
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
"Mama," panggil Naro saat aku sedang membuatkan kopi untuk Pak Dante dan Divta.
"Iya Nak, kenapa?" tanyaku melirik Naro.
"Itu siapa, Ma?" tanya Naro melihat Pak Dante dari jauh.
"Boss Mama dikantor, kenapa Son?" tanya ku dengan tangan yang sibuk mengaduk kopi didalam gelas.
"Tidak, Ma," sahut Naro.
"Kalian sudah makan?" Aku meletakkan dua gelas kopi diatas nampan.
"Sudah Ma," jawab Naro. "Ma, tadi ada tante-tante yang mengaku istri nya Om Divta. Dia bilang kami tak boleh dekat-dekat Om Divta lagi," jelas Naro.
Akh terkejut, sontak saja aku berjongkok menyamakan tinggi ku dengan Naro. Aku takut jika Chelsea mencelakai Nara dan Naro.
"Ma, bukan nya Om Divta sudah punya istri? Kenapa ada yang mengaku sebagai istrinya Om Divta?" tanya Naro lagi polos.
"Sayang, kalian tidak apa-apa 'kan? Apa tante mencelakai kalian?" tanya ku dengan wajah panik. Bagaimana kalau Chelsea benar-benar menepati janji nya dan mencelakai anak-anak ku.
"Tidak apa-apa, Ma," jawab Naro.
Aku bernafas lega. Ku rengkuh tubuh kecil Naro. Sedangkan Nara sudah terlelap di kamarnya. Aku benar-benar takut jika Chelsea sampai melakukan hal senekad itu pada kedua anakku.
"Nak, lain kali kalau kalian bertemu tante itu lagi langsung lapor sama Ibu Dessy ya. Dan ingat kalau dia mengajak Nara dan Naro pergi ke suatu tempat atau memberikan kalian makanan. Jangan di ambil," pesan ku mengusap rambut Naro.
"Iya Ma," jawab Naro menurut.
"Ya sudah, Naro tidur duluan ya, Nak. Jangan lupa berdoa," ucap ku mengecup kening Naro.
"Selamat malam, Mama," balas Naro sambil mencium pipiku.
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang dan berdiri. Aku harus bicarakan ini dengan Divta, aku tidak mau nanti Nara dan Naro terancam karena kehadiran Chelsea. Aku tahu Chelsea bukan orang sembarangan, dia anak orang kaya yang memiliki akses dan jaringan.
Aku berjalan menuju ruang tamu sambil membawa nampan ditangan ku. Jujur pikiran ku mulai tak tenang. Kenapa selalu ada-ada saja yang menganggu ketenangan hidupku? Padahal, aku tidak pernah ikut campur urusan orang lain.
Chelsea, bukankah dia dan Divta sudah berpisah. Kalau pun mereka ingin kembali, itu bukan urusanku. Kenapa aku yang harus jadi ancaman dan sasaran kemarahan nya? Selama ini aku dan Divta memang dekat, tetapi itu sebatas teman saja. Tidak ada hubungan apapun. Bahkan aku tak memiliki rasa seperti yang dituduhkan Chelsea.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Divta melihat wajah ku yang tampak kusut.
"Tidak apa-apa," kilah ku. "Silahkan di minum Pak," ucap ku meletakkan gelas berisi kopi tersebut diatas meja.
"Terima kasih Ra," sahut Pak Dante dan Divta bersamaan.
Aku ikut duduk menemani mereka. Jujur aku tak bisa mengendalikan emosiku ketika tahu bahwa Chelsea sudah menemui anak-anak ku apalagi sampai mengancam dan melarang mereka dekat dengan Divta.
"Ra, kalau ada masalah cerita," ucap Divta.
Seandainya tak ada Pak Dante mungkin aku sudah mengatakan semuanya pada Divta. Tetapi ini masalah pribadi yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
"Tidak," kilah ku.
"Ara, seperti nya saya harus pamit. Besok saya jemput," ucap Pak Dante.
"Tidak usah Pak," tolak ku. "Saya naik taksi saja," sambungku.
"Saya tidak menerima penolakan, karena Tata ingin sarapan sama kamu. Ajak sekalian Nara dan Naro," jelas nya yang tidak menerima alasan ku untuk menolak.
Aku menghela nafas panjang. Apa maksud Pak Dante yang ingin menjemput ku?
"Kalau begitu saya pamit. Kamu langsung istirahat saja. Jangan begadang," pesan Pak Dante.
Aku semakin terkejut ketika Pak Dante mengusap kepala ku, andai dia bukan boss ku sudah pasti akan ku tepis tangannya.
"Iya Pak, terima kasih," jawab ku tersenyum kaku.
Divta hanya terdiam dengan wajah datar nya tanpa ekspresi. Entah apa yang ada dipikiran Divta.
Aku mengantar Pak Dante sampai ke depan. Apa mungkin karena aku mirip dengan almarhum istrinya sehingga Pak Dante perhatian padaku.
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang dan masuk kembali ke dalam rumah. Aku memejamkan mata sejenak, meresapi segala rasa sakit yang menghantam didalam sana. Kenapa hidupku serumit ini? Beginikah rasanya hidup tanpa siapa-siapa? Jika begini aku jadi merindukan ayah dan ibu, sudah lama aku tak bertanya kabar dengan mereka.
"Ta." Aku duduk disamping Divta.
"Iya Ra, kenapa?" tanya Divta.
"Aku ingin bicara sesuatu sama kamu," ucapku pelan dan lirih. Rasanya air mata ku ingin menetes dan terjatuh begitu saja.
"Bicara apa Ra?" kening Divta berkerut heran.
"Ini masalah Chelsea," jelasku.
Divta tampak terkejut ketika aku membahas mantan istrinya itu.
"Chelsea, ada apa dengan nya?" tanya Divta.
"Dia mengancam aku dan anak-anak supaya tidak dekat kamu, Ta. Jadi mohon mulai sekarang kamu jangan ganggu aku dan anak-anak lagi. Aku takut Chelsea mencelakai mereka," mohon ku dengan kedua tangan yang menangkup didepan dada dan air mata menetes di pipi ku.
"Ra." Suara Divta tampak serak. "Maafkan ku, tapi aku tidak bisa kembali sama Chelsea. Aku tidak mau, Ra. Aku tidak bisa," jelas Divta.
"Itu bukan urusan aku Ta. Kamu selesaikan ini sama Chelsea tanpa bawa aku dma anak-anak. Kami tidak tahu masalah kalian," ucap ku mengusap air mataku yang berderai. Jujur saja aku takut
"Ra, maaf."
"Ta, aku mohon. Aku ingin hidup tenang tanpa gangguan dari dunia luar. Selama ini aku sudah cukup menderita dengan perbuatan Mas Galvin dan keluarga nya. Kali ini aku tidak mau di ganggu lagi. Tolong biarkan aku hidup tenang sekali saja, Ta. Aku takut Chelsea mencelakai anak-anak," ucap ku berderai air mata. Aku benar-benar mengungkapkan rasa takut yang selama ini aku pendam didalam dada. Aku tak punya tempat untuk bersandar. Rasanya aku lelah sekali menghadapi semua ini.
"Ra, aku tidak bisa jauh dari kalian. Aku tidak bisa Ra," ucap Divta berusaha menggapai tangan ku, tetapi aku menepis tangan Divta dengan kasar.
"Kenapa, Ta? Apa susah nya kamu pergi dan hidup bahagia bersama Chelsea?" ucap ku menyeka air mataku dengan kasar.
"Aku tidak bisa pergi, karena aku cinta sama kamu."
Deg
Aku mendengar tak percaya, bagaimana bisa Divta mencintaiku? Bahkan selama ini hubungan kami benar-benar hanya sebatas sahabat dekat itu pun karena Divta sudah banyak membantu ku dalam segala hal.
"Aku cinta sama kamu, Ra. Aku tidak bisa pergi dari hidup kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu."
__ADS_1
Benar tak ada kebaikan yang benar-benar tulus jika tak ada maksud dan tujuan. Sekarang aku paham
Bersambung...