Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 32.


__ADS_3

Nikmati saja proses lukanya pelan namun pasti semuanya akan kembali membaik. Ya, tidak ada yang tahu betapa lama waktu untuk menyembuhkan luka. Hanya saja, satu yang pasti, nanti akan ada seseorang yang kembali mengisi ruang kosong di hati untuk jatuh cinta. Walau aku sendiri tidak tahu, apakah setelah ini bisa jatuh cinta untuk yang ke sekian kalinya. Bisa saja orang yang sama, yang kembali datang dengan penyesalan dan memiliki mencintaiku selamanya.


Aku termangu mendengar ucapan Mas Rey. Kutatap matanya berulang kali mencoba mencari kebohongan dari ucapan yang terlontar dari bibirnya. Entahlah, patah hati hebat yang aku alami telah menjadikan aku sedikit hati-hati dan ragu untuk memulai hubungan.


"Mas." Lidahku kelu.


Sebab jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata; terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan bibir ini pada tatap matanya, pada rentang lenganmu, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah berusaha patah mengutuk waktu menahanmu dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya kusimpulkan sebagai rindu.


"Mas tahu patah hati yang kamu rasakan masih saja membekas," ucapnya pelan sembari mengusap kepalaku. "Mas beda sama Gevan. Mas tidak berjanji untuk membuatmu dan Lala bahagia tapi Mas akan buktikan bahwa Mas mencintai kamu tulus dan apa adanya," ujarnya lagi meyakinkan aku.


Ada beberapa hal dari jatuh cinta yang akhirnya membuat seseorang kewalahan. Memperjuangkan segala harapan sendirian, misalnya. Sesuatu yang seharusnya dihidupkan berdua, malah dihadapi sendiri. Hal semacam itulah yang pelan-pelan akan membunuh cinta meski beberapa cinta terlalu kuat, tetap bertahan meski sekarat. Beberapa lagi memilih mati daripada merana sendiri. Ada orang yang tahan banting hingga tetap bertahan meski berkali-kali perasaannya sedih berkeping-keping. Ada orang yang cinta buta, tak peduli betapa kali didusta tetapi tetap saja memilih percaya.


"Mas." Aku memaksakan senyum.


"Mas tahu kamu akan menolak," ucapnya tersenyum kecut. "Mas tidak memaksa, Ta. Perasaan Mas sama kamu tidak akan berubah sampai kapanpun. Mas jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita bertemu," ungkapnya.


Aku tak mau termakan omongan itu. Semua laki-laki selalu begitu jika pertama kali ingin mendapatkan. Namun, setelah sudah masuk ke dalam genggaman tangannya akan dia lepas dengan begitu mudah, contohnya Mas Gevan.


"Mas." Aku bukan ragu tetapi lebih tepatnya takut. "Aku masih takut," ucapku jujur.


"Mas mengerti. Mas tidak akan paksa tapi izinkan Mas untuk selalu ada di samping kamu." Mas Rey menarik aku ke dalam pelukannya. "Mas juga sama seperti kamu, takut jatuh cinta."


Aku melingkarkan tanganku di pinggang Mas Rey sembari memejamkan mata. Tuduhan Mbak Queen tadi masih terngiang di kepalaku. Baru saja Lala ingin merasakan yang namanya proses kebahagiaan. Namun, dia harus dipatahkan oleh kenyataan yang menghempaskan tubuhnya.


Aku memang tidak sehebat dia dalam perkara melupakan. Tidak bisa bagiku secepat itu merelakan. Namun, aku percaya detik demi detik berlalu akan kubunuh semua detak yang masih menginginkannya. Akan kubenamkan dia lebih dalam di relung luka yang paling dalam. Aku tidak akan membiarkan sedetik pun untuknya bernafas tenang dalam kepalaku. Tidak ada tempat lagi untuk seseorang yang telah menyakiti hatiku. Hanya saja, aku butuh waktu, semuanya memang tidak mudah bagiku. Biarlah pelan-pelan semuanya berjalan. Karena pada akhirnya dia pun tak akan lagi ada dalam bagian yang aku inginkan.

__ADS_1


"Mas, jangan tinggalkan aku!" lirihku.


"Mas tidak akan pergi, Ta. Mas akan selalu ada untuk kamu. Kita hadapi ini bersama."


Tanpa sadar air mataku menetes. Ini bukan hanya tentang luka yang ada di hatiku. Namun, juga tentang sakit yang ada di hati dan tubuh Lala.


"Mama, kenapa menangis?"


Aku segera melepaskan pelukan Mas Rey dan menyeka air mataku lalu berjalan menuju ranjang Lala. Mas Rey menyusul dari belakang.


"Mama tidak apa-apa, Nak," jawabku memaksakan senyum.


"Mama, papa mana? Katanya tadi mau suapin Lala!" Wajah Lala tampak sendu.


Mas Gevan harusnya paham dan mengerti, berbulan-bulan aku bertahan. Aku menjadi separuh waras. Mendekati sakau. Dia tahu tetapi seperti setengah hati dan membiarkan aku menyerah pada waktunya. Dia tidak mampu menyakinkan aku seperti aku memperjuangkan dan mempertahankannya. Aku tidak akan menyesalkan apapun atas perlakuannya. Aku paham, aku yang teramat cinta padanya. Perasaan ini yang terlalu sulit kupatahkan, meski hatiku sudah dikalahkan. Dia tetaplah seseorang yang kucintai dengan sangat. Seseorang yang pernah mengalirkan air maga hangat. Mas Gevan tetaplah cintaku. Kesungguhan atas hidup yang kurindu, meski terasa pilu saat mengingatnya.


"Nanti papa akan datang," jawabku asal.


"Ma, kenapa Tante Queen marah-marah sama Mama?" Anakku ini memiliki jiwa keinginan tahu yang paling tinggi. Jadi, dia tidak akan berhenti bertanya sampai menemukan jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan.


"Lala, disuapin sama Om Rey saja ya, mau?" sambung Mas Rey ikut menimpali.


"Mau, Om," jawab Lala.


"Baiklah, sekarang buka mulut Lala!" suruh Mas Rey mengarahkan sendok tersebut ke dalam mulut Lala.

__ADS_1


Lala makan dengan lahap sambil disuapi oleh Mas Rey. Aku tahu dia merindukan sosok sang ayah. Semoga saja, Mas Rey benar-benar bisa menjadi sosok terbaik untuk aku pulang. Menjadi tempat ternyaman untuk bersandar nantinya.


"Makan yang banyak biar cepat sembuh. Lala tidak bosan di sini?" tanya Mas Rey sambil mencolek dagu Lala.


"Iya, Om."


Aku tersenyum simpul, setidaknya kehadiran Mas Rey mampu mengobati luka di hati Lala karena papanya sendiri.


Tidak lama kemudian Kak Galaksi dan Dokter Hansel masuk ke dalam kamar rawat inap Lala.


"Ta," sapa Kak Galaksi.


"Kakak." Aku berdiri dan berhambur memeluk kakakku itu.


Kak Galaksi mengusap punggungku. "Kamu yang kuat," ucapnya.


"Aku takut, Kak. Aku takut kehilangan Lala." Bukan aku tak tahu jika setelah kemoterapi kondisi Lala tak baik-baik saja. Kak Galaksi sudah jelaskan segala kemungkinan yang akan Lala lewati setelah ini.


"Kita serahkan semuanya pada Tuhan." Kak Galaksi melepaskan pelukanku lalu mengusap pipiku yang basah.


Mantan suamiku, Mas Gevan, separuh jiwaku masihlah mengendap di sisa pekukku. Di sisa kecupan lembut yang pelan-pelan menghabisiku. Dia tetaplah menjadi seseorang yang kukenal dengan kuat. Jangan menyerah menghadapi hidup. Kini kubiarkan dia berjalan menjauh. Namun, aku tak pernah benar-benar melepaskan jiwanya yang mengikat jiwaku. Dia tak pernah benar-benar bisa kuhapuskan dari ingatanku. Hanya saja, aku paham, aku memang hayis belajar bahagia lagi. Aku harus mampu menenangkan kecemasan. Aku harus mampu belajar bahwa kenyataan kini sedang memporak-porandakan pertahanan yang kubangun untuk mencintaiku.


"Persiapkan diri kamu! Setelah ini Lala akan mengalami segala kondisi yang mungkin saja bisa merenggut nyawanya."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2