Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Penyesalan Galvin


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Galvin POV.


Aku masih duduk meringkuk dibalik jeruji besi.


"Galvin," teriak ibu yang berada di sel sebelah. "Keluarkan Ibu dari sini," renggek ibu.


Aku sama sekali tak peduli. Ini lah kebodohan terbesar dalam hidupku, dimana lebih mementingkan perasaan ibu dari pada istri sendiri. Akhir nya aku menikmati masa-masa penyesalan yang membawa pada penderitaan.


"Mas, tolong bantu aku keluar dari sini," ucap Lusia menangis seraya memanggil namaku dan meminta aku mengeluarkan nya.


Aku membenamkan wajahku di kedua lutut, sembari menangis dalam diam. Perasaan rindu kini menyeruak masuk kedalam relung hatiku. Aku rindu Nara dan Naro dan aku juga merindukan Ara, mantan istriku.


Aku baru sadar bahwa perasaan ku pas Lusia hanyalah obsesi semata. Nyatanya hingga kini yang aku rindukan adalah Ara, bukan Lusia. Sekarang, aku malah menyesali semua perbuatan bodoh yang menghempaskan seluruh tubuhku.


"Nara," lirihku.


Entah kenapa beberapa hari ini, aku terus memikirkan anakku. Bahkan aku sempat bermimpi bertemu Nara, dia seperti kesakitan.


"Galvin."


Aku mengangkat pandangan ku dan kulihat ada ayah.


"Ayah," gumam ku.


Ayah menggendong Ve, anakku dan Lusia. Selama ini ayah dan Gisele yang mengurus Ve. Ku tatap sendu wajah putri kecil ku tersebut. Dia masih berusia sepuluh bulan yang tentu nya tak tahu apa-apa.


"Ayah. Gisele."

__ADS_1


Aku berdiri dari duduk ku dan menghampiri ayah dan Gisele di balik jeruji besi yang menyeramkan ini.


Polisi membuka gembok sel tempat aku di kurung. Segera aku keluar dan menggendong Ve, anak perempuan ku yang baru berusia sepuluh bulan. Kasihan sekali, bayi sekecil ini harus tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua nya.


"Apa kabar kamu Galvin?" tanya Ayah.


"Galvin, sehat Yah," jawabku.


Ku cium wajah Ve seraya melepaskan semua kerinduan ku pada Ve. Sudah lama rasanya aku tak bertemu anakku ini.


"Mas Galvin," ucap Gisele.


"Bagaimana kuliahmu, Sel?" tanya ku sambil tersenyum. Gisele adalah adikku satu-satunya, kami hanya berdua saja.


"Aku sehat Mas," jawab Gisele. "Sebentar lagi aku magang, Mas. Doakan semoga lancar," ucap Gisele tersenyum kearahku.


Adik kecil ku dulu, kini tumbuh menjadi wanita cantik. Namun, sayang aku takkan bisa menemaninya hingga nanti. Sebab hidupku akan di habiskan dibalik jeruji besi ini.


"Ve," panggil Lusia.


Lusia mengambil Ve dari gendongan ku. Dia menciumi wajah anaknya itu. Bayangkan bayi sepuluh bulan harus hidup tanpa ayah dan ibu nya. Aku dan Lusia adalah orang tua yang gagal kami sama-sama melakukan kesalahan yang membuat hidup kami harus berakhir di balik jeruji besi yang kejam ini.


"Mama kangen banget sama kamu, Nak," ucap Lusia.


Ibu dan Lusia akan mendengkam di penjara seumur hidup, sementara aku akan berada di sini 20 tahun. Tetapi apa bedanya, 20 tahun penjara bukan waktu yang pendek.


Ayah dan ibu serta Gisele saling memeluk erat dan melepaskan kerinduan mereka. Sementara aku hanya diam saja. Semua perasaan yang menggebu pada Lusia perlahan menghilang. Aku tak tahu kemana perasaan itu pergi dan hilang. Sejak aku masuk ke tempat menjijikan ini, tak ada lagi rasa yang selalu aku banggakan.


Aku benar-benar menyesal telah membiarkan Ibu dan Lusia menyakiti Nara dan Naro. Apa bedanya aku dengan mereka? Bukankah aku juga manusia paling jahat yang tak memiliki perasaan? Seorang ayah yang tega menyakiti anak-anak nya. Bahkan hukuman 20 tahun penjara sama sekali tidak sepadan, harusnya aku di hukum mati agar semua perasaan sakit ini bisa hilang dan terlupakan.


Apa yang harus aku lakukan agar bisa menebus semua kesalahanku pada kedua anak ku serta mantan istriku, Ara. Rasanya aku tak mampu bernafas hidup dalam perasaan bersalah seperti ini. Apapun, akan aku lakukan demi menerima maaf dari mereka. Bila perlu aku akan serahkan nyaman ku pada anak dan mantan istriku.


"Vin, apa kamu jika Nara sakit?" ucap Ayah.

__ADS_1


Aku langsung menatap Ayah. Aku sama sekali tidak tahu jika anak perempuan ku tersebut sakit karena tidak ada yang memberitahuku.


"Nara sakit , Yah?" ulang ku sekali lagi barang kali salah dengar.


"Iya. Gagal Jantung."


Deg


Aku menatap Ayah tak percaya. Nara sakit jantung? Gagal Jantung? Penyakit ini pernah Nara derita ketika dirinya berusia 3 tahun. Nara lahir premature yang artinya belum cukup usia. Tetapi aku tak menyangka jika kelahiran nya tersebut malah berakibat pada kesehatan Nara.


"Lalu bagaimana, Ayah? Apa Nara bisa disembuhkan?" cecar ku. Tanpa sadar air mataku menetes. Pertemuan terakhir kami beberapa bulan yang lalu. Setelah itu aku tak pernah bertemu Ara dan kedua anakku.


"Nara harus melakukan pencangkokan jantung," jelas Ayah. "Tetapi sampai saat ini belum mendapatkan pendonor," sambung Ayah.


Air mata ku luruh dan aku menangis tersedu-sedu, tak peduli dengan rasa gengsi dan malu banyak orang disini terutama para polisi yang berjaga.


"Nara sakit?" ulang Ibu.


Selama ini Ibu tidak pernah menganggap kehadiran Nara dan Naro, karena memang pernikahan ku dan Ara sama-sama tidak di restui.


"Kondisi nya semakin parah," sambung Ayah.


Aku menunduk dengan simbahan air mata. Sementara yang lainnya terdiam termasuk Lusia. Apa yang akan terjadi padaku jika Nara sungguh-sungguh pergi untuk selamanya? Saat berpisah karena jeruji ini saja sudah membuatku bagai kehilangan arah hidup. Bagaimana jika aku benar-benar kehilangan sosok gadis kecil yang begitu ku cintai tersebut. Semoga Nara baik-baik saja.


Setelah cukup lama bertamu dengan Ayah, Gisele dan anak ku Ve, aku kembali di masukkan kedalam jeruji ini. Ibu dan Lusia sempat memberontak dan menolak tidak mau di masukkan kembali. Lusia ingin bersama anak kami, Ve. Tetapi bagaimanapun Ibu dan Lusia harus menjalani hukuman sesuai dengan perbuatan mereka masing-masing.


Sementara aku tak bisa berkata apa-apa. Aku terduduk dengan berseloyoran di lantai serta bersandar di dinding. Air mata ini tak terbendung lagi menetes dengan sempurna.


"Nara."


Tangis ku kembali pecah. Ku pukul dadaku berulang kali saat merasakan nafas yang tercekat di dadaku. Aku takut Nara pergi. Aku takut Nara hilang. Aku belum bisa menjadi ayah yang baik untuk nya bahkan aku telah gagal mengambil peran ku tersebut.


"Cepat sembuh Nak. Papa siap menunggu 20 tahun lagi untuk melihat kamu tubuh dewasa. Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa. Seandainya, Papa di berikan kesempatan untuk bertemu dengan mu sekali saja. Papa ingin memelukmu dengan erat, Sayang. Papa ingin memelukmu. Papa rindu Nara dan sangat rindu sama Nara.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2