi rasa sakit ini. Aku, telah jatuh dan berserah pada hati yang baru. Tetapi entah siapa aku tidak tahu, mungkin nanti akan segera datang menghampiri ku.


"Masih perasaan yang sama?" tebak Ara melirikku.


"Perasaan yang sama?" kening ku berkerut heran.


"Senja Mentari," sahut Ara terkekeh pelan.


Aku berjingkrak kaget, dari mana Ara tahu tentang hal ini. Padahal akh tidak pernah menceritakan masalah perasaan terhadap siapapun, termasuk Ara.


"Pasti kaget?" Ara tertawa pelan.


"Kamu tahu dari mana?" tanya ku menyelidik.


"Kita bukan kenal hanya sehari atau dua hari, Ta. Aku kenal Manh sejak belasan tahun yang lalu, jadi wajar dong kalau aku tahu apa yang kamu pikirkan," jelas Ara sambil menatap langit malam.


"Kamu mau mentertawakan ku?" Aku memincingkan mataku curiga.


Ara malah tersenyum, "Buat apa? Apa untungnya?" tanya nya sambil tersenyum. "Aku hanya mau katakan, Ta. Sebelum kamu tenggelam jauh dengan perasaan kamu sendiri. Lebih baik kamu segera melupakan rasa yang tak seharusnya ada," ucap Ara sembari memberi saran.


Kutatap matanya di bawah langit berbintang. Kenapa senyum Ara kali ini sangat jauh berbeda dari biasanya. Jantungku yang biasanya hanya bisa digetarkan oleh Senja kini berdebar menatap Ara. Ya Ara benar sebelum aku benar-benar tenggelam dalam perasaan tak mungkin ini, aku harus mengambil tindakan untuk segera menghapus semua tengang Senja dan Chelsea.


"Aku mengatakan nya karena dulu aku juga pernah berada diposisi kamu. Tetapi sekarang aku sadar Ta, bahagia itu tidak hanya tentang bersama orang yang kamu cintai. Tetapi bahagia itu ketika kamu ikhlas melepas sesuatu yang memang tidak tercipta untuk kamu," jelas Ara.

__ADS_1


Aku mengangguk setuju, yang Ara katakan memang benar bahwa sesungguhnya adalah ketika mampu menerima jalan takdir yang telah dipilih oleh Sang Pencipta.


Bersambung...


__ADS_2