Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Memaafkan


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Air mata meleleh dipipiku, perlakukan sederhana Mas Dante berhasil membuat jantung ku berdebar hebat.


"Bagaimana Sayang?" tanya nya sekali lagi.


Aku menjawab dengan anggukan. Sebab lidah ku terasa kelu untuk menjawab pertanyaan nya. Aku tak menyangka dan seperti berada didunia mimpi.


"Terima kasih, Sayang," ucap nya.


Mas Dante berdiri lalu memasangkan cincin tersebut ke jari manis ku. Aku terharu dan rasanya tak bisa menahan rasa bahagia ku. Hingga detik ini aku masih bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah aku sedang bermimpi? Ini seperti di dunia dongeng, di mana pangeran melamar seorang gadis biasa.


"Jangan menangis." Mas Dante mengusap air mataku.


"Mas, aku tidak bermimpi 'kan?" tanya ku.


Bagaimana aku tak bilang ini mimpi, setelah aku di patahkan hebat oleh segala kenyataan, kini ada pria yang mau menerima ku apa adanya.


"Kamu tidak bermimpi, Sayang. Terima kasih sudah hadir di hidup, Mas. Mas ingin kita tumbuh bersama. Mengobati semua luka didalam dada," sahut Mas Dante.


Ku peluk erat tubuh kekar ini. Nyaman sekali rasanya. Aku bukan wanita baik dan kuat. Tetapi keadaan memaksa ku untuk tumbuh menjadi wanita dewasa dan kuat. Nyaman sekali pelukan ini, apa karena sudah hampir setahun aku menjanda lalu butuh kehangatan walau sekedar pelukan seseorang?


"Mas, terima kasih," ucap ku membenamkan wajahku didada bidang Mas Dante.


"Sama-sama, Sayang. Mas yang harus nya berterima kasih sama kamu." Kurasakan dia mengecup ujung kepalaku.


Dia adalah boss ku dan mantan kakak ipar. Tak kusangka awal pertemuan ketika Tata memanggil ku mommy. Bahkan hal yang sudah di lewati bersama pria ini dan sekarang, dia menjadi salah satu alasan kenapa aku ada hingga kini. Semoga cinta kami abadi selamanya. Semoga tak ada lagi luka dan air mata yang tersisa di jiwa. Semoga setelah ini kami bahagia hingga maut memisahkan.

__ADS_1


Aku berjanji akan menyanyangi Tata seperti aku menyayangi Nara dan Naro. Bagi ku Tata adalah sosok Kak Killa dalam versi kecil, meski aku tak sempat bertemu dengan kembaran ku tersebut. Tetapi sosok nya bisa kurasakan dalam diri Tata.


"Mama."


"Mommy."


Pelukan kami terlepas ketika mendengar suara mungil itu memangil. Senyum ku mengembang ketika melihat Nara, Naro dan Tata berjalan kearah kami. Nara sudah bisa berjalan normal tanpa tongkat, dia juga tidak mengeluh lagi menahan sakit. Sekarang dia normal seperti anak-anak lainnya.


Aku dan Mas Dante berjongkok menyambut pelukan ketiga anak kami. Kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Semoga kebahagiaan ini menjadi salah satu ending dari ceritaku. Harapan dan impian terukir indah.


Nara dan Tata memeluk ku dengan erat. Sementara Naro langsung di gendong oleh Mas Dante. Jika dulu Naro menyukai Divta dan bahkan pernah memintaku menjadikan Divta pengganti Ayah nya. Tetapi sejak kehadiran Mas Dante, hati nya berpaling.


"Ara."


Aku langsung terdiam ketika mendengar suara tersebut. Sontak aku menoleh dan kulihat ayah kandung dan ibu tiri ku berjalan kearah kami.


Sontak aku melepaskan pelukan Nara dan Tata sambil berdiri, lalu menggeser posisi mereka dan berlindung di belakang ku. Entah kenapa, aku takut jika Chelsea dan ibu nya menyakiti anak-anak.


"Ada apa?" tanya ku tanpa menatap wajahnya.


"Sayang, kamu bicara dulu sama mereka yaa," bisik Mas Dante.


Aku mengangguk dan setengah bergeser memberi ruang pada Nara dan Tata untuk mendekat kearah Mas Dante.


"Daddy minta maaf sama kamu. Maaf selama ini Daddy tidak mencarimu. Daddy...." Dia terisak didepan ku. Entah apa yang membuatnya begitu sedih dan terpukul. "Daddy masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Kakak mu. Tetapi setelah melihat mu hari ini, luka di hati Daddy sedikit terobati," ucap nya dengan tatapan sendu dan juga rapuh.


Aku masih diam dan tak menjawab. Segala rasa sakit itu kembali menghantam bagian dadaku. Padahal baru saja kurasakan bahagia, kini ternyata ada orang yang berusaha menguak kembali luka lama.


"Maafkan Daddy, Nak," ucap nya lagi sambil mengenggam tangan ku.


"Ara," panggil ibu tiriku, Mama-nya Chelsea. "Mommy juga minta maaf sama kamu. Tidak seharusnya Mommy mengatakan hal menyakitkan itu. Mommy benar-benar patah setelah kehilangan Mommy-mu dan Mommy juga harus menggantikan dia untuk menjadi ibu kamu dan Killa," jelas nya. Ku tatap wajah wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Aku masih ingat dia mengatakan aku anak pembawa sial. Adakah seorang anak yang ingin dilahirkan didunia ini? Jika kelahiran nya saja membuat dan kehilangan orang yang sudah bertaruh nyawa untuknya? Tidak ada. Setiap anak yang di lahirkan ingin melihat wajah ibu nya.


"Mommy sudah kasar sama kamu. Mommy menyanyangi kalian, Mommy tidak memandang antara kamu dan Chelsea. Kalian sama-sama anak, Mommy," ucap nya lagi.


Aku melirik sekitar ku, semua anggota keluarga berkumpul kecuali Chelsea yang memang tak pernah bersahabat dengan ku.


"Maafkan sifat Chelsea yang kasar. Chelsea tidak mau jika Mommy menjadi Ibu kalian, sampai saat ini dia belum menerima kenyataan tersebut. Tetapi sebenarnya Chelsea anak yang baik, hanya saja Mommy tidak mampu membimbingnya," sambung nya lagi.


Lagi kutatap wajah nya, mencari kebohongan dari ucapan nya. Siapa tahu dia sedang beracting didepan ku supaya bisa mengelabui ku. Namun, tak kutemukan kebohongan disana. Hanya ketulusan dari setiap ucapannya.


"Maafkan Mommy," ucap nya sekali lagi.


Aku menghela nafas panjang. Jujur saja, rasa marah dan kecewa itu masih menggema didalam dada.


"Ara." Ibu tiriku menggenggam tanganku.


Baik dalam dunia nyata atau novel, jarang ada ibu tiri yang baik. Sepertinya kisah bawang merah dan bawang putih itu benar adanya, di mana ibu tiri suka menyiksa anak tirinya.


"Mommy, tahu kamu marah sama Mommy. Mommy memang salah, harusnya Mommy memahami perasaan kamu," ujar nya lagi.


Aku mencoba tersenyum. Mencoba menerima luka. Mencoba berdamai dengan masa lalu. Tidak ada salahnya aku memberikan maaf pada kedua orang tua ku, meski kemungkinan hatiku terluka lebih parah. Tetapi bukankah kasih yang sesungguhnya itu adalah ketika kita mampu memaafkan kesalahan orang lain.


"Maaf Daddy, Ara."


Aku terkejut ketika ayah kandung ku berlutut di kaki ku dan ibu tiri juga mengikuti hal yang sama.


"Dad. Mom, tidak perlu," sergah ku sambil mengangkat bahu mereka.


Spontan saja aku memanggil mereka dengan panggilan tersebut, padahal aku sendiri masih menyimpan rasa marah pada mereka. Namun, aku juga bersyukur jika aku tidak dibuang mungkin aku tidak akan bertemu Mas Galvin dan memiliki Nara dan Naro. Bisa jadi aku juga tidak bertemu Henny dan Mira. Atau aku tidak akan menjalin hubungan dengan Mas Dante, semua kejadian proses ini telah menentukan karakter ku menjadi wanita yang tangguh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2