Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 06. Istri Kecil Shaka 06.


__ADS_3

"Eits, jangan lupa sama surat perjanjian kita," ucapku mengingatkan.


"Iya, Om. Mana suratnya?" Dia menengadahkan tangannya dan meminta surat itu.


"Masuk ke kamar saya. Suratnya ada di kamar," ucapku membuka pintu kamar.


Dia menyusul masuk. Beberapa kali gadis itu menguap. Aku yakin setelah ini dia langsung tidur tanpa mandi. Kata Mama Lestari, Lea ini gadis ceroboh dan pembalas mandi. Anehnya, kenapa tetap cantik ya? Walau jarang mandi.


"Kamar Om gede amat! Beda sama kamar Lea," serunya menatap dekorasi kamarku.


Kamar minimalis ini memang langsung dengan ruang kerja. Sebab aku kadang suka ketiduran kalau mengerjakan tugas-tugas kantor. Jadi, untuk lebih praktis kamar ini aku jadikan sekalian dengan ruang kerjanya.


Aku tak menanggapi ucapan gadis itu.


"Ini baca!" Aku setengah melempar map tersebut padanya.


"Okey, Om."


Aku duduk di samping gadis yang sudah berstatus istriku itu. Aku bergidik ngeri melihat ranjang yang dipenuhi dengan kelopak bunga berwarna merah dan disusun berbentuk angka love. Ini pasti ulah Kak Tata dan Mama Lestari, sebab mereka berdua yang paling jahil yang berharap aku melakukan malam pertama dengan istriku.


"Kalau mau ada poin tambahan, masukan aja dalam list itu," ucapku memberi dia bolpoin.


"Om, berarti kita nikah cuma setahun ya?" tanyanya.


"Yup." Aku mengangguk.


Dia tampak menghembuskan napasnya kasar. Aku tak bermaksud mempermainkan pernikahan hanya saja, aku benar-benar tak mencintai gadis ini.


"Ada tambahan?"


"Ada, Om!" Dia mengambil bolpoin itu dari tanganku.


"Apa?" Aku melihat apa yang dia tulis di atas kertas tersebut. "Cukup lima juta sebulan?" tanyaku setengah tak percaya.


Aku memang tak menginginkan dia menjadi istriku. Namun, aku memiliki kewajiban untuk menafkahinya.


"Cukup, Om. 'Kan biaya kuliah udah ditanggung sama Om," ujarnya. "Om, Lea gak mau mobil. Lea pakai sepeda motor aja," sambungnya kemudian.

__ADS_1


Aku semakin heran dengan gadis ini. Apa maksudnya tidak mau mobil? Padahal 'kan diberi hadiah mobil adalah impian semua orang, tetapi dia malah menolak dengan alasan tak biasa.


"Kamu yakin mau pakai motor? Bukannya nanti kalau kamu kuliah pakai seragam khusus?" tanyaku.


"Bisa pakai motor matic, Om," jawabnya menutup map tersebut. "Lea udah tandatangan. Sekarang, waktunya balik kamar!" serunya sambil berdiri.


"Iya udah balik sana!" usirku.


"Eh Om, ada asisten rumah tangga, 'kan?" tanyanya kembali berbalik.


"Kenapa emang?" tanyaku menatap penuh selidik.


"Syukur deh, Om. Soalnya Lea gak bisa masak." Dia cenggesan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang mungkin tidak gatal.


"Dih, udah tahu," jawabku ketus.


"Oke deh, Om. Bye bye, selamat tidur Om Suami. Muachhh." Dia mengirimkan ciuman lewat udara dari balik pintu. Gadis aneh.


Setelah dia keluar dari kamar. Aku menghembuskan napas kasar dan menatap surat perjanjian tersebut. Dia hanya menambahkan poin agar yang bulanan dikurangi. Padahal aku memberinya uang bulanan sekitar 10 jutaan setiap bulannya. Benar-benar gadis aneh.


Kusimpan map tersebut di dalam nakas. Aku menatap kecut ranjang yang dipenuhi kelopak bunga itu. Harusnya ini menjadi malam pengantin dan malam pertama untuk kami berdua. Namun, kami memutuskan untuk mengubur impian tersebut lantaran karena kami yang tidak saling mencintai satus sama lainnya.


Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang yang ditaburi kelopak bunga itu. Bayangan Felly masih terngiang di kepalaku. Apa kabar dia sekarang? Apa dia sudah menikah dengan pria yang dijodohkan dengannya tersebut? Atau dia memilih kabur? Karena Felly meminta agar aku membawanya pergi. Namun, aku tak bisa karena bagaimanapun sebagai seorang pria sejati aku menghargai perasaan orang tua Felly dan orang tuaku juga.


"Aku kangen sama kamu, Sayang."


Kuronggoh ponselku lalu mencari-cari galeri foto kami berdua. Aku tersenyum simpul melihat gambarnya tertera di sana.


"Cinta dengan dua Tuhan aja kalah. Lalu apa kabar yang sama sekali gak punya Tuhan?"


Perbedaan agama dan keyakinan membuat aku dan Felly terpaksa mengakhiri kisah cinta yang sudah kami rawat sedekah rupa. Sulit rasanya untuk percaya pada semua ini. Kisah cinta yang kami pupuk dan bangun dengan susah payah harus berakhir di tengah jalan.


Apakah ada yang tahu? Hal yang lebih sakit dari kehilangan seseorang? Bayangkanlah saat seseorang yang di cintai. Dia yang ada di samping. Namun, hatinya tidak pernah benar-benar bisa di miliki.


Rasa bahagia datang ketika perasaan terbalas. Cinta yang dulu dia ucapkan dibalas dengan pengucapan yang sama, dia juga mencintai. Dia sepenuh jiwa berasa di sampingku. Mewujudkan rencana-rencana baik dengannya. Tidak ada orang lain di hatinya. Tidak ada cinta yang memancar di dadanya.


"Sayang, maaf karena aku gak bisa memperjuangkan cinta kita. Aku ingin bertemu kamu. Aku gak mau lepasin kamu!"

__ADS_1


Drt drt drt


Aku segera menatap layar ponsel itu. Lalu ku geser layar hijau di sana.


"Sayang!" Aku langsung terduduk. Jantungku selalu berdebar setiap kali melihat nama Felly yang tertera di dalam layar.


"Mas." Terdengar suara Felly yang menangis di dalam sana.


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa nangis?" tanyaku panik.


"Mas, aku gak mau nikah sama orang lain. Mau nya nikah sama Mas," renggeknya.


Aku menahan sesak di dalam dadaku ketika mendengar ucapan Felly. Sama, aku juga tak mau menikah dengan orang lain. Aku hanya ingin menikahi–Felly, wanita yang aku cintai sepenuh hati.


"Sayang," lirihku.


"Aku gak mau nikah sama dia, Mas." Tangis Felly terdengar pecah di dalam sana.


"Sayang, kamu di mana sekarang?" tanyaku.


"Aku ada di rumah Abi sama Umi, Mas. Malam ini ada cara lamaran di rumah," jawabnya.


"Iya udah Mas ke sana."


Aku segera bangkit dari tempat tidur melepaskan tuxedo dan kemeja yang melapisi bagian tubuhku. Lalu mengambil kaos oblong tanpa berganti celana.


Aku keluar dari kamar dengan langkah tergesa-gesa. Bagaimanapun aku harus membawa Felly pergi dari rumahnya. Dia tidak boleh menikah dengan laki-laki lain. Namun, jika Felly bahagia maka aku akan melepaskan, tetapi mendengar tangis Felly aku semakin yakin keputusan untuk melepaskannya adalah hal yang salah.


"Mau ke mana, Om?" Langkahku seketika terhenti ketika mendengar pertanyaan Lea.


Aku menoleh ke arah istri kecilku itu. Kenapa aku merasa bersalah? Di malam pengantin yang seharusnya menjadi hal paling bersejarah dalam kehidupan pernikahan kami, tetapi justru menjadi malam kelabu yang menyayat hati.


"Kenapa diam, Om?"


Dia sibuk menyantap makanan di atas meja. Kakinya dinaikan sebelah. Cara makanya benar-benar wanita tomboi.


"Saya mau keluar sebentar!" ucapku.

__ADS_1


Rasanya lidahku kelu untuk mengatakan yang sebenarnya. Walau aku sama sekali tidak mencintainya, tetapi dia istriku dan aku tak ingin menyakiti hatinya.


"Wajah Om panik amat! Mau nemuin dokter cantik itu ya, Om? Iya udah sana, Om. Takut entar dia nungguin Om lagi!"


__ADS_2