
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Hari ini adalah hari yang akan menjadi sejarah dalam hidupku. Hari yang paling buruk setelah 28 tahun aku menjadi salah satu penghuni bumi. Hari yang tak pernah ku bayangkan akan terjadi. Hati yang begitu menyakitkan dan meremukkan seluruh dada.
"Kamu siap?" tanya Divta tersenyum padaku.
"Ta," panggilku dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu bisa lewati ini. Semua akan baik-baik saja," ucap Divta mengelus bahuku. "Demi anak-anak kamu," sambung Divta.
Aku melirik Nara dan Naro yang sudah masuk kedalam mobil Divta dan menunggu disana bersama Kak Dea dan Henny. Ada Mas Bayu juga yang akan menghadiri sidang perceraian kami hari ini.
"Aku kasihan sama Nara, Ta," ucapku lirih. Aku masih berdiri disamping mobil. Kaki ku sulit sekali melangkah masuk.
"Dia anak yang kuat," sahut Divta.
Aku tahu anakku, anak yang kuat. Tapi hatinya pasti akan sangat rapuh, sebab perpisahan tak pernah benar-benar berakhir bahagia.
"Ya sudah ayo, mereka sudah menunggu," ajak Divta merangkul bahu ku lalu membuka pintu mobil agar aku bisa masuk.
Divta seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan ku dari rasa sakit. Meski kami tak ada hubungan apa-apa. Tapi Divta sangat peduli dan selalu siap menjadi tempatku berbagi kala lelah menyerang dada.
Aku masuk kedalam mobil dan duduk disamping kemudi. Sedangkan Divta menyetir. Dibangku bekalang ada Mas Bayu dan Kak Dea yahh memangku Nara dan Naro. Dibagian belakang lagi ada Henny yang sudah duduk dengan nyaman.
Aku bersyukur dalam keadaan seperti ini banyak yang mendukung ku dan menemani aku melewati segala kesulitan yang menghalangi jalan ku.
Aku duduk dengan tatapan kosong. Pernikahan yang ku idamkan kini harus berakhir di meja hijau. Pernikahan harmonis yang tak pernah terdengar pertengkaran hebat didalam nya, malah kandas ditengah jalan. Benar kata pepatah, ada yang rusuh setiap hari berakhir saling memeluk erat. Ada yang manis sekali, diam-diam atur rencana lalu perlahan menghilang tiba-tiba.
__ADS_1
Mobil Divta terparkir didepan kantor pengadilan agama. Jantungku berdebar kian kencang. Tak sengaja kulihat Mas Galvin juga baru datang bersama ibu dan ayah mertua serta istri barunya.
"Kuatkan aku, Tuhan," gumamku.
Sial, kenapa mataku kabur dan pipiku sangat panas. Apakah aku akan menangis sekarang? Tidak. Tidak, jika aku menangis, itu akan menunjukkan bahwa aku perempuan lemah. Aku bukan perempuan lemah. Aku wanita kuat. Aku hanya terbiasa dengan Mas Galvin bukan tanpa bisa hidup tanpa nya.
"Papa," lirih Nara.
Setiap kali mendengar lirihan Nara, seperti sayatan yang mengoyak hatiku dengan kuat. Aku tak hebat dalam hal menahan rasa sakit. Namun, ketika suara Nara hajh terdengar begitu lirih membuat hatiku mencelos sakit
"Ayo turun," ajak Mas Bayu.
Kursi roda Nara dikeluarkan dari bagasi mobil. Nara tidak bisa berjalan beberapa tulang kakinya patah akibat benturan keras saat kecelakaan. Aku tak bisa bayangkan bagaimana sedihnya perasaan anakku? Dia masih kecil tapi sudah harus menghadapi banyak kenyataan. Kedua orang tua nya berpisah ditambah lagi dengan kaki nya yang lumpuh, semua itu sangat menyakiti tubuh kecilnya.
"Ayo masuk," ajak Divta.
Mas Bayu mendorong kursi roda Nara. Sedangkan Divta menggendong Naro. Dan aku, dipapah oleh Kak Dea dan Henny. Kaki ku terasa sulit di langkahkan.
Para hakim dan para saksi sudah mengambil tempat mereka masing-masing. Aku duduk dikursi depan bersama Mas Galvin.
"Baiklah persidangan akan segera di mulai," ucap hakim.
Sebelum persidangan dimulai, salah satu hakim memimpin doa. Aku sekuat tenaga menahan air mata yang akan terjatuh. Jari-jari ku saling meremas untuk mencari kekuatan.
Persidangan di mulai. Semua berjalan lancar. Mas Galvin terlihat tenang, begitu pun dengan aku. Yang terdengar tangis Nara, karena dia memang menolak berpisah dengan papa nya. Namun, apa yang bisa dilakukan perpisahan kali ini tak bisa lagi dihindari.
"Ra," panggil Mas Galvin.
"Selamat berpisah Mas. Terima kasih untuk sebelas tahun nya. Maaf belum bisa menjadi istri yang buat, Mas. Maaf selalu merepotkan mu dalam segala hal. Aku berharap Mas bahagia bersama Lusia. Aku tidak melarang Mas bertemu anak-anak, kapan saja Mas merindukan mereka. Temuilah mereka. Sampai bertemu di titik terbaik menurut takdir Mas," ucap ku menyalami tangannya untuk terakhir kali.
Mas Galvin menarikku kedalam pelukannya. Aku tak membalas namun tak juga menolak.
__ADS_1
"Maafkan Mas, Ra. Maafkan Mas," ucapnya terisak seraya memelukku erat.
Maaf adalah kata-kata yang tak ingin ku dengar. Semua percuma karena sekarang perpisahan takkan bisa dihindari lagi.
Aku melepaskan pelukan Mas Galvin. Aku mencoba tersenyum getir. Mencoba menutupi luka yang menyayat didalam sana.
"Lupakanlah Mas. Aku sudah memaafkan Mas," sahutku.
Ya aku sudah memaafkan nya. Aku tak mau menanam dendam dan kebencian dihati ku. Sudah cukup, aku ingin bahagia setelah ini.
"Papa," panggil Nara.
"Nara," ucap Mas Galvin.
Mas Galvin berhambur kearah Nara. Apa dia akan terluka melihat kondisi anak nya?
"Papa," tangis Nara pecah. "Nara kangen sama Papa? Kenapa Papa tidak menjengguk Nara, Pa?" isakkan Nara terdengar menggema
Kulihat ibu dan Lusia tampak cemberut. Bahkan tanpa sengaja tatapan ku dan Lusia bertemu. Dia tersenyum mengejek kearahku, sudah ku duga dia menutupi kejahatan nya melalui wajah polos itu. Tapi tak apa, aku sama sekali tidak terpengaruh. Toh, aku sudah tak peduli pada Mas Galvin.
"Maafkan Papa, Nak," ucap Mas Galvin penuh penyesalan. Entahlah, apakah dia menyesal atau tidak.
Sebenarnya Mas Galvin beberapa kali menolak perceraian ini. Akan tetapi aku sudah tak tahan. Istri mana yang sanggup dipoligami oleh suaminya sendiri. Jika Mas Galvin adil terhadap aku dan anak-anak, tak masalah. Tapi kenyataannya dia lebih mementingkan Lusia daripada Nara dan Naro yang terbaring lemah di rumah sakit. Bahkan sedikit uang pun Mas Galvin tidak keluarkan untuk biaya rumah sakit kedua anaknya.
Aku tahu Mas Galvin memiliki banyak uang. Gaji nya lumayan besar dan cukup untuk kebutuhan hidup. Namun, seperti nya hidup Mas Galvin sudah di kontrol oleh anak dan istrinya. Aku bersyukur sudah lepas dari jeratan mertua ku, setidaknya setelah ini. Aku cukup memikirkan mencari pekerjaan dan menghidupi kedua anakku.
"Papa kenapa pisah sama Mama?" tanya Nara menyeka air matanya.
Mas Galvin tak menjadi. Aku yakin dia bingung mau jawab apa. Ini semua salahnya. Dia yang menciptakan rasa sakit itu dikehidupan rumah tangga kami.
"Naro," panggil Mas Galvin yang digendong Divta.
__ADS_1
Namun, Naro tak menjawab. Anakku yang satu itu makin memeluk erat leher Divta tanpa melihat Papa nya.
Bersambung.......