
Aku berdiri di depan rumah mewah papa dan mama. Sejak menikah aku tidak pernah menjengguk rumah atau sekedar bertanya kabar. Keluargaku benar-benar tak peduli padaku.
"Kuatkan aku, Tuhan."
Aku datang ke sini hanya ingin berpamitan sebelum akhirnya, aku meninggalkan kehidupan di dunia ini. Setelah ini aku akan menjalani kemoterapi rutin. Mungkin waktuku memang sudah tak banyak. Aku ingin meminta maaf di detik-detik terakhir dalam hidupku. Aku berharap masih bisa menemukan kata maaf dari mulut papa, Kak Al dan Kak El.
"Ayo, Kak!" ajak Anggi.
Aku menatap Anggi dengan sedikit ragu. Bagaimana kalau aku di usir dari sini? Aku masih ingat bagaimana papa mengusirku dari ruang saat tahu aku hamil di luar nikah. Aku takut hal itu terjadi lagi ketiga aku datang ke sini.
"Kakak jangan takut, ada Anggi di sini." Anggi mengusap lenganku seolah menenangkanku lewat usapan tangannya.
Aku membalas dengan anggukan. Tak bisa ku pungkiri jika jantungku berdebar saat melihat rumah yang menjadi saksi aku bertumbuh dewasa. Dulu, aku adalah seorang tuan putri yang di perlakukan dengan baik oleh kedua saudara kembarku. Di sayangi dan di berikan apa saja yang ku ingin.
"Eh, Non Arin," sapa Bik Zaenab.
"Bik."
Aku memeluk asisten rumah tangga yang sudah bekerja sejak lama di rumah kami. Aku akrab sekali dengan Bik Zaenab yang sudah ku anggap seperti nenekku sendiri.
"Apa kabar, Non?" tanya Bik Zaenab melepaskan pelukan aku.
"Arin baik, Bik. Bibi apa kabar juga?" tanyaku seraya menampilkan senyum simpul.
"Bibi sehat, Non." Bik Zaenab tampak terharu ketika bertemu dengan aku, ini pertemuan pertama kami setelah aku menikah.
"Papa sama Mama mana, Bik?" tanyaku.
"Ada di dalam, Non. Mari masuk!"
Kami bertiga berjalan masuk. Setiap kali masuk ke dalam rumah ini hatiku selalu nyaman dan aman. Merasa bahwa rumah ini memang tempat ternyaman untuk aku pulang.
__ADS_1
Kuhela napas panjang dan lagi bagian perutku sakit sekali. Apalagi usia kandungan ini sudah memasuki bulan kelima, jadi sudah mulai terasa.
"Papa. Mama."
Kulihat papa dan mama sedang duduk berdua sambil bercerita di ruang tamu. Mereka memang selalu begitu, meski usia pernikahan sudah tak muda lagi tetapi keromantisan dan keharmonisan mereka tak memudar oleh waktu. Aku juga ingin seperti itu, setidaknya sebelum aku meninggalkan dunia ini.
"Arin." Mama langsung berdiri. Sedangkan papa menampilkan wajah datarnya.
"Ma."
Mama berjalan kearahku lalu memeluk aku dengan tangis. Andai mama tahu jika anak perempuannya ini sedang tak baik-baik saja. Andai mama tahu jika anak perempuannya ini tidak akan lama lagi hidup di dunia. Kenapa rasanya sakit sekali ketika mengingat bahwa aku sebentar lagi, akan meninggalkan dunia yang aku tinggali.
"Arin kangen sama mama. Maafkan Arin, Ma. Maafkan Arin." Tangisku seketika pecah. Aku ingin bercerita pada Mama bahwa kehidupanku setelah menikah tidak baik-baik saja. Kak Naro tidak memperlakukan aku dengan baik. Aku hanya perempuan murahan yang tak berharap di matanya.
"Mama juga kangen sama kamu, Nak. Apa kabar kamu?" Mama melepaskan pelukanku lalu menyeka air mata yang jatuh bergelinding membasahi pipiku.
"Arin baik, Ma. Mama kabar apa kabar juga?" tanyaku balik.
"Selamat si_"
"Kak," panggilku.
Wajah mereka berdua langsung dingin. Kedua kakakku duduk di sofa bersama papa. Keduanya masih enggan melihatku. Aku tersenyum kecut, ini tidak lama. Mereka tidak akan malu lagi memiliki anak sepertiku.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Kak Al dingin.
"Son, jangan begitu," tegur Mama. "Ayo, Sayang. Kita duduk ya, kamu sudah makan?" tanya Mama lembut sambil membawa aku duduk di sofa. Anggi mengikuti kami dan duduk juga di sofa.
"Arin masih kenyang, Mak," jawabku dengan suara parau.
"Tidak usah memasang wajah polos, Arin. Apa yang kamu lakukan di sini? Mana suami kamu?" tanya Kak El ikut menimpali.
__ADS_1
"Kak, bisa tidak? Jangan kasar sama Kak Arin. Jangan menghakimi orang seolah Kakak paling benar. Jangan sampai Kakak menyesal nantinya," sergah Anggi yang terlihat dengan napas menggebu-gebu.
"Nggi." Aku menggeleng.
"Tidak, Kak. Keluarga Kakak sudah keterlaluan. Kakak memang salah tapi Kakak juga punya perasaan. Mereka tidak bisa seenaknya memperlakukan Kakak," jelas Anggi padaku.
Papa, Kak Al dan Kak El seperti mencebik ketika mendengar ucapan Anggi. Kalaupun mereka tahu jika aku sakit, mereka juga tidak akan peduli. Bagi mereka aku adalah anak yang sudah mencemarkan nama baik keluarga terutama papa. Papa adalah abdi negara yang di hormati dan mantan kapten angkatan laut. Tentu saja, dia akan sangat merasakan malu jika putrinya hamil di luar nikah.
"Kamu jangan ikut campur, Anggi. Kamu orang luar dan kamu tidak tahu apa-apa masalah keluarga kamu," bantah Kak El.
"Siapa bilang aku orang luar, Kak? Kak Arin menggandung calon keponakanku dan dia kakak iparku. Jadi, dia adalah keluargaku juga. Aku tidak akan biarkan Kakak menyakiti Kak Arin," ucap Anggi dengan emosi.
"Anggi, sudah. Jangan di bahas lagi," mohonku sambil menggeleng.
"Tapi, Kak_"
"Kakak mohon Anggi, tujuan Kakak datang ke sini bukan untuk berdebat," ucapku.
Anggi tampak menghela napas panjang. Lalu mengangguk pelan dan mengalah. Aku tahu Anggi bermaksud membela aku tetapi apapun yang dia katakan tidak akan mengubah mindset keluargaku tentang aku.
"Nak." Air mata Mama menetes dan menatapku kasihan. "Maafkan Mama ya," ucapnya lembut.
"Bukan salah Mama kok." Aku memalsukan senyum.
Lalu aku menatap ketiga pria yang paling kucintai. Dulu, aku adalah cahaya dan pelita dalam hidup mereka. Kasih sayang yang mereka berikan membuat aku ingin hidup lebih lama di tengah kegelapan dunia ini. Canda tawa yang tercipta seolah aku adalah insan paling bahagia di dunia ini. Namun, siapa sangka akibat kebodohanku aku malah kehilangan semua itu. Mereka terlanjur membenciku.
Bolehkah aku menjadi anak kecil lagi? Di mana aku tidak tahu rasa sakit dan air mata. Dulu ketika kecil aku tak sabar ingin menjadi dewasa. Tetapi setelah dewasa aku ingin kembali lagi ke masa-masa yang dulu.
"Pa, Kak. Sebelumnya Arin minta maaf kalau Arin membuat kalian malu. Maafkan Arin." Aku menunduk dengan lelehan bening yang menetes.
"Arin datang ke sini, hanya mau mengucapkan salam perpisahan karena setelah ini Arin akan pergi jauh, Pa. Maafkan semua kesalahan Arin. Arin menyesal karena sudah membuat keluarga ini malu. Arin,... " Aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku.
__ADS_1
"Arin bahagia dengan jalan hidup Arin. Arin berharap kalian juga bahagia setelah Arin tidak lagi membuat kalian malu."
Bersambung...