Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 03.


__ADS_3

Aku bangun pagi saat merasakan perutku perih. Kenapa sangat sakit sekali? Aku duduk sambil mengumpulkan nyawaku, jangan sampai terjadi apa-apa pada bayi dalam kandunganku.


Bergegas aku berjalan menuju dapur, lalu mengambil air hangat-hangat kuku dan langsung kutunggak hingga tandas.


"Kamu harus baik-baik ya, Sayang. Temani Bunda berjuang," ucapku sambil duduk di kursi meja makan.


Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Sebenarnya aku tak biasa bangun pagi karena terbiasa hidup manja. Tetapi setelah menikah sebisa mungkin aku harus membiasakan diri karena sekarang aku adalah seorang istri.


Aku menatap sekeliling rumah mewah ini, rumah ini sangat besar dan berlantai dua. Aku menghembuskan napas kasar ketika harus membersihkannya seorang diri, seperti kata suamiku. Bahwa aku adalah pembantu dan pelayan di rumah ini, jadi aku tidak boleh berharap posisiku sebagai istri.


Aku mulai membersihkan rumah, mencuci piring, menyapu lantai, mengelap meja dan kaca, menyiram tanaman, membersihkan kamar mandi dan terakhir memasak untuk suamiku. Kuakui, aku bukan wanita yang pintar masak tetapi sedikit aku bisa walau tdiak seenak koki di restaurant.


Aku tak mau ceroboh lagi dan jangan sampai menuangkan garam terlalu banyak, atau kalah tidak suamiku bisa mengamuk lagi.


"Kak Naro pasti suka, ini enak." Aku mencicipi masakan tersebut dan rasanya memang pas menurutku.


Sejak hamil aku lebih mudah lelah dan rasanya ingin rebahan terus. Untung saja beberapa waktu terakhir aku tidak lagi mengalami morning kiss.


Aku menghela napas panjang. Aku ingin sekali menyiapkan pakaian kerja suamiku seperti yang di lakukan para istri untuk suaminya. Namun, aku harus menelan pil pahit karena pada kenyataannya pernikahan ini hanyalah semu dan keterpaksaan.


"Aduh capek!"


Aku terduduk di kursi meja makan membereskan rumah sebesar ini cukup menguras tenaga. Hampir semua ruangan aku bersihkan kecuali kamar suamiku.


"Capek ya, Nak?" Kuusap perutku. "Kita nikmati dulu semuanya. Kita harus berjuang supaya ayah bisa menerima kita. Kita pasti bisa lewati ini."


Andai anakku sudah lahir, aku ingin sekali bercerita banyak hal padanya. Aku ingin mengajaknya mengarungi betapa kejamnya dunia ini. Aku tak sabar dia nanti hadir dan melihatku sebagai sosok ibu yang akan dia tatap saat pertama kali melihat dunia. Walau ada perasaan bersalah ketika aku tak bisa menyediakan bahagia untuknya. Harapanku tak banyak, aku hanya ingin anakku sehat dan bahagia hingga aku tak lagi menjadi penghuni dari dunia ini.


"Mas Angga."


Satu nama yang masih kian melekat di dalam dadaku, Mas Angga. Cinta pertamaku dan lelaki pertama uang menyentuhku kian dalam. Aku yang sudah begitu percaya padanya hingga rela memberikan tubuhku pada lelaki yang belum menjadi suamiku. Dan sekarang aku telah menerima buah dari perbuatanku sendiri.


"Kamu di mana, Mas? Apa kamu tahu, aku kangen sama banget kamu? Aku menderita, Mas. Aku, aku tidak baik-baik saja."

__ADS_1


Sial, kenapa air mataku selalu tak bisa di tahan ketika menyebut nama dari mantan pacarku itu, aku rapuh dengan segala keadaan yang memaksa aku dewasa dan menerima semua ini.


Aku berjalan pelan menuju kamar, beberapa hari ini badanku memang mudah lelah dan bagian perutku sangat nyeri sekali.


"Aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat."


Iya, aku harus kuat menghadapi semua kenyataan yang memeras tenaga dan pikiranku. Aku tak boleh stress demi bayi yang belum berbentuk ini. Aku tak mau berdosa untuk kedua kalinya.


"Argh, kenapa sakit sekali?" Aku merintih sambil memegang perutku.


"Apa aku ke dokter saja, ya? Sejak pertama hamil sampai sekarang aku belum cek kandungan."


Aku tak sempat memperhatikan kesehatan. Jujur saja aku sempat depresi karena kondisiku yang berbadan dua, sekaligus sok. Padahal aku melakukannya hanya sekali, tetapi kenapa bisa jadi?


Aku segera membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah ini aku harus ke dokter, aku tak mau terjadi apa-apa pada calon bagiku. Cukup aku saja yang menderita jangan dia. Kubasahi tubuhku, padahal air ini tidak terlalu dingin tetapi berhasil membuat bulu-bulu kulitku berdiri dan meresap ke dalam tulang-tulang.


"Kenapa perih sekali ya?" keluhku.


Secepatnya aku mandi sebelum Kak Naro bangun dan tak mendapati aku di meja makan.


Aku berhenti sejenak ketika melihat suamiku sudah berada di meja makan. Dia hanya diam tanpa berani menyentuh masakkanku. Kulangkahkan kaki menghampiri dirinya, jantung berdegup kencang ketika hendak berada di sampingnya. Bukan karena debaran jatuh cinta tetapi ketakutan jika Kak Naro akan menyakitiku lagi seperti kemarin.


"Pagi, Kak," sapaku ramah.


Dia melayangkan tatapan tajam yang seolah menancapkan pedang di dadaku.


"Masakan apa ini?" tanyanya.


"Sup buntut, cah kangkung dan pepes ikan, Kak," jawabku.


Semalam Kak Nara mengirim pesan dan menyebutkan semua makanan favorite Kak Naro. Jadi, pagi ini aku berusaha memasak makanan ini untuknya. Barangkali dia suka seperti harapanku.


"Kamu yakin rasanya enak?" Dia menatapku sinis.

__ADS_1


"Aku sudah coba, Kak. Menurutku rasanya enak," jawabku.


Dia berdiri lalu mengambil makanan yang ada di dalam mangkuk serta membawanya ke dapur dan membuang makanan tersebut ke dalam wastafel. Makanan yang ku masak dengan susah payah dia buang begitu saja.


"Aku tidak mau makan, masakan dari wanita bekas sepertimu."


Prang!


Prang!


Mangkuk-mangkuk tersebut dia banting di atas lantai. Aku terkejut dengan wajah pucat fasih, entah kenapa aku menyangkan jika pecahan mangkuk tersebut akan dia goreskan pada wajahku seperti film-film thiller.


"Aku tidak mau jadi murahan juga," cacinya menatapku penuh kebencian.


Aku diam saja sambil menunduk dengan jari-jari yang saling meremas satu sama lain. Bukan, bukan karena takut tetapi rasa nyeri di perutku semakin kuat.


Dia mencengkram daguku sekali lagi. Tatapan matanya menghunus dan masuk ke dalam indra penglihatan. Aku bisa lihat betapa banyak kebencian yang dia tanamkan padaku.


"Cih."


Lidahnya menempel di wajahku.


"Kamu pantas mendapatkan ini!" Dia hempaskan daguku dengan kasar.


Aku meringgis kesakitan, cengkraman tangannya berhasil meninggalkan luka di sana sehingga terasa perih.


Kak Naro menyambar tas dan jasnya lalu melenggang pergi meninggalkan aku yang tersungkur di lantai. Kutatap punggungnya yang menjauh, sepertinya harapanku untuk membuat dia menerimaku tidak akan pernah terwujud.


"Argh!"


Aku berdiri pelan dengan mengumpulkan kekuatan agar tidak tumbang.


"Ayolah, Rin. Kamu harus kuat. Anak dalam kandunganmu butuh kamu. Jangan menyerah," ucapku menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


Air mata berlinang membasahi pipiku. Seolah menunjukkan bahwa aku telah kalah dalam pertarungan ini.


Bersambung...


__ADS_2