
Aku mengeliat di balik selimut tebal ini. Sejenak aku terduduk untuk mengumpulkan nyawaku yang terbang bersama alam mimpi. Ku lirik jam weker yang sudah menunjukan pukul 5 pagi.
Segera aku turun dari ranjang dan mencuci wajah serta bersiap-siap menyiapkan sarapan pagi untuk suamiku. Aku ingin melayani suamiku seperti Mama melayani Daddy dan anak-anaknya dulu.
Aku keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan pagi dan membersihkan rumah. Aku pencinta kebersihan yang harus mengutamakan pekerjaan rumah karena bagiku kebersihan itu bagian dari iman.
Rumah semewah dan sebesar ini benar-benar tak ada asisten rumah tangga. Mungkin Mas Bintang berpikir karena aku tidak kemana-mana jadi bisa membersihkan rumah tanpa memikirkan pekerjaan yang lain.
Setelah cukup lama berkutat dengan perlahan dapur, akhirnya makananku selesai. Aku tersenyum geli membayangkan ternyata aku sudah menjadi seorang istri dari dokter muda, Mas Bintang. Rasanya masih seperti bermimpi saja, setelah melanjutkan pendidikan S2 sastra Inggris, aku malah fokus mengurus cafe yang ku bangun sejak duduk di bangku kuliah.
"Pagi, Mas. Silakan sarapan," sapaku ramah ketika melihat Mas Bintang yang berjalan kearah meja makan.
Dia menjawab dengan anggukan lalu duduk di kursi meja makan. Aku melayaninya mengambilkan nasi dan makanan kesukaan Mas Bintang. Bunda Senja sudah memberitahuku makanan kesukaan suamiku jadi tanpa dia mengatakannya aku sudah tahu.
"Silakan sarapan, Mas." Lagi dia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
Suamiku sarapan dengan tenang, sementara aku duduk sambil menatap kagum wajah tampannya. Suamiku ini benar-benar tampan dan seorang dokter.
"Kenapa?" Dia melirikku heran saat menatapnya tap berkedip.
"Mas, suka?" tanyaku.
Dia tak menjawab dan menikmati masakanku dalam diam. Hal tersebut membuatku langsung bungkam, tetapi aku tidak akan menyerah. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku karena aku yakin Mas Bintang adalah jodoh yang di kirim Tuhan untukku.
"Jangan berharap terlalu banyak dalam pernikahan ini," ucapnya dingin. "Aku memiliki kekasih, dia baru pulang dari luar negeri. Untuk sementara dia akan tinggal bersama kita."
Deg
Semudah itu Mas Bintang mengatakan ingin mengajak kekasihnya menginap di rumah ini. Apakah dia tahu bahwa ucapannya itu sangat menyakiti hati dan jiwaku? Apakah dia tahu bahwa caranya ini benar-benar ingin membunuhku? Apakah Mas Bintang tahu bahwa sebagai seorang istri aku benar-benar terluka?
Dia membuka dompetnya dan mengambil kartu berwarna hitam disana.
"Ini untukmu dan biaya keperluan rumah," ucapnya menyerahkan kartu itu di depanku.
"Tidak perlu, Mas. Aku punya uang," tolakku mendorong kembali kartu itu.
__ADS_1
"Emang kamu kerja apa?" tanyanya setengah mengejek. Dia tidak tahu apa pekerjaanku, aku memang tidak mengatakan apa yang aku kerjakan.
"Ak_"
Dia langsung berdiri dari duduknya mengambil jas putih kebanggaannya dan menenteng tas kerja yang di yakini berisi peralatan medis. Dia berjalan tanpa menoleh untuk sekedar berpamitan padaku seperti yang sering kulihat jika Daddy berangkat kerja pasti mencium kening Mama. Ku pikir yang sering Daddy lakukan pada Mama akan aku rasakan juga di pernikahanku.
Aku tersenyum kecut, sepertinya aku memang harus menelan pil pahit dalam rumah tangga dan pernikahan yang tak di inginkan ini, secepatnya sadar diri tanpa berimajinasi tinggi.
"Mas Bintang, bagaimana kalau aku sudah jatuh cinta padamu?" gumamku menatap punggung Mas Bintang yang menjauh.
Ku letakkan tangan di atas dada seraya menikmati rasa sakit yang menurihkan luka. Aku ingin menjadi wanita satu-satunya yang ada di kehidupan suamiku seperti Daddy dan Mama. Tetapi, aku harus memahami bahwasanya cinta memang tak selamanya selalu berpihak pada insan lemah sepertiku.
"Papa," lirihku. "Nara sakit hati, Pa," aduku. Tetapi mengadu pada orang yang sudah meninggal percuma, bukan?
.
.
"Pagi, Bu," sapa Lidya, Lidya adalah manager di cafeku. Semua urusan cafe aku serahkan padanya.
"Cie penggantin baru, muka cerah ya, Bu," goda Lidya.
Andai Lidya tahu bahwa penggantin baru ini tengah merasakan luka yang paling dalam di hatinya. Tetapi apa yang bisa dia lakukan selain berserah sepenuhnya pada kehendak takdir.
"Berapa ronde semalam, Bu?" goda Lidya.
"Jangan ngaco kamu, sudah sana. Kembali bekerja," cetusku sambil mengibaskan tangan.
Lidya terkekeh pelan, tak heran aku dan Lidya layaknya seorang saudara. Dia seorang janda anak satu, suaminya abdi negara yang menikah lagi bersama selingkuhannya. Dia memiliki dua orang anak berusia 2 dan 5 tahun yang sekarang di urus oleh kedua orang tua Lidya.
Aku masuk ke dalam ruanganku. Memang tak banyak yang tahu sosok aku yang pemilik Anara Shop ini, karena aku jarang menampilkan wajahku di depan publik.
Ku letakkan tas di atas meja, lalu duduk di kursi kebesaranku. Waktu berjalan teramat singkat, 15 tahun berlalu begitu cepat. Aku tak menyangka jika di usia 25 tahun sudah mendapat gelar sebagai seorang istri. Namun, kebahagian yang ku dambakan seperti perempuan lainnya harus di uji dengan sikap dingin suamiku.
"Kakak."
__ADS_1
Astaga! Shaka masuk ke dalam ruanganku. Dia selalu begini, sebelum berangkat sekolah pasti datang ke cafe untuk meminta uang jajan karena Daddy sedang menghukumnya akibat dia yang suka tawuran di sekolah.
"Ada apa kamu kesini, Dek?" tanyaku menyelidik.
Shaka menyelonong masuk dan duduk di kursi depan mejaku.
"Kak, tadi Shaka lihat Mas Bintang sama seorang perempuan, siapa itu, Kak?" tanya Shaka kepo.
Aku terdiam sejenak, tadi Mas Bintang memang mengatakan jika dia akan membawa kekasihnya menginap di rumah kami untuk sementara waktu. Aku ingin jujur pada Shaka tetapi Mas Bintang sudah memperingatkan agar aku tidak mengatakan pada siapapun kondisi pernikahan kami yang tak di inginkan ini.
"Ah, masa? Salah lihat kali kamu," kilahku.
"Tidak, Kak. Shaka tidak mungkin salah lihat. Itu Mas Bintang." Shaka tetap keukeh mengatakan hal tersebut.
"Iya mungkin teman kerjanya kali," sahutku asal serta menyibukkan diri dengan berkas yang ada di atas meja.
"Kakak baik-baik saja, 'kan?" Shaka menatapku penuh selidik, kami beda ayah dan satu ibu tetapi aku menyanyangi Shaka, Tata dan Naro sepenuh hati. Apalagi sebagai anak paling tua yang mengayomi adik-adik ke jalan yang lebih benar.
"Memangnya kenapa?" Aku memalingkan wajahku jangan sampai Shaka tahu dia tahu bahwa aku tak baik-baik saja.
"Ada apa kamu kesini?" Aku mengalihkan pembicaraan karena aku tak bisa menjawab pertanyaan Shaka.
"Kak, minta jajan." Shaka menengadahkan tangannya.
"Kartu kreditmu mana?"
"Di ambil Daddy," jawab Shaka.
"Makanya kamu itu jangan berulah terus," cetusku.
"Habisnya Daddy keras banget, Kak. Harus mengikuti semua keinginannya," curhat Shaka.
"Daddy itu ingin yang terbaik buat kamu. Supaya kamu jadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara," sarkasku.
Daddy memang tipe orang keras, didikannya pun tak main-main. Meski aku bukan anak kandungnya tetapi dia mendidiku dengan caranya yang menurutku bisa membentuk karakter hingga aku menjadi wanita kuat seperti ini.
__ADS_1
Bersambung.....