
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Kami keluar dari ruangan Pak Dante. Tata masih tidur dengan lelap, tetapi tangannya menggenggam tanganku. Sementara Pak Dante menggendong anaknya tersebut. Untung saja suasana kantor sudah sepi karena memang menjelang malam. Pikiranku mulai kalut, pasti Nara dan Naro panik melihat ku belum pulang.
Kami masuk kedalam mobil. Kali ini ada supir pribadi Pak Dante yang menyetir.
"Mommy," panggil Tata turun dari gendongan ayah nya.
"Iya Nak, Mommy disini," ucap ku menenangkan gadis kecil ini.
Aku memangku Tata, jika begini bisa-bisa aku tidak pulang. Semoga saja sampai rumah nanti Tata sudah tidur dan tidak mencariku lagi.
Tata memelukku dengan erat. Sementara tangan ku mengusap rambut panjang nya. Pikiranku benar-benar kalut dan tertuju pada kedua anakku. Apa mereka sudah makan? Di mana Mira membawa Nara dan Naro, sebab Mira belum pernah kerumah dan tentu nya dia tidak tahu dimana alamat rumah kami.
"Kamu tenang saja, Mira bawa anak-anak kamu ke rumah nya," ucap Pak Dante yang seolah tahu apa yang aku pikirkan.
"Iya Pak. Saya hanya khawatir pada Nara," sahutku. Anakku itu harus makan dan minum obat teratur.
Mobil yang kami tumpangi sampai di sebuah rumah mewah yang tidak lain adalah kediaman Pak Dante.
"Biar saya saja yang gendong Pak," ucap ku sambil turun dari mobil.
Kami disambut hangat oleh para asisten rumah tangga yang bekerja disana.
"Dante," panggil seorang wanita paruh baya. "Astaga, Tata kenapa?" tanya nya panik.
"Tidak apa-apa, Ma. Dia hanya kelelahan," jawab Pak Dante.
"Tapi sia_"
Mama-nya Pak Dante langsung terhenti ketika melihat ku. Pasti dia heran kenapa wajahku bisa mirip dengan almarhum menantu nya? Jangankan dia aku saja bertanya bertanya-tanya, kenapa wajahku bisa begitu mirip dengan orang yang sama sekali tak memiliki hubungan darah dengan ku.
"Ini Ara, Ma. Dia Kasie Keuangan di kantor. Tadi Tata minta antar sama dia," jelas Pak Dante.
"Salam kenal, Tante. Saya Ara," ucap ku memperkenalkan diri sambil mencium punggung tangan orang tua ini.
Wanita paruh baya itu terdiam sambil menatapku berkaca-kaca.
"Ara, ayo bawa Tata ke kamarnya dulu," ajak Pak Dante.
Aku mengangguk dan membawa gadis kecil ini masuk kedalam kamarnya. Kamar Tata sangat mewah dengan desain fronzen, salah satu kartun kesukaan Nara. Jika suatu saat aku memiliki uang banyak aku juga ingin membuat desain seperti ini di kamar Nara, dia pasti suka dan senang.
__ADS_1
Aku meletakkan Tatanpslan sekali, takut dia terbangun. Kalau dia sampai terbangun bisa-bisa aku akan menginap disini.
"Selamat tidur, Sayang," ucap ku mengecup kening Tata lalu menaikkan selimutnya.
Aku dan Pak Dante keluar dari kamar Tata. Di ruang tamu kedua orang tua Pak Dante sudah menunggu sambil menikmati kopi yang dibuat oleh para asisten rumah tangga.
"Silahkan duduk, Ra," ajak Mama-nya Pak Dante.
"Iya Tante, terima kasih," sahut ku sambil duduk.
"Dante kamu mandi dulu sana. Kita makan malam bersama," suruh Mama-nya.
"Iya Ma," sahut Pak Dante.
Wajah tegas yang biasa kulihat di kantor seketika hilang ketika Pak Dante bersama orang tua nya. Seperti nya Pak Dante orang yang begitu menyayangi kedua orang tuannya. Terlihat sekali dia menghormati dua orang itu.
"Jangan panggil Tante, panggil saja Mama," ucap nya sambil mengusap tangan ku.
Aku mengangguk canggung. Baru pertama kali bertemu, tetapi Mama-nya Pak Dante sudah meminta ku memanggil nya Mama. Kenapa rasanya canggung sekali lagi?
"Kamu tinggal di mana, Ra?" tanya Papa-nya Pak Dante.
"Saya tinggal di Sungai Renggas, Om," jawabku.
.
.
"Its oke Pak," sahutku.
Sebenarnya aku ingin bertanya, apakah benar bahwa wajahku mirip dengan mantan istrinya Pak Dante?
"Kita langsung ke rumah saya saja Pak, anak-anak sudah dibawa teman saya ke rumah," ujarku. Divta baru saja mengirim pesan bahwa Nara dan Naro sudah berada dirumah.
"Iya Ra," sahut nya sambil tersenyum.
Aku menatap kosong kearah jendela kaca mobil. Menjadi orang tua tunggal dari dua anak, bukan sesuatu yang mudah. Aku harus membagi waktu antara pekerjaan dan anak-anak. Aku harus bekerja keras demi masa depan mereka. Meluangkan waktu untuk menemani mereka belajar.
Aku merindukan kedua anakku, padahal baru beberapa jam saja tidak bertemu tetapi rasa rindu ku menyeruak didalam dada.
"Tadi Mama tanya apa?" tanya Pak Dante lagi melihat.
"Tidak ada apa," jawabku.
"Syukurlah," sahutnya menghela nafas panjang. "Maaf atas tingkah Tata tadi," sambungnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak. Saya paham perasaan nya. Merindukan seseorang yang telah tiada itu memang sangat menyakitkan," jelas ku
Pak Dante tampak terdiam lalu fokus menyetir. Andai saja aku punya indra keenam yang bisa membaca isi hati seseorang, aku ingin sekali tahu apa yang dipikirkan Pak Dante. Mulutku serasa bungkam untuk bertanya tentang almarhum istrinya Pak Dante, aku merasa tak memiliki hak untuk tahu semua hal tentang orang yang belum ku ketahui sama sekali.
Mobil Pak Dante berhenti tepat didepan rumah BTN yang aku beli.
"Ini rumah kamu?" Dia melirik pekarangan rumah ku dari depan.
"Iya Pak, masih kredit," sahut ku melepaskan sealbeat ditubuh ku.
"Mau singgah dulu?" tawar ku
"Boleh."
Kami keluar dari mobil, tampak mobil Divta masih terparkir didepan rumah. Aku menghela nafas panjang, teringat ancaman Chelsea tadi membuat ku sedikit menjauh dari Divta. Aku hanya takut, jika Chelsea nekad dan mencelakai Nara dan Naro.
"Mobil siapa?" tanya Pak Dante yang tampak penasaran.
"Teman saya, Pak," jawabku memaksakan senyum. "Ayo, Pak. Silahkan masuk," ajakku.
Kami masuk kedalam rumah sederhana yang masih ku bayar dengan cara menyicil tersebut. Setidaknya lebih baik dari pada harus tingga di kontrakan dan bayar setiap bulan.
"Ra, kamu sudah pulang?" tanya Divta menyambut kami.
"Iya Ta, di mana anak-anak?" Aku melirik ruang tamu yang tampak bekas makanan.
"Tadi aku belikan makanan untuk anak-anak," jelas Divta yang seolah tahu arah mataku.
"Ta, terima kasih ya. Maaf merepotkan," ucap ku merasa tidak enak hati.
"Sama sekali tidak," sahut Divta.
"Oh ya, Ta. Perkenalkan ini Pak Dante, boss di kantorku," ucap ku memperkenalkan Pak Dante.
"Dante."
"Divta."
"Ayo Pak, silahkan duduk," ajak ku.
Pak Dante duduk bersama Divta. Mereka berdua tampak saling dingin. Biasanya Divta ini orang yang ramah dan mudah bergaul dengan orang baru. Tetapi kenapa dia dan Pak Dante seperti tak saling menyukai satu sama lain.
"Saya buatkan minum dulu Pak," ucap ku pada Pak Dante. Dia membalas dengan anggukan kepala.
Bersambung.....
__ADS_1