Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Menjemput


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Divta POV


Aku menatap pantulan diriku didepan cermin. Aku sudah rapi dengan kaos oblong dan celana jeans berwarna hitam. Entah kenapa aku gugup? Apa karena aku sudah lama tidak dekat dengan wanita sehingga rasanya jantungku berdebar-debar ketika Ara dan kedua anaknya hendak makan malam kesini.


"Tenang Ta, tenang," ucapku seraya menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.


Aku keluar dari kamar dengan wangi parfum yang sudah menyeruak. Aku tidak tahu kenapa, aku bisa merasa debaran yang tak biasa ketika Ara menerima tawaran ku untuk makan malam disini.


"Kamu mau jemput Ara, Ta?" tanya Mama yang sedang menata makanan diatas meja bersama dua assisten rumah tangga yang bekerja di sini.


"Iya Ma," jawabku.


"Pantas sudah wangi!" goda Mama sembari mengedipkan matanya jahil.


"Papa, ikut," renggek Al dan El berhambur kearah ku.


Kedua anak kembarku ini baru berusia 3 tahun. Tetapi kenakalan mereka sungguh membuat kepalaku pusing sekali. Namun, mereka adalah harta paling berharga dalam hidupku. Mereka alasan kenapa aku mampu menjalani pahitnya kehidupan ini.


"Ajak saja Ta, 'kan mau jemput calon Mama-nya," ucap Papa menimpali. Dia sedang duduk di sofa dengan membaca koran sambil menunggu kedatangan Dokter Langit dan Senja.


"Pa." Aku mendesah.


"Ada Mama?" Al dan El serentak menoleh kearah ku dengan tatapan penasaran kearah ku.


Sering sekali mereka bertanya, di mana Mama? Kadang aku bingung harus jawab apa. Karena hingga kini Chelsea tak pernah datang hangat untuk menanyakan kabar kedua anak nya. Kadang aku tak menjawab sama sekali karena aku tidak tahu harus memberikan jawab apa pada kedua anakku.


Papa dan Mama terkekeh melihat ku yang gegelapan menjawab pertanyaan kedua putriku. Papa dan Mama suka sekali menjebak ku dengan pertama ini, agar aku segera menikah lagi.


Sebagai pria normal aku sangat ingin menikah dan memiliki istri agar ada yang mengurus aku dan kedua anakku. Tetapi aku takut tidak menemukan wanita yang sesuai keinginan ku. Aku takut tidak bisa menemukan seorang istri yang menerima kedua anakku. Aku takut Al dan El kekurangan kasih sayang. Sebab aku tak ingin merasa gagal seperti ku. Gagal dalam memperjuangkan kebahagiaan nya.


"Ayo Son, kita jemput Tante Ara," ajakku menggendong tubuh kecil kedua anakku.


"Mama Ara," ralat Mama dengan cepat.

__ADS_1


Aku tak menanggapi dan langsung membawa kedua anakku masuk kedalam mobil. Entah kenapa aku begitu girang ketiga mau menjemput Ara, Nara dan Naro.


Untungnya Al dan El belum lancar bicara sehingga mereka tidak menanyakan pertanyaan maut yang pasti tak bisa ku jawab. Semoga saja mereka tak penasaran, siapa yang dibilang mama oleh Mama ku tadi.


"Papa kiya mayu cempuy Mama?" tanya Al.


Aku mendelik baru saja aku memikirkan hal tersebut, Al malah bertanya. Ini semua ulah Papa dan Mama yang suka sekali membuat jiwa penasaran kedua anakku.


"Bukan, Son. Kita mau jemput Tante Ara sama Kak Nara dan Kak Naro. Nanti kalian berdua bisa main sama anaknya Tante Ara ya," jelasku sabar.


Al dan El tampak mengangguk seolah paham. Semoga saja mereka tak lagi bertanya yang aneh-aneh tentang Ara karena aku tidak tahu harus jawab apa?


Sampai di kediaman Ara, aku memarkirkan mobilku. Tampak Ara dan kedua anaknya sudah menunggu didepan.


"Kalian tunggu disini, Papa turun sebentar," ucapku keluar dari mobil.


Aku tersenyum melihat Ara yang cantik malam ini, apalagi dengan dandanan natural di wajah mulusnya. Apa Galvin tidak rugi meninggalkan wanita secantik Ara?


"Ra, sudah menunggu lama?" ucapku berjalan kearah mereka.


"Tidak Ta," jawab nya.


"Ayo," ajak ku mengangkat tubuh Naro.


Ara dan kedua anak nya masuk kedalam mobil.


"Mama," panggil Al dan El bersamaan.


Aku dan Ara terkejut mendengar panggilan Al dan El, begitu juga dengan Nara dan Naro.


"Hiks hiks, Mama," renggek kedua putraku memeluk Ara yang duduk disamping kemudi.


Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal dan tentunya juga malu karena tingkah Al dan El.


"Ehh iya Nak." Ara tampak terkejut namun dia membalas pelukan kedua anakku.


"Mama kemana saja?" ucap Al sambil terisak.


.

__ADS_1


.


.


Sampai dirumah ku, aku segera turun membuka pintu mobil untuk mereka yang ada didalam sana. Al dan El tampak menempel pada Ara. Aku saja sampai malu melihat kedua anakku yang sudah genit diusia belia seperti itu.


"Al, El. Sini sama Papa," ucap ku.


"Tidak mau," tolak keduanya kompak sambil memeluk Ara.


Aku mendesah pelan. Benar-benar kedua anakku ini membuat kepala pusing. Pasti nanti aku akan di goda lagi oleh kedua orang tua ku.


"Tidak apa-apa Ta," sahut Ara tersenyum.


Aku mengangguk lalu membantu Nara keluar dari mobil serta menggendong Naro. Jadi terbalik, Naro lengket dengan ku sedangkan Al dan El lengket pada Ara.


Kami masuk kedalam rumah. Ara mendorong kursi roda Nara dengan Al dan El yang memegang ujung baju Ara, kedua putra kembar ku tampak bahagia dan mengira bahwa Ara adalah mama mereka yang sudah lama mereka tunggu. Aku paham perasaan Al dan El karena memang sejak kecil mereka sudah kehilangan figure seorang Ibu. Pasti sekarang mereka merindukan sosok itu.


"Ara," panggil Mama.


"Tante Jenny," balas Ara.


Mama dan Ara saling berpelukan satu sama lain. Mama memang sudah lama tak bertemu dengan Ara. Mama menyukai Ara sejak kami sama-sama duduk dibangku SMA karena Ada sering datang kerumah untuk mengerjakan tugas kelompok, apalagi Ara salah satu anggota OSIS yang aktif waktu itu.


"Apa kabar kamu, Sayang?" tanya Mama mengecup kening Ara. Apa karena aku tidak memiliki saudara perempuan makanya Mama begitu sayang pada Ara?


"Ara baik Tange. Tante apa kabar juga?" tanya Ara balik.


"Tante baik, Sayang," jawab Mama.


"Tante perkenalkan ini anak-anak Ara, Nara dan Naro," ucap Ara.


"Hai Oma, aku Nara," ucap Nara mencium punggung tangan Mama.


"Naro," ucap Naro juga. Meski Naro ini dingin dan sama seperti ku sifatnya tetapi dia sopan pada orang yang lebih tua dari nya.


"Selamat datang dirumah Oma ya," ucap Mama mengusap kepala Nara dan Naro bersamaan.


"Ya sudah ayo masuk. Dokter Langit dan Senja sudah datang," ajak Mama.

__ADS_1


Aku terdiam sejenak mendengar nama Senja. Dulu aku pernah mencintai wanita tersebut. Nasibnya dan Ara sama. Jika Ara wanita keras kepala yang tegas pada pendiriannya. Maka berbeda dengan Senja yang lemah lembut dan mudah tersentuh hatinya. Senja itu adalah idaman para pria dan Dokter Langit yang memenangkan hatinya.


Bersambung....


__ADS_2