
Mira turun dari mobil dengan wajah ditekuk kesal. Dia membanting pintu mobil kuat. Pagi-pagi di ceramahi sang ibu, setelah itu melihat Rick bersama wanita lain. Bagaimana dia tak emosi?
Tidak lama kemudian mohip Rick terparkir di dekat mobil Mira. Rick turun dari mobil dengan tergesa-gesa.
"Mira, tunggu," panggil Rick.
"Ada apa?" cetus wanita itu.
Dia semakin panas ketika melihat seorang wanita keluar dari mobil Rick. Ya dia mengenal wanita itu tetapi tidak dekat karena satu kantor dengan Mira.
"Jangan salah paham," ucap Rick. Wajahnya tampak pucat fasih, dia tidak mau Mira salah paham dan malah menjauhinya lagi nanti. Mereka baru saja memulai untuk saling membuka hati.
"Dih, siapa yang salah paham?" kilah Mira sambil menggelengkan kepalanya.
Wanita itu berjalan mendekati Rick dan Mira yang tengah bicara.
"Urus pacarmu," ucap Mira lalu melenggang pergi.
"Mira," panggil Rick.
Namun, wanita itu berjalan saja tanpa peduli dengan panggilan Rick. Mood-nya pagi ini memang hancur, di tambah lagi melihat Rick bersama orang lain, membuatnya semakin jenggah dan ingin makan manusia.
"Hufh." Mira masuk ke dalam lift sambil menghela nafas panjang. "Belum juga luka lama sembuh, sudah luka lagi," ucapnya menggerutu.
Mira adalah wanita yang terlalu sering di sakiti. Patah hati yang pernah menyiksa sanubari, membuatnya trauma untuk membuka hati. Dia menjadi wanita sensitif terhadap perasaan. Sebab segala sesuatu yang berhubungan dengan hati tak pernah main-main. Berusaha terlihat baik-baik saja seperti tak ada beban, semua itu perlu tenaga yang kuat. Kalau tidak, dia akan di anggap lemah oleh orang lain.
Kembali wanita itu melamun. Bayangan-bayangan penghianatan itu terus berlarian di kepalanya. Hal ini lah yang membuat dia sulit melangkah dan memulai hubungan dengan orang baru karena dia menganggap semua pria itu sama.
Pintu lift terbuka, Mira menuju ruangannya. Sejak Ara menikah dia benar-benar kesepian. Tak ada orang yang bisa menjadi teman sejatinya.
Wanita itu meletakkan tasnya, lalu menghempaskan nafas kasar sebelum menyalakan komputer di depannya. Hidup Mira sekilas rumah dan pekerjaan, menyibukkan diri dan perasaannya dengan tumpukan-tumpukan.
"Selamat pagi Bu Mira," sapa seorang pria paruh baya.
"Pagi," balas Mira.
"Maaf Bu, ini ada kiriman untuk Ibu," ucap pria yang bertugas sebagai kurir tersebut memberikan sebuket bunga dan satu paper bag.
"Apa? Dari siapa?" tanya Mira heran.
__ADS_1
"Saya tidak tahu namanya, Bu. Saya hanya di minta berikan ini kepada Ibu," jawab lelaki itu. "Oh ya, Bu. Silakan tanda tangan serah terima dulu," sambungnya memberikan selembar kertas dan pulpen.
Mira mengangguk lalu membubuhkan tanda tangannya diatas kertas tersebut.
"Kalau begitu saya permisi, Bu," pamitnya.
"Iya, Pak. Terima kasih."
Mira menatap buket bunga tersebut. Dalam hati bertanya-tanya ini dari siapa? Apa dari Rick karena lelaki itu sedang merayunya? Tetapi Mira tidak pernah mengatakan makanan kesukaan dan bunga favorite nya pada Rick, mereka tak sedekat itu sampai dia harus menceritakan tentang dirinya.
"Dari siapa?"
Mira mengambil surat yang terselip di antara buket bunga tersebut. Ada pesan disana.
"Lintang."
Seketika Mira terdiam, apa maksud lelaki itu mengirim bunga dan sarapan padanya sepagi ini? Bahkan mengingat dan menyebut nama lelaki itu saja dia sudah jenggah dan tak suka.
"Dia mau apa lagi mengajak bertemu?" Mira mendesah pelan sambil meletakkan buket tersebut. "Huh, harusnya dia sadar diri karena sudah meninggalkanku. Kenapa sekarang malah mengajak bertemu. Apa maksudnya coba? Apa dia mau mengatakan kalau sejak awal tak mencintaiku?" gerutu Mira bermonolog sendiri. Mengingat luka yang di tanamkan mantan kekasihnya itu membuat dia trauma dengan yang namanya laki-laki.
.
.
"Bu Mira."
Langkah Mira terhenti ketika mendengar ada yang memanggil namanya. Wanita itu menoleh dan wajahnya langsung berubah saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada dingin.
"Ada waktu saya ingin bicara sebentar?" pintanya.
Mira melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Bicara apa?" tanya Mira.
"Tentang Rick," sahut wanita itu.
"Apa?"
__ADS_1
Yani menghela nafas panjang. Dia tidak mau kesalahanpahaman itu membuat hubungan Rick dan Mira terpecah belah hanya karena dirinya.
"Saya dan Rick tidak punya hubungan apa-apa," ucap Yani jujur.
"Kalaupun ada hubungan, apa urusannya sama saya?" Mira geleng-geleng kepala sambil membuang wajahnya ke sembarangan arah, seolah takut jika sekarang dirinya sedang marah dan kecewa.
"Tapi Rick meminta saya menjelaskannya pada Ibu," ujar Yani lagi. Mira diangkat sebagai satu-satunya manager perempuan di perusahaan tersebut. Prestasinya tak main-main sehingga dia memiliki kesempatan untuk naik jabatan.
"Kenapa tidak dia yang jelaskan? Kenapa harus kau yang dia suruh?" tanya Mira geleng-geleng kepala dan tak habis pikir.
"Dia_"
"Saya sudah lapar, maaf. Saya duluan," pamit Mira tanpa mendengar penjelasan Yani.
Mira melenggang pergi. Entahlah dia tidak mau mendengarkan penjelasan siapapun. Lagian kalau Rick dan Yani punya hubungan, bukan Mira. Jadi untuk apa Mira mendengarkan penjelasan dari wanita tersebut.
Mira berjalan dengan langkah lebar. Sesekali dia menghela nafas panjang.
"Huh, Mira. Ayolah jangan memikirkan siapapun," ucap Mira menepis semua perasaannya.
"Heh."
Mira terkejut saat merasakan seseorang menarik tangannya hingga dia terjatuh di dalam pelukan lelaki itu dan membentur dada bidang pria tersebut.
"Rick."
Mata Mira membulat sempurna ketika Brondong tampan ini memeluk dirinya.
"Aku mohon jangan salah paham," ucap Rick mengeratkan pelukannya. "Dia hanya orang di masa lalu dan kami berteman baik tetapi tidak memiliki hubungan. Kami bersahabat sejak kecil," jelas Rick masih memeluk Mira.
Mira terdiam saja, dia tidak membalas atau menolak pelukan lelaki tersebut. Trauma di masa lalu membuat hatinya seperti membeku dan tak percaya pada ucapan-ucapan manis yang keluar dari mulut pria.
"Aku mohon Mira jangan menjauh," pinta Rick. "Kau boleh marah, kau boleh merajuk tetapi jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu."
Deg
Jantung Mira berdegup ketika mendengar ungkapan cinta dari Rick. Wanita itu seperti hilang akal sehatnya. Setelah sekian lama patah hati dalam kesendirian, kini ada seorang pria yang mengatakan cinta padanya.
Rick melepaskan pelukan Mira, dia menangkup wajah wanita yang tingginya hanya sebatas dada tersebut. Sejak pertama kali bertemu dia sudah jatuh cinta pada sosok wanita keras kepala yang trauma karena masa lalunya.
__ADS_1
Rick masih memakai pakaian dinasnya. Bahkan dia tidak datang ke kantor kesatuan dan menunggu Mira di lobby perusahaan sampai jam makan siang. Rick ingin menyusul Mira ke dalam ruangan tetapi dia takut menganggu pekerjaan wanita tersebut.
Bersambung....