
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Mas, bagaimana?" tanyaku pada Mas Bayu.
Mas Bayu sedang menyelidiki masalah kecelakaan yang dia alami oleh kedua anakku. Hingga kini kasus ini belum terkuak.
Mas Bayu menggeleng lemah, "Mas sudah mencari banyak bukti. Namun, seperti nya kecelakaan yang di alami Nara dan Naro, sudah di rencana kan," jelas Mas Bayu.
"Maksud Mas ada orang yang sengaja ingin mencelakai anak-anak ku, Mas?" tanyaku tak menyangka.
"Iya kamu benar, Ara. Kamu harus memperketat penjagaan untuk mereka berdua. Mas takut saat melihat Nara dan Naro tidak apa-apa, dia akan kembali mencelakai Nara dan Naro," sahut Mas Bayu.
Aku memejamkan mata sejenak. Berusaha menetralisir emosi yang ingin meledak didalam sana. Siapa? Siapa yang mencoba mencelakai kedua anakku? Apa salah mereka? Mereka masih anak-anak yang belum paham apa itu balas dendam?
Jujur saja ketakutan mulai menyeruak dan menghimpit dadaku. Aku gelisah tak menentu. Aku takut anak-anak ku diambil dari sisi ku. Sebab aku tak memiliki siapa lagi, selain Nara dan Naro.
"Mas, sudah meminta teman Mas untuk menguak kasus ini," sahut Mas Bayu lagi.
"Ra, bagaimana kalau kalian tinggal disini saja bersama kami. Kakak khawatir sama kamu dan anak-anak. Apalagi kamu kerja dan anak-anak sekolah, pasti tidak ada yang memantau mereka," saran Kak Dea.
Aku terdiam sejenak sambil menghela nafas panjang. Sebenarnya aku tipe orang yang tak mau merepotkan orang lain. Hanya saja, aku tak habis pikir. Siapa orang yang kira-kira mau mencelakai kedua anakku?
"Kak, aku tidak mau merepotkan Kakak," ucapku.
"Sama sekali tidak Ara. Kalau kalian tinggal disini, ada Bik Inem yang bisa bantu merawat Nara jadi kamu tidak perlu bolak-balik saat jam makan siang," ucap Kak Dea lagi. Aku tahu Kak Dea dan Mas Bayu orang baik, tetapi tetap saja aku merasa tidak nyaman merepotkan mereka.
"Iya Ara benar. Kamu tinggal disini saja bersama kami," sambung Mas Bayu.
Aku tak bisa lagi menolak karena ini demi kebaikan anak-anak ku. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka. Rumah BTN yang ku beli memang aman dan jauh dari perkotaan, tetapi agak sepi mungkin itu yang memudahkan orang melakukan kejahatan.
"Iya Kak," jawabku mengiyakan. "Tapi apakah tidak merepotkan? Anak-anak kadang rewel," ucapku tak enak. Terutama Naro, sifatnya yang kurang ramah akan menjadi pemicu bagi orang-orang yang tak suka padanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ra," sahut Kak Dea mengusap bahu ku.
"Ya sudah Kak, Mas. Kalau begitu aku permisi dulu. Ada urusan sebentar sama Divta," pamitku. "Aku titip anak-anak yaa, Kak," ucapku lagi.
"Iya, kamu hati-hati," pesan Kak Dea.
Aku masuk kedalam mobil taksi. Sepanjang jalan aku terus melamun dan berpikir keras, siapa sebenarnya yang mencoba mencelakai anak-anak ku?
"Apa mungkin Ibu dan Lusia?" tanya ku setengah bergumam. Sebab kedua orang itu adalah musuh terbesar yang kadang berpenampilan seperti malaikat.
"Tapi apa iya Ibu tega mencelakai cuci nya sendiri?"
Ya, aku tahu mantan ibu mertua jahat. Dia tidak akan tega mencelakai cucu nya sendiri.
Aku kembali melamun. Sebulan telah berlalu sejak perpisahan ku dan Mas Galvin, semua mengalir seperti biasa. Rasa sakit dan sedih yang dulu bertahan berhari-hari kini mulai terbiasa. Aku tak lagi meremang dalam patah hati yang dalam, yang terapal dikepalaku, adalah bagaimana caranya aku menikmati hidup menjadi orang tua tunggal untuk kedua anakku.
Aku turun dipelabuhan untuk menjemput Divta. Tadi nya, aku ingin mengajak anak-anak. Tetapi Nara kelihatan tidak sehat, apalagi setelah pertemuan nya dengan Mas Galvin tadi. Aku takut ingin meguncang jiwa anakku.
"Ara," panggil nya dari jauh seraya melambaikan tangan.
Tampak beberapa istri menjemput para suami yang baru saja berlayar beberapa minggu hingga bulan, dalam perjalanan dinas.
"Ra."
Aku seketika terdiam ketika Divta memelukku. Entahlah, aku sedikit menutup diri terhadap laki-laki setelah sakitnya di khianati. Aku takut ketika aku mulai membuka hati untuk orang baru, aku akan kembali dipatahkan oleh keadaan dan kenyataan.
"Kamu apa kabar?" tanya Divta melepasmu pelukan nya.
"Aku sehat, Ta. Kamu apa kabar juga? Lama sekali dinas nya?" ucap ku mengerucutkan bibir kesal seolah sedang merajuk.
"Kenapa? Kangen, ya?" goda Divta.
Aku terkekeh pelan. Divta adalah sahabat ku. Aku tak mengharapkan banyak dari hubungan kami. Bagiku, bisa terus menjadi teman nya adalah sebuah keberuntungan, terlebih aku masih memiliki hutang pada Divta.
"Anak-anak kemana?" tanya Divta mencari keberadaan Nara dan Naro.
__ADS_1
"Mereka istirahat dirumah Mas Bayu. Mulai besok, aku akan tinggal sama Kak Dea dan Mas Bayu," jelasku.
Tampak Divta terkejut dengan keningnya yang menggerut.
"Lho kenapa?" tanya Divta tampak penasaran.
"Nanti aku cerita," jawabku.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Sudah di jemput," ajak Divta.
"Ta, kita ke rumah Mas Galvin sebentar. Aku aku mengambil barang ku yang tertinggal disana," ucapku
"Iya," sahut Divta.
Aku tak ingin menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Tetapi ada beberapa barang penting yang belum kuambil. Berkas-berkas sekolah anakku serta foto-foto di kamar kami juga belum aku ambil.
"Bagaimana hari pertama kamu bekerja?" tanya Divta
"Ya begitulah, Ta. Aku bagian Kasie Keuangan," sahutku. Aku tak memandang bentuk pekerjaan ku, selagi itu halal dan menghasilkan uang bagiku tak masalah bekerja apa saja.
"Kamu terlihat murung, ada masalah?" tanya Divta penasaran. Divta ini tipe orang peka sama seperti Naro, dia akan cepat merasa ada hal yang janggal di sekitarnya.
"Kecelakaan Nara dan Naro telah direncanakan," jawabku. Kami duduk di bangku penumpang. Sedangkan yang menyetir supir pribadi Divta.
"Maksudmu, ada orang yang sengaja melakukan ini?" tanya Divta memastikan.
"Iya, Ta. Kata Mas Bayu, kasus ini seperti sengaja ditutupi oleh kepolisian. Ada orang dalam yang sengaja di suap," jelas ku.
"Astaga." Divta tampak terkejut. "Siapa kira-kira yang tega melakukan ini? Memang nya Nara dan Naro memiliki salah apa?" cecar Divta.
Ini juga yang sedang aku cari tahu jawaban nya. Siapa yang melakukan nya? Aku juga tak merasa memiliki musuh. Entahlah Mas Galvin. Tapi apa mungkin karena Mas Galvin lalu bisa melampiaskan kemarahan itu pada Nara dan Naro? Mereka masih anak-anak yang belum tahu apa-apa.
"Nanti aku juga akan bantu kamu. Kamu tenang ya. Kasus ini pasti akan segera terkuak. Dan orang yang menabrak Naro dan Nara harus mendapat hukuman yang setimpal," ucap Divta terdengar emosi. Siapa yang tak emosi? Mendengar bahwa kecelakaan ini adalah rencana pembunuhan dari seseorang.
**Bersambung...... **
__ADS_1