Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Rapuh


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Divta POV


Aku bangun pagi sekali, seperti biasa aku akan mengurus kedua anak kembarku yang masih berusia tiga tahun. Sebenarnya aku kasihan pada anak-anak ku, diusia belia yang bahkan belum tahu apa-apa. Mereka harus kehilangan sosok seorang ibu. Namun, apalah daya, aku tak bisa menolak takdir yang Tuhan pilihkan untukmu.


"Biar Mama saja Ta, kamu siap-siap sana berangkat kerja," ucap Mama. "Kan ada Mbok Ida yang bantu. Kamu fokus saja kerja," sambung Mama lagi. "Makanya kamu itu cepat cari istri baru, biar Al sama El ada Mama nya yang urus," ucap Mama.


Omelan pagi yang kuanggap sebagai sarapan yang harus ditelan. Mama, adalah wanita cerewet yang hobby nya mengomel. Aku paham maksudnya, tetapi untuk kembali membuka hati rasanya aku belum siap. Aku masih trauma dengan perceraian ku dan Chelsea. Aku tahu tak semua wanita sama tapi rasa sakit itu menciptakan dendam tersendiri didalam dadaku.


"Iya Ma," jawabku.


Aku tipe orang yang tidak suka berdebat, jadi mengalah lebih baik dari pada aku meladeni ibu negara.


Aku masuk kamar dan membersihkan diri. Hari ini aku akan mengantar Ara ke kantor sekalian mengantar anak-anak nya. Aku penasaran siapa orang yang telah mencelakai Nara dan Naro. Apa motif orang tersebut?


"Ta," panggil Mama.


"Ada apa Ma?" tanya ku sambil keluar dari kamar.


"Kamu sarapan dulu, ohh ya nanti Mama titip makanan buat Ara ya. Tadi kebetulan Mama masak banyak," ucap Mama sambil tersenyum.


"Mama." Aku mendesah.


"Kenapa sih Ta? Salah kalau Mama perhatian sama Ara, siapa tahu bisa jadi mantu," sahut Mama ketus sambil berjalan menuju meja makan.


Aku menggeleng kepala. Sejak sekolah menengah Mama memang menyukai sifat Ara. Apalagi dulu Ara sering datang kerumah untuk mengerjakan tugas kelompok bersama ku dan Chelsea.


"Pagi anak-anak Papa," sapa ku.


"Papa," balas Al dan El. Putra kembar kesayangan ku.


"Sayang Papa dulu," ucap ku.


Mereka menghujani wajahku dengan banyak ciuman. Menjadi orang tua tunggal dengan dua anak bukan hal yang mudah. Aku tak bisa bayangkan jika menjadi Ara, tak hanya janda dia juga harus menerima kenyataan bahwa putrinya lumpuh. Pasti rasa sakit yang Ara rasakan begitu menusuk kedalam jiwanya.

__ADS_1


"Ayo sarapan dulu, Son," ajakku menggandeng kedua putra kembarku.


Al dan El adalah penyemangat untuk aku menjalani pahit nya kehidupan. Ditinggal disaat masih sayang-sayang nya benar-benar menimbulkan luka dalam serta rasa trauma. Aku pernah meratap beberapa bulan setelah berpisah dari Chelsea. Tak segampang itu buat lupa karena aku begitu mencintai Chelsea. Aku pikir juga takkan bisa menjalani hari-hari ku tanpanya. Namun, setelah berjalan hampir dua tahun aku perlahan bisa menjalani kehidupan normalku seperti sebelum ada Chelsea di hidup ku.


Kami sarapan pagi, Al dan El yang berusia tiga tahun ini belum terlalu lancar bicara. Namun, mereka anak-anak aktif yang cepat tanggapan. Seperti biasa, Mama selalu mengajarkan Al dan El agar bisa makan sendiri. Anak-anak ku yang masih memakai pempers tersebut sudah terbiasa maka tanpa disuapi. Cukup berikan makanan maka keduanya akan duduk sambil makan dengan tenang.


"Ta, ini buat Ara." Mama memberikan rantang nasi padaku.


"Iya Ma." Aku mengambil rantang tersebut sambil memasang topiku.


"Jangan lupa titip salam juga sama dia. Kapan-kapan ajak Ara kesini," ucap Mama lagi.


"Iya Ma," sahutku mulai malas.


.


.


Aku sampai di kediaman Mas Bayu. Ara sekarang tinggal disini sesuai dengan permintaan Mas Bayu dan Kak Dea. Sampai sekarang aku masih penasaran siapa yang mencelakai Nara dan Naro.


"Pagi Ra," sapa ku ketika melihat Ara keluar dari gerbang.


"Nara dan Naro di mana? Mereka tidak sekolah?" tanya ku melirik kearah gerbang di mana tak ada Nara dan Naro.


"Mereka tidak masuk hari ini Ta. Aku suruh mereka istirahat saja," sahut Ara.


"Kamu kenapa? Kok terlihat lemas begitu?" tanyaku.


Jangan heran jika aku tahu gerak-gerik Ara. Kami mengenal sudah lama, bahkan sejak pertama kali duduk dibangku sekolah menengah atas.


"Nanti aku cerita, Ta," jawab Ara masih memaksakan senyum.


"Ya sudah ayo masuk. Nanti kamu terlambat," ajakku membuka pintu mobil.


Kebetulan hari ini tidak ada briefing pagi. Tadi aku sudah mengirim pesan pada para ajudan bahwa aku akan datang agak siang. Jika bersangkutan dengan Ara, entah kenapa aku tak bisa mengabaikan hal-hal kecil?


Aku juga masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobil.


"Kamu tidak briefing pagi?" tanya nya melirik ku.

__ADS_1


"Tidak Ra. Aku datang agak siang, masih ada urusan pagi ini," jawabku beralasan. Padahal aku hanya berniat menemani Ara.


Ara mengangguk saja. Lalu dia kembali melamun dan menatap kosong kearah jendela mobil. Pasti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.


"Ra," panggil ku


"Iya Ta?" Dia menoleh.


"Kamu kenapa? Ayo cerita," ucapku tersenyum hangat.


Tampak Ara menghela nafas panjang, "Aku sudah tahu siapa yang menabrak Nara dan Naro," ucapnya.


Kening ku mengerut, aku sebenarnya sangat penasaran. Sebab dari kemarin Mas Bayu tak mau mengatakannya.


"Siapa Ra?" tanya ku.


"Mantan Ibu mertua dan Lusia, Ta," jawab Ara.


Aku benar-benar terkejut sekaligus tak menyangka.


"K-kamu serius?" tanya ku tak menyangka.


"Iya Ta. Mas Bayu sudah selidiki semuanya dan Mas Galvin tahu hal ini. Tetapi dia sengaja menutupi kedok Ibu sama istrinya," ucap Ara.


"Ya Tuhan. Lalu bagaimana Ra?" tanya ku penasaran.


"Aku sudah melaporkan mereka ke polisi dengan semua bukti yang terkumpul," sahut Ara. Wajahnya tampak tak tenang. Terlihat dia benar-benar marah.


"Tapi apa motif nya? Kenapa mantan mertua kamu tega, padahal Nara dan Naro adalah cucu nya dan juga tidak seharusnya Galvin menutupi fakta ini. Ini sama saja dia bersekongkol dengan Ibu dan istrinya," ucapku tak habis pikir.


"Aku juga tidak tahu Ta," jawab Ara. "Mas Galvin benar-benar tega," lirih Ara memejamkan matanya. "Aku tahu dia membenci ku tapi haruskah mereka menyakiti Nara dan Naro yang tidak tahu apa-apa Ta? Mereka anak kecil. Jika mereka memang tidak suka aku, kenapa tidak aku saja yang mereka sakiti?" ucap Ara. Air matanya meleleh.


Aku menepikan mobilku. Aku paham perasaan Ara, pasti sangat sakit setelah mengetahui segala fakta yang ada.


"Ra."


Aku merengkuh tubuh Ara dan memeluk wanita yang menutup wajahnya ini. Pasti berada diposisi Ara sangat hancur. Dikhianati suami, lalu dengan tak memiliki perasaan mantan ibu mertua dan mantan madu nya mencelakai kedua buah hatinya. Dan yang lebih parah lagi, mantan suaminya tahu tetapi hanya diam saja dan seperti sengaja menutupi kebusukan ibu dan istrinya


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2