Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Nasehat Ibu


__ADS_3

Susanti tersenyum menatap anaknya yang tampak telaten memotong sayuran untuk menyiapkan makan malam tuan rumah.


"Nak," panggil Susanti.


"Iya, Bu," jawab Mentari tersenyum hangat.


Seperti namanya Mentari, gadis ini setiap kali tersenyum mampu menarik perhatian orang apalagi tatapan matanya yang bercahaya dan teduh.


"Boleh Ibu bicara sesuatu denganmu?" pinta Susanti.


"Ibu mau bicara apa?" tanya Mentari sibuk dengan sayuran di tangannya.


"Ibu perhatian semakin hari kau semakin dekat dengan Pak Divta," ucap Susanti melirik putrinya dengan senyuman.


"Masalah pekerjaan saja, Bu," jawab Mentari. Perasaannya mulai was-was ketika sang ibu bertanya masalah hubungannya dengan Divta.


"Bukan Ibu ingin mengatur, sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Pak Divta. Ibu tidak mau nanti malah salah paham. Kau tahu bukan? Jika kita ini orang biasa, Ibu takut perasaan yang tak seharusnya malah ada mengikat kalian nanti. Bagaimanapun Pak Divta itu seorang duda dan pria normal dan kau juga wanita yang menginjak usia dewasa. Jika kalian terus bersama mustahil perasaan itu bisa tumbuh nantinya," jelas Susanti menasihati putri bungsunya itu. Bukan apa, dia hanya tak mau putrinya terluka.


Mentari terdiam sambil memikirkan perkataan ibunya itu. Beberapa waktu terakhir dia dan Divta memang sangat dekat layaknya teman. Lelaki itu memang seperti sengaja mendekatinya. Walau Mentari berusaha menghindar.


"Iya, Bu. Tari paham," sahut Mentari.


Susanti tersenyum, "Nak, carilah pria yang sesuai sama derajat kita. Yang orang tua nya juga menerima dan menghargai kita. Ibu tidak melarang kau berhubungan dengan siapapun, hanya saja Ibu tidak mau kau terluka." Seraya mengusap bahu anak perempuannya itu.


"Iya, Bu. Untuk saat ini Tari belum memikirkan hubungan asmara. Tari ingin kuliah, lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Tari tidak mau Ibu bekerja lagi. Doain Tari ya Bu," ucap Mentari tersenyum.


Susanti tersenyum mengangguk. Tadi siang dia tidak sengaja mendengar percakapan Ferdy dan Melly yang mengatakan bahwa Divta akan di kenalkan dengan anak teman-nya Melly. Susanti hanya tidak mau anaknya terluka ketika tahu bahwa derajat memisahkan antara perasaan dan kenyataan.


"Iya sudah, ayo lanjut masak," ajak Susanti.


Mentari mengangguk dan melanjutkan masaknya. Jujur saja selama beberapa hari ini dia merasa nyaman dekat dengan Divta apalagi ketika lelaki itu mengatakan bahwa dirinya adalah calon suami Mentari. Namun, apa yang di katakan ibu-nya itu memang benar bahwa derajat mereka jauh berbeda. Divta adalah bintang di langit yang sulit di gapai, sementara dirinya orang utan di bumi yang tak terlihat.


Mentari dan Susanti menyusun makanan di atas meja. Tampak orang-orang rumah sedang berjalan menuju meja makan termasuk si kembar.


"Mama," panggil Al dan El.


"Iya Tuan Muda. Ayo silakan makan," ajak Mentari.

__ADS_1


"Tari, ikutlah makan bersama kami," ajak Ferdy.


"Tidak, Tuan. Saya makan di dapur saja nanti. Saya juga belum lapar," tolak Mentari lembut. Entah, kenapa nasehat sang ibu masih terngiang di kepalanya.


"Tidak apa, Tari. Ayo ikut makan bersama kami," ucap Melly menimpali.


"Iya, Mama. Al mau di suapin Mama," sambung Al.


"El juga," sambung El.


Mentari menghela nafas panjang, kalau sudah dua anak kembar ini yang meminta dia tidak bisa menolak. Apalagi melihat wajah lucu dan menggemaskan tersebut, rasanya dia ingin menoel-noel pipi dua pria kecil itu.


Divta menyembunyikan senyumnya. Mentari adalah gadis sederhana yang masih polos dan muda. Sifatnya yang ramah dan lemah membuat Al dan El betah berada di dekatnya.


"Ta, bulan depan anaknya teman Mama si Audrey pulang ke Kalimantan. Apa kau ada waktu rencana Mama ingin memperkenalkanmu padanya?" ucap Melly di tengah-tengah makan mereka.


"Untuk apa, Ma?" tanya Divta tak suka. Sebenarnya ini bukan pertama kali ibunya tersebut memperkenalkan wanita padanya dan lelaki itu tetap sama tidak tertarik sama sekali.


"Iya, siapa tahu kalian cocok," ucap Melly. "Dia cantik, Ta. Lulusan kedokteran lagi dan yang jelas asal usulnya jelas anak orang kaya," jelas Melly.


"Ta, kenapa diam saja?" tanya Melly melihat putranya yang tak merespon sama sekali.


"Iya, Ma. Atur saja waktunya," sahut Divta malas.


.


.


Mentari bangun pagi sekali, pagi ini dia membantu sang ibu menyiapkan sarapan. Setelah ini dia harus ke kampus dan mengambil motornya dengan naik ojek.


"Bu, Tari berangkat ya," pamit gadis itu mencium punggung tangan sang ibu.


"Iya, Nak. Hati-hati," pesan Susanti.


Mentari sengaja pergi lebih awal dia tidak mau naik mobil bersama Divta. Ucapan ibunya semalam seperti memberi tamparan padanya.


"Tari," panggil Susanti sebelum anaknya itu berangkat.

__ADS_1


"Iya, Bu?" Mentari menoleh.


"Ingat pesan Ibu belajar yang benar dan lulus tepat waktu," ucap Susanti tersenyum manis pada anaknya.


Mentari berjalan keluar dia sudah memesan ojek online. Gadis itu menghela nafas panjang. Percakapan di meja makan semalam menyadarkannya akan satu hal, jika derajat memang menentukan untuk bersanding dengan seseorang.


"Tidak, tidak Tari. Kau tidak boleh memikirkan Pak Divta. Ingat kalian berbeda. Dia bintang di langit sedangkan kau hanya orang utan di bumi." Mentari menggeleng menepis semua perasaannya.


"Neng Tari?"


"Iya Mang, saya," sahut Mentari tersenyum hangat.


"Silakan Neng." Sang supir ojek online memberikan helm pada Mentari.


Mentari mengambil helm tersebut lalu naik di atas motor dan memasangkan helm itu di kepalanya.


"Kenapa melamun, Neng? Awali pagimu dengan senyuman bukan dengan lamunan!" ucap sang supir ojek online sambil terkekeh pelan.


"Tidak apa-apa, Mang. Biasalah kehidupan," jawab Mentari tersenyum kecut.


Sampai di depan gerbang kampus, gadis itu langsung turun dari motor dan tak lupa membayar ongkos serta mengembalikan helm pada sang supir.


Mentari menghela nafas panjang lalu dia hembuskan perlahan. Gadis kampung yang sering di bully tersebut berjalan masuk ke dalam. Tampak suasana kampus masih sepi, dia memang berangkat terlalu pagi dan belum ada mahasiswa-mahasiswi yang hanya beberapa orang saja.


"Sadar, Tari. Kau itu gadis miskin mana cocok bersanding dengan pangeran." Lagi-lagi dia menepis bayangan Divta yang tersenyum padanya.


Tak bisa Mentari pungkiri bahwa di dekat Divta dia merasa nyaman dan tenang serta serasa terlindungi.


"Tari, ayolah. Jangan baper," protesnya pada diri sendiri. Dia terus bermonolog sendiri sambil berjalan menuju perpustakaan.


"Tari."


Gadis itu menoleh dia tersenyum saat melihat siapa yang datang. Seorang gadis cantik keturunan Tionghoa dan anak orang kaya serta sahabat Mentari satu-satunya yang mau berteman dengan dirinya.


"Tumben cepat datang?" tanyanya pada Mentari.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2