Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Pindah ke rumah lama


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Diandra POV


Aku sedang memasukkan barang-barang kami kedalam koper. Hari ini keputusan ku untuk pindah sudah bulat. Aku tak enak terus bergantung hidup pada Mas Bayu dan Kak Dea. Mereka terlalu baik pada aku dan anak-anak.


"Ra, kapan saja kamu mau balik kerumah ini. Rumah Kakak selalu terbuka," ucap Kak Dea sambil membantu aku memasukkan barang-barang kami kedalam koper.


"Iya Kak, terima kasih Kak," ucapku tersenyum lembut.


Naro juga ikut membantu. Anakku yang satu ini selalu ringan tangan dan sering membantu aku mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara Nara mengumpulkan buku-buku pelajarannya dan dibantu oleh Zenia.


"Jadi kapan kamu bertemu Ayah?" tanya Kak Dea.


Sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak bertemu Ayah. Bahkan komunikasi lewat ponsel pun tak pernah. Sebab sampai sekarang Ayah masih marah padaku. Lantaran, pernikahan ku yang tidak dia restui. Dan sekarang, entah bagaimana ekspresi Ayah saat tahu jika aku telah berpisah dari Mas Galvin.


Aku baru sadar apa yang Ayah katakan memang benar, bahwa suatu saat aku akan menyesal karena sudah menentang perkataan nya. Sekarang, aku merasakan penyesalan tersebut. Salah pilih pasangan benar-benar membuat menyesal seumur hidup.


"Belum tahu, Kak. Aku takut Ayah dan Ibu tidak mau bertemu dengan ku," sahutku dengan helaan nafas panjang.


Aku masih ingat pertemuan terakhir kami yang berakhir dengan pertengahan. Ayah sama sekali tak menatapku waktu itu. Namun, walau dia tak merestui hubungan ku dan Mas Galvin, Ayah tetap datang menghadiri pesta tersebut. Meski itu menjadi pertemuan terakhir kami. Hingga sekarang kami seperti ayah dan anak yang hidup di alam berbeda.

__ADS_1


"Pulanglah, Kakak yakin Ayah pasti sudah memaafkan semua kesalahan kamu," ucap Kak Dea mengusap bahu ku.


Aku terdiam, kemarahan terakhir Ayah masih melekat dikepalaku. Bagaimana Ayah mengamuk ketika tahu bahwa aku hamil diluar nikah. Untung saja saat itu sudah selesai ujian akhir sekolah jadi tidak bermasalah besar. Namun, walau begitu kemarahan Ayah telah membuat aku dan dia menjadi orang asing hingga sekarang.


"Kakak tahu 'kan kalau Ayah sangat marah sama aku Kak. Mungkin saja Ayah juga benci aku, Kak," ujarku tersenyum kecut.


Jika boleh jujur aku rindu sekali dengan kedua orang tua ku, apalagi sudah lama tak bertemu dengan mereka. Dulu aku sangat dekat dengan Ayah. Aku adalah anak kesayangan nya, karena anak bungsu dan memiliki banyak prestasi. Namun, semua rasa sayang Ayah bilang begitu saja ketika kehadiran Nara di rahim ku. Terlebih dia hadir karena sebuah kesalahan yang membuat aku terpaksa menikah usia muda. Namun, aku tak pernah menyesali kehadiran Nara di hidupku. Dia adalah putri kecilku, senyum nya yang manis mampu mengobati segala luka yang terasa perih didalam dada.


Kak Dea tersenyum sambil menggeleng, "Ra, Ayah tidak pernah benci sama kamu. Dia hanya kecewa. Tidak ada ayah yang benci sama anak perempuan nya. Semua perasaan yang Ayah katakan sama kamu, itu adalah bentuk marah dan kecewa nya dia. Tetapi jauh didalam lubuk hatinya Ayah sangat merindukan kamu," ucap Kak Dea. "Kamu tahu tidak? Setiap kali Kakak pulang kampung, Ayah selalu menanyakan kamu dan anak-anak, walau dia tidak bertanya tentang Galvin. Tetapi Kakak yakin, bahwa didalam hati Ayah dia sayang sama kamu."


.


.


.


"Iya Sayang, mulai sekarang kita akan tinggal disini," ucapku.


Kami berempat masuk. Aku dan anak-anak diantar Divta, karena Mas Bayu dan Kak Dea sedang ada dinas pagi sampai sore. Jadi Divta dengan suka rela mengantar aku dan anak-anak.


"Ta, terima kasih sudah membantu," ucapku sambil tersenyum sambil membantu Divta memasukkan barang-barang kami.


"Kalau terima kasih kamu itu berbentuk uang, pasti aku sudah kaya," ketus Divta. "Sudah aku bilang Diandra Gautama kalau aku ikhlas bantu kamu. Tidak perlu mengucapkan terima kasih terus karena aku bosan mendengarnya," ucap Divta dengan wajah kesalnya.


Aku terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. Ya selama ini Divta lah yang banyak membantu ku. Aku sudah berhutang budi terlalu banyak padanya. Bahkan cicilan biaya rumah sakit Nara dan Naro baru ku bayar separuh saja, sebab saat ini aku sedang membutuhkan banyak biaya untuk berobat Nara ke Kucing, Malaysia.

__ADS_1


"Lalu aku harus bilang apa?" goda ku


"Hmm, kamu harus menerima tawaran ku makan malam, malam ini dirumah dan ajak anak-anak," sahut Divta.


Akh menghela nafas panjang, pasti Tante Jenny ingin bertemu dengan aku. Dulu aku lumayan dekat dengan mama-nya Divta. Tetapi sekarang keadaan nya sudah berbeda, apalagi dengan status baru yang tentu nya bisa terjadi fitnah diantara kami.


"Jangan malam ini ya, Ta. Soalnya aku mau beberes rumah dulu," ucapku beralasan.


"Lalu kapan?" Divta memincingkan mata curiga padaku. "Kamu pasti malu?" tebak Divta.


"Ta, aku hanya tidak enak dengan kedua orang tua kamu. Apalagi dengan status ku," jelasku.


"Lalu apa bedanya sama aku yang juga seorang duda?" sergah Divta. "Malam ini Papa sama Mama juga mengguncang Dokter Langit dan Senja ke rumah," sambung Divta kemudian.


"Senja?" ulang ku. "Senja adik kelas kita yang mantan istrinya Maz Reza?" tebak ku.


Divta menjengguk, "Papa memang dekat sama Dokter Langit, apalagi sering check-up Karimah sakit nya. Jadi sekalian saja aku bawa kamu dan anak-anak bertemu mereka," ujar Divta.


"Iya Ta." Aku tak bisa menolak lagi.


Aku sering mendengar tentang Senja dari Henny. Senja adalah mantan istri Mas Reza yang dulu katanya mandul, tetapi ketika menikah dengan Dokter Langit, dia malah dianugerahi seorang putri cantik. Pasangan ini sering diperbincangkan oleh batalyon Divta. Jadi aku cukup tahu kalau berita yang tranding.


Kisah hidup Senja tak tahu beda dengan ku. Mantan suaminya juga menikah secara diam-diam dan bahkan sampai memiliki anak. Mungkin perjalanan hidup Senja jauh lebih menyakitkan dari aku. Tetapi dia bisa melewati semuanya dan menemukan seorang pria baik seperti Dokter Langit, hingga mereka hidup bahagia. Begitu juga dengan aku, aku percaya badai ini pasti berlalu. Suatu saat nanti aku akan menerima anugerah terindah dari Tuhan, berkat dari buah kesabaran ku. Aku akan menjalani hidupku dengan suka cita.


Aku tidak tertarik untuk menikah yang kedua kali, saat ini aku hanya ingin fokus mengurus Nara dan Naro serta menjadi orang tua yang baik untuk mereka berdua. Anak-anak ku saja sudah membuat aku bahagia, lantas untuk apa harus menikah lagi? Bukankah sekarang, hidupku sudah jauh lebih baik setelah berpisah dari Mas Galvin

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2